
Kalau boleh jujur jika bukan karena Kepala Pelayan dia sana sekali tak akan pernah tau kalau Pengurus Rumah Tangga begitu busuk.
__________
Sehingga dia cukup bersyukur masih memiliki orang jujur di dalam Mension yang luar biasa kacau, dia juga harus berterima kasih ke pada Kepala Pelayan berkatnya yang selalu mengurus para Pelayan dengan baik, kini dia bisa memastikan bahwa Pelayan di Mension ini sangat baik.
Tentu saja dia tak bisa mempercayai Kepala Pelayan begitu saja, sebelum ini dia sudah menyuruh Diana untuk menyelidikinya untuk seorang penyihir seperti Diana memanipulasi pikiran seseorang cukup mudah.
"Dan untuk kepala Koki aku ingin berterima kasih makanan nya sangat enak aku harap kamu bisa terus bekerja dengan baik, jika ada suatu hal yang kurang kamu bisa memberi tahu Kepala Pelayan yang mungkin sekarang akan naik jabatan menjadi Pengurus Rumah Tangga"ucap Melody dengan senyum cerah.
Ucapan Melody itu membuat Kepala Pelayan sangat terkejut.
"Yang Mulia!, saya sama sekali tak pantas untuk posisi itu, saya sama sekali tak berpengalaman, mungkin jika itu nona Diana dia akan lebih baik dari saya"ucap Kepala Pelayan merekomendasikan Diana sebagai Pengurus Rumah Tangga.
"Diana?, kenapa kamu merasa dia lebih cocok?"tanya Melody penasaran.
"Nona Diana sangat kompeten selain itu beliau juga sangat pintar dan cerdas, beliau seperti sudah memiliki banyak pengalaman dalam mengurus suatu Rumah Tangga, lagi pula saya ingin melayani Yang Mulia selama saya masih hidup"ucap Kepala Pelayan dengan tulus.
Melody yang melihat ketulusan dari Kepala Pelayan hanya tersenyum dia bersyukur bahwa masih ada orang yang normal di Mension ini.
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan, kamu bisa selalu melayani ku"ucap Melody sambil menulis sebuah surat dan menyegelnya dengan segel Duchess Utara.
"Serahkan surat ini kepada Diana"ucap Melody sambil menyerahkan surat itu ke pada Kepala Pelayan.
Isi surat iti adalah pernyataan bahwa Diana akan menjadi Pengurus Rumah Tangga, sangat di sayangkan sebetulnya bahwa tak bisa di adakan pengangkatan secara resmi tapi mau bagimana lagi untuk hari ini kedepan mungkin saja dia tidak akan bertemu dengan Diana untuk sementara waktu.
"Baik Yang Mulia"ucap Kepala Pelayan dan segera pergi dari sana menyisakan Melody dengan kepala koki.
"Kepala Koki apa kamu bisa membuat beberapa makanan seperti kemarin itu kue itu, sangat enak aku ingin memakan nya lagi"ucap Melody sambil malu-malu, rasanya imej yang akan dia bangun sebagai Duchess hancur seketika karena sebuah kue, siapa suruh kue itu sangat enak.
"Yang Mulia Duchess apa menyukai kue buatan saya, saya sangat senang, tenang saja Yang Mulia saya akan buatkan secepat mungkin"ucap Kepala Koki dengan senyum cerah.
__ADS_1
Sudah lama dia tak mendapat pujian seperti ini Duke sebelumnya juga adalah orang yang begitu dingin jadi beliau sama sekali tak pernah memberi pujian.
"Kalau begitu saya pamit undur diri Yang Mulia"ucap sang koki pergi meninggal kan Melody di dalam ruangan dengan wajah yang masih memerah karena malu.
"Ugh, rasanya mau mati"ucap Melody sambil mengubur wajah nya di lengannya.
Dia tak percaya dia melakukan itu meminta tolong seseorang bahkan di kehidupan sebelumnya dia tak pernah melakukan itu, atau mungkin pernah hanya saja dia lupa.
Tok
Tok
Tok
"Yang Mulia"
Sebuah suara kini membuat Melody tersadar kembali, sehingga dengan cepat dia memasang wajah serta postur yang sangat berwibawa.
Kriett~
"Yang Mulia semua berkasnya disini"ucap Devian sambil memberi hormat sesuai etika bangsawan.
"Baiklah taruh saja di sana, dan cepatlah duduk bantu aku"ucap Melody.
"!!, maksud Yang Mulia, Yang Mulia menyuruh saya mengerjakan, ah tidak maksud saya Yang Mulia menyuruh saya mengoreksi semua berkas-berkas itu??!"ucap Devian kaget dia tak menyangka bahwa niat baiknya akan di gunakan dengan sangat baik, untuk Melody dan sangat menyiksa baginya.
"Tentu saja~~"ucap Melody dengan senyum cerah, bahkan bunga-bunga kini bertebaran di sekelilingnya.
Tak terasa kini Devian menjadi kaku, apa sekarang masih ada waktu untuk kabur?.
Devian bervikir bahwa akan lebih baik jika dia kabur saja.
__ADS_1
"Jangan berfikir untuk pergi, bukannya kamu mau membantu?"ucap Melody dengan senyum yang mengerikan membuat Devian secara tak sadar bergetar bagikan seekor kelinci di depan seorang singa.
"Hik!, aku tak berniat kabur kok"jawab Devian yang tentu saja itu bohong pasalnya dia sebenarnya hingga saat ini pun ingin kabur sekarang juga.
Akhirnya dengan terpaksa Devian duduk di sebuah kuris, di depannya terdapat meja yang di atasnya memiliki banyak sekali berkas, seingatnya meja ini belum ada tadi mungkin Melody segera menambahkannya saat dia bilang akan membantu.
Dengan cemberut Devian mulai memegang kuas serta sebuah berkas dan membacanya dengan teliti.
Melody yang melihat Devian sudah mulai bekerja akhirnya kembali mengerjakan milikknya sendiri.
Namun tak berselang lama Devian bangkit dari duduknya dan mengambil berkas baru untuk di kerjakan, hal itu membuat Melody terkejut dan akhirnya secara diam-diam Melody mengeintip ke arah Devian.
Betapa terkejutnya Melody saat melihat Devian mengerjakan setiap berkas yang ada dengan kecepatan luar biasa yang membuat Melody terbengong, pasalnya kecepatan itu tak manusiawi.
Devian yang sadar sedang di perhatikan hanya tersenyum bangga kearah Melody, senyum itu entah kenapa terasa begitu menyebalkan di mata Melody namun menurut Melody senyum itu juga tak salah, lagi pula ada hal yang dia banggakan.
"Devian, bagimana kamu bisa mengerjakan semua itu dengan cepat?"tanya Melody penasaran.
"Itu, karena aku putra Duke satu-satunya maka secara otomatis aku adalah pewaris Duchy, jadi dari kecil aku sudah di latih untuk melakukan itu semua, bahkan saat di medan perang pun si tua bangka itu tak melepaskan ku"ucap Devian dengan wajah kesal sambil mengenggam erat kuasnya.
Entah kenapa saat Devian mengingatnya itu membuat Devian ingin sekali memukul Duke Milian ayah nya sendiri, mana ada seseorang yang sedang perang di suruh belajar?!.
Sepertinya itu hanya dia saja!, sangat tak adil.
Melody yang melihat bahwa Devian sangat kesal seketika paham seperti apa penderitaan yang di hadapi Devian.
Itu sama saja sepertinya yang dulu harus bekerja sambil belajar untuk mendapatkan nilai sempurna demi mempertahankan beasiswa, tentu saja yang dia lakukan lebih baik dari pada Devian namun setidaknya mereka hampir sama bukan?
"Ada hal yang membuatku penasaran"ucap Melody.
"Apa itu Yang Mulia"tanya Devian.
__ADS_1
"Dari kapan kamu berperang?"tanya Melody yang membuat Devian menjadi kaku sejanak.