Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 105 Mulai (4) Serangan malam


__ADS_3

Rexid yang melihat suasana begitu haru bagi mereka bertiga bahkan tanpa memberi cela siap saja untuk menyela kini memberi isyarat diam ke oada ketiga Kesatria di sana untuk segera keluar dari rungan itu dan meninggalkan mereka bertiga melepas rindu.


Ketiganya yang paman maksud dari Rexid segara saja mundur dengan tenang ya tentu saja kecuali Sir Gio yang mendengus sebelum dengan patuh juga pergu dari sana mengikuti yang lainnya.


"Yang Mulia apa anda baik-baik saja di sana seorang diri?"tanya Delice di sela-sela pelukannya dengan sedih.


"Aku baik-baik saja Delice di sana aku bahkan bertemu beberapa orang yang sulit untuk di lupakan"ujar Melody.


"Apakah benar?, aku jadi penasaran seperti apa orang-orang itu hingga membuat Yang Mulia begitu betah untuk di sana dengan cukup lama"ujar Delice.


"Sebenarnya aku tak terlalu betah di sana, tapi memang orang-orang yang ku temui di sana sangat membuat nyaman dan rindu, sayangan bahkan jika aku kembali sudah tak ada jaminan lagi aku bisa bertemu dengan mereka, yah apa boleh buat, tidak ada mereka aku masih punya kalian dan aku pasti bisa melupakan mereka cepat atau lambat"ujar Melody dengan tenang.


Tak!


"Ach!"teriak Melody sambil mengelus keningnya yang sakit.


Sebuah sentilan kini baru saja mendarat di keningnya siapa lagi pelakunya jika kalau bukan Delice.


"Ah!, kenapa kamu menyentil keningku ini sakit!, kau seperti menggunakan tenaga dalam!"gerutu Melody tak terima.


"Siapa suruh Yang Mulia berkata seperti itu dengan begitu santainya?, itu tak normal Yang Mulia!, sebenarnya siapa yang mengajari anda untuk jadi seperti ini?!, awas saja jika aku tau siapa orangnya akan ku hajar dia, dan juga jangan ulangi lagi!"seru Delice kesal.


"Benar Yang Mulia bagiamana jika saja teman-teman anda yang di sana mendengarnya saya yakin bahwa mereka pasti akan sangat sedih dan kecewa dengan Yang Mulia, jadi jangan pernah berniat melupakan mereka walaupun mereka tak ada di sini tapi tetap saja mereka teman-teman anda"ujar Diana dalam mide ceramah.


Melody hanya memanyukan bibirnya ke depan, ini adalah pertama kalinya di mendengar ceramah dari keduanya di tambah keperibadian Delice yang dingin dan irit bicara serta pemalas itu.


"Cih!, baiklah aku tak akan melupakan mereka, dan lagi pula benar kata mu Diana mereka mungkin saja bisa mendengar ku karena mereka sudah mati"ujar Melody lagi, entahlah tapi Melody kini berfikir untuk membuat tugu bagi pamam Wage, Kapten yang sama sekali tidak dia tau namanya serta para awak Kapal yang sudah merawatnya di sana, ide yang cukup bagus tapi sepertinya ini akan menambah pekerjaan.


"Bagus Yang Mulia"ujar Diana sambil bersenyum dengan tangan yang mengelus kepala Melody.


Melody yang mendapatkan perlakuan ini cukup terkejut, ini adalah pertama kalinya seseorang mengelus kepalanya, entahnya mungkin dulu pernah tapi dia lupa?.


Rasanya nyaman dan hangat, sangat bagus!.


"Baiklah kalau begitu kita harus segara keluar, Pangeran Rexid dan yang lainnya aku yakin sudah menunggu di luar dengan tak sabar"ujar Delice sebelum berdiri di ikuti oleh Diana dan Melody.

__ADS_1


Melody menepuk bajunya terlebih dahulu begitu juga dengan yang lainnya sebelum merapikan baju mereka dengan benar, Melody bahkan membantu Delice menata kerah bajunya yang tak rapi sungguh dia malh terlihat seperti maid dari pada Duchess.


Apa lagi dia juga membantu Diana untuk membersihkan bagian belakang gaunnya yang kotor.


"Sudah ayo keluar"ujar Melody dan mendahului semuanya.


Sementara itu di tengah hutan yang akat lebat tepatnya rombongan Duke Milian, Sri Alex dan Sir Devian kini mereka tengah beristirahat.


"Huh!, berapa lama lagi ini akan sampai?"tanya Devian dia cukup bosan di sini dan dia juga berfikir bahwa mungkin setelah dia sampai di Duchy Salvier nanti dia akan memiliki begitu banyak berkas yang harus dia kerjakan.


Berkas Duchy, kemudian latihan Kesatria, di tambah dia juga harus melakukan kewajiban sebagai Duke Muda di tambah dia juga harus mengawasi Kekaisaran dari pihak luar sangat membebaninya.


Rasanya dia sangat ingin pensiun!.


"Ah si4l!, kenapa aku jadi berfikir seperti Yang Mulia yang selalu saja ingin pensiun!?"gumam Devian merasa konyol dia jadi teringat dengan Melody yang selalu meneriakkan kalimat itu saat sedang bekerja di kantornya.


Tapi kalau di pikir bukan hanya Yang Mulia Melody saja yang selalu berkata seperti itu, contohnya Kaisar, serta Pangeran ke-3, yah dia rasa itu semua adalah gen yang di turunkan.


Tapi tetap saja sebarapa keras pun mereka mengatakan akan pensiun namun tetap saja mereka melakukan pekerjaan mereka dengan amat baik dan sabar, ah tidak kata sabar sepertinya harus di hilangkan bukan?.


"Sir apa yang sedang kau lamunkan?"tanya seseorang yang tiba-tiba saja duduk di sampingnya.


Devian yang sedang melamun cukup tersenyak dirinya bahkan sama sekali tak sadar bahwa dirinya baru saja melamun


"Ah!, tidak bukan begitu, aku sama sekali tidak melamun kok"jawab Devian canggung serta terkesan terburu-buru.


Sir Alex yang menatap Sir Devian hanya bisa menghela nafas sebelum berkata.


"Apa kau sedang berfikir tentang Yang Mulia Melody?"


Tak.


Tepat sasaran!


Devian yang seperti tertangkap basah kini berusaha mengelak sebisanya.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan?!, aku sama sekali tak pernah berfikir tentang Yang Mulia!"elaknya buru-buru.


Melihat reaksi Devian Sir Alex hanya bisa tersenyum tipis.


"Baiklah kamu tak memikirkan dia"ujar Sir Alex yang kemudian tertawa sambil merangkul Devian.


Devian yang merasa seperti di tertawakan kesal dan mulai pergi dari sana meninggalkan Sir Alex seorang diri yang masih saja tertawa bahkan sampai sepeninggalan Devian.


Dari kejauhan Duke Milian yang memperhatikan itu hanya bisa tersenyum maklum rasanya senang juga melihat anaknya kesal seperti itu.


Susana malam itu sangat lah menyenangkan sebelum tiba-tiba saja ribuan anak panah kini menghujani perkemahan itu.


Tentu saja serangan tiba-tiba itu membuat semuanya panik apa lagi Sir Devian serta Sir Alex yang dalam kecepatan cahaya sudah ada mengelilingi Duke Milian dan memblokir semua serangan itu.


Syuttt~!


Syutt~!


Syutt~!


Bebarapa Pengawal, dan Prajurit yang tak siap kini tumbang dan membuat teriakan menggema dia dalam hutan.


"Arghh!"


"Arh!


Trang!


Tang!


Tak!


Trang!


Tentu saja jangan lupakan Duke Milian dia juga kini sudah memegang pedang di tangannya, jangan lupakan bahwa saat muda pun dia di latih dengan sama kerasnya seperti Devian jadi jangan heran jika dia sangat licah menggunakan pedang.

__ADS_1


__ADS_2