Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 77 Pertarungan di tengah lautan


__ADS_3

Para bandit yang tak menemukan Melody berada di tengah-tengah mereka kini berbalik dan menyerang Melody kembali namun siapa itu Melody?.


Jangankan bertarung, dimensi lain pun dia terobos!!.


Para bandit kini segera saja mengarahkan pedang mereka kearah Melody yang dengan mudah bisa di tangkis oleh Melody dengan cepat.


Trang!


Trang!


Trang!


Trang!


Tang!


Tang!


Buak!


Satu pukulan kini di layangkan oleh Melody di dagu salah satu dari mereka membuat orang tersebut terbang dan menghantam kapal mereka sendiri dan membuat kapal itu hancur seketika.


Brakk!!


"Ugh!"orang tersebut kini memegangi dadanya dengan darah yang mengalir dari mulutnya sebelum diam tak bergerak pingsan.


Menahan serangan dari salah satu dari mereka Melody sengaja menangkisnya dan membuat pedang tersebut terpental jauh dan akhirnya masuk ke dalam air.


Karena kehilangan pedangnya bandit tersebut menyerang dengan tangan kosong, namun dengan mudahnya melody menangkap pukulan orang tersebut.


Krak!


"Arghhh!!"teriak bandit tersebut saat Melody memelintir tangan orang tersebut dan menendangnya hingga jatuh ke dalam lautan lantaran kehilangan keseimbangannya.


Byurrr!!!


Tidak sampai di situ Melody juga langsung menendang beberapa dari mereka yang berlari kearahnya sambil mengarahkan pedang.


Buakh!


Bugh!


Bughk!

__ADS_1


Buak!


Siapa yang menyangka bahwa tendangan itu bukan tendangan biasa tapi justru semua yang terkena serangan darinya langsung terbang jauh kearah prahu mereka dan langsung menghancurkan prahu milik mereka sendiri.


Brakkkkkk!!!


Bahkan hingga beberapa teman dari mereka yang masih dia atas prahu terpaksa tenggelam lantaran mereka belum bisa berjalan di atas air.


"Ahhhaaahhhh!!"teriak dari mereka semua yang kini mulai tenggelam satu persatu.


Ketua bandit yang melihat itu cukup marah pasalnya hanya dengan menyerang satu orang sekitar 10 kapalnya sudah tenggelam bahkan anak buahnya juga banyak yang berkurang dan mati tenggelam.


"Apa yang kalian lakukan!, serang dia bersama!"teriak ketua itu mulai murka.


Semua bandit yang mendengar itu segera saja mengangkat pedang mereka dan berlari kearah Melody bahkan dari mereka yang tak bisa berjalan di atas air kini terbang menggunkaan ilmu peringan tubuh mereka untuk menyerang Melody dari atas.


Bahkan ketua bandit juga berlari kearahnya, Melody yang di serang dari berbagai arah kini mencengkram pedangnya erat, memutar tubuhnya angin besar segera saja menerbangkan semua yang menyerang kearahnya.


"Arghhhhhh!!!"


Teriak mereka semua yang kini terpental jauh, mereka yang tak bisa berdiri di atas air segera saja tenggelam di lautan sedangan dari mereka yang bisa berdiri di atas air beberapa dari mereka memang bisa mempertahankan hal tersebut namun tak sedikit dari mereka juga yang terjun ke lautan dengan bebas.


Namun tetap saja walaupun jumlah mereka kurang dari 10 orang termasuk dari ketua mereka, mereka masih saja tak mau menyerah dan masih saja berlari kearah Melody namun kali ini mereka mengeluarkan ilmu tenaga dalam mereka.


Aura hitam, maupun putih kini terlihat dari pedang mereka masing-masing, aura hitam menandakan bahwa orang tersebut berada di aliran ilmu hitam dan putih adalah sebaliknya.


"Tak ku sangka ternyata dari kalian ada pendekar aliran putih ya, yah siapa juga yang tau hitam tak selalu hitam begitu juga putih tak selalu putih"ujar Melody menatap mereka semua.


Kini aliran aingin berputar lebih kencang di sekitar Melody, membuat lautan yang ada di bawa Melody air nya kini mulai tak terkondisikan.


Bukan hanya itu saja bahkan air di lautan kini mulai berkecambuk dan mulai terangkat ke atas membentuk sebuah bunga teratai, jangan salahkan dia kenapa airnya membentuk bunga teratai, dia hanya sedang menyesuaikan diri dan meniru hal-hal yang pernah dia baca di novel wuxia, dia hanya ingin terlihat keren sedikit.


"Ayo mulai"ujar Melody dan segera saja mengangkat pedangnya di depan dadanya.


Air kini mengeliling dirinya seakan-akan memberikan perlindungan.


Secepat kilat kini semua bandit segera saja bergerak kearah Melody, begitu pula dengan Melody yang dengan cepat bergerak kearah mereka dan menebas mereka hingga mati, bebarapa dari bandit di serang oleh air-air yang entah sejak kapan menjadi begitu tajam.


Syyuuhhhhh~~


Buaarrrrrr!!


Bum!

__ADS_1


Bum!


Jleb!


Jleb!


Bummmm!


"Arghhh!!"


"Aghhh!"


Dalam sekejap mata semua bandit kini mati dengan cara mengenaskan di mana mereka tertusuk oleh air serta tercabik-cabik akan bilah angin, lautan yang tadinya sangat bersih kini berwarna merah, hal itu bisa di lihat akibat dari cahaya yang masih saja bersinar dari Melody.


Kini semuanya sudah mati hanya tersisa Melody dan ketua bandit yang menatap marah kearah Melody.


Dia terlihat sangat galak sekali, namun Melody hanya menanggapi dengan tatapan datar.


"Beraninya kamu!"ujar Ketua bandit tersebut geram dan segera saja berlari kearah Melody namun saat ujung pedangnya hendak mengenai Melody dia berhenti dengan darah yang mengalir dari mulutnya.


Ketua bandit kini melihat kebawah di mana di perutnya kini sebuah pedang air sudah menancap dan menembus dari perut hingga punggung.


"Eghh, eghh, kamu_"ucapnya sebelum gugur dan tenggelam di dasar lautan.


Melody hanya menatap itu datar dan segera saja terbang menuju bibir pantai, menemui gerombilan para awak kapal, kapten serta paman Wage.


Melihat Melody mendarat dengan mulus di bibir pantai.


Paman Wage dan yang lainnya yang melihat Melody segera berlari menghampiri Melody.


"Nak kamu baik-baik saja?"tanya paman Wage khawatir.


"Aku baik-baik saja, tenanglah paman"jawab Melody dengan senyum.


"Syukurlah"ujar paman Wage menghela nafas lega begitu pun dengan yang lainnya.


"Sekarang bagaimana?"tanya sang Kapten bertanya kepada Melody.


"Sebenarnya aku ingin langsung pergi lurus ke utara saja tapi karena sudah terlanjur di sini kita bisa berkeliling sebentar di sekitar sini"ujar Melody.


Yah, dia bisa sekalian mencari kapal baru untuk perjalanan selanjutnya, sebenarnya dia bisa memakai cara pertama yaitu telepor namun dia tak mungkin meninggalkan paman-paman ini di sini dan jika dia melakukan telepor dengan mereka semua dia akan menghabiskan banyak mana untuk itu.


Apa lagi berdasarkan kondisi benua timur saat ini mereka masih banyak yang berfikir tradisional dan tentu saja hal mistis masih merupakan hal wajar, jadi setidaknya dia harus memiliki energi jika saja tiba-tiba ada pertarungan mendadak diantara dia serta orang-orang pada zaman ini.

__ADS_1


"Yah, itu memang ide paling baik, kita bisa berkeliling di sekitar dan mencari kapal yang cocok untuk perjalanan selanjutnya, aku harap aku bisa menemukan kapal yang cocok untuk perjalanan jauh, aku harap di sini ada kapal dengan kualitas baik"ucap sang Kapten.


Semuanya hanya mengangguk dan segera saja pergi dari sana menuju desa terdekat yang bisa terlihat dari kejauhan.


__ADS_2