Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 145


__ADS_3

Devian yang mendengar itu tersenyum dan segera saja membuka kantong yang ada di bajunya dan memasukan satu butir obat ke dalamnya.


Dia tak bohong jika itu vitamin tapi itu akan membuat ramuan itu bertambah pahit dia tak sabar melihat wajah tersiksa milik Melody pasti menyenangkan untuk melihatnya seperti itu.


"Hehehe"


Sir Gio yang melihat itu hanya menatap datar.


"Mulai lagi aku harap ramuan itu masih bisa di minum"ujar Sir Gio merasa kasian dengan Duchess yang sebentar lagi akan jadi korban kejahatan dan kejahilan Devian.


"Maaf Sir apa kalian melihat Duchess?"tanya Sir Galon yang baru saja datang.


Sir Gio yang melihat itu menatap ke arah Sir Galon dan melihat orang asing yang sepertinya sedang di tuntung ke suatu tempat oleh Sir Galon.


"Buat apa mencarinya apa ada hal penting yang harus di sampaikan?"tanya Sir Gio.


"Anu Marques ingin bertemu dengan Duchesa beliau sudah jauh-jauh dan pagi-pagi ke sini tapi beliau sama sekali tak bisa bertemu dengan Duchess bahkan setelah menunggu lama di kantornya"jelas Sir Galon.


Mendengar hal tersebut dengan aba-aba tangan Sir Gio menyuruh Sir Galon mendekat.


Sir Galon yang tau maksudnya segera saja mendekat kearahnya.


"Kau tau Duchess saat ini sedang tidur dia sama sekali belum bangun tapi jika Marques ingin bertemu aku bisa menyuruh orang untuk membangunkannya bawa saja Marques ke taman ujung sana dan juga tolong perkenalkan bebarapa hal di sini untuk mengulur waktu"ujar Sir Gio berbisik.


Sir Galon yang mendengar itu langsung mengangguk paham dan mulai memandu Marques untuk pergi ke tempat tujuan.


Seperginya mereka berdua Sir Gio segera saja menyuruh seorang Pelayan di dekat sana untuk memberi tahu Duchess bahwa Marques sudah datang dan saat ini sedang menunggunya.


Pelayan yang mendengar perintah itu segera saja berlari sekuat tenaga untuk memberi tahu Duchess tentang hal itu apa lagi saat dirinya mendapat pesan dari Sir Gio untuk melakukan nya dengan cepat.


Melody yang masih tertidur kini membuka matanya melirik kearah jendela dia bisa melihat bahwa hari sudah siang.


Dengan wajah datar serta wajah khas orang bangun tidur Melody segera saja mencuci mukanya dengan air baskom yang sudah di sediakan di sana oleh Pelayannya.


Airnya masih hangat mungkin Pelayannya baru menggantinya dengan yang baru?


Membasuk wajahnya Melody segera saja bangun dan mendekati lemari mengambil satu stel baju dinasnya dia kemudian pergi ke kamar mandi dan lagi-lagi dirinya mendapatkan air yang masih hangat.

__ADS_1


Memasukan seluruh tubuhnya ke dalam sana rasanya semua beban Melody hilang seketika.


Apa lagi aroma mawar serta kelopak bunga yang ada di bak mandinya membuatnya merasa lebih tenang dan rileks.


"Huh~, ini menyenangkan"helaan panjang kini terdengar dari dirinya.


Tok


Tok


Tok


Ketukan di pintu kamarnya membuat Melody yang tadinya santai kini duduk di bak mandinya.


"Siapa?!"teriak Melody.


"Maaf Yang Mulia saya salah satu Pelayan di Mension ini"ujar suara wanita dari arah luar kamar mandinya.


"Ya ada apa?!"tanya Melody penasaran.


"Itu Yang Mulia Marques ingin bertemu dengan anda, beliai sudah dari tadi ada di sini dan saat ini beliau masih menunggu anda di taman belakang Duchess"ujar wanita tersebut.


Membuka pintu di bisa melihat Pelayan yang memanggilnya masih berdiri di depan pintu tersebut, terlihat bahwa Pelayan itu terkejut sebelum menudukan kepalanya dan berjalan minggir dari jalan Melody.


"Terima kasih infonya aku akan segera kesana, dan kamu boleh pergi"ujar Melody.


"Baik Yang Mulia Duchess"ujar Pelayan itu dengan patuh berjalan keluar kamar.


Tak berselang lama kini Melody keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi.


Kedua Kesatria yang berjaga di depan kamarnya kebetulan adalah giliran Delice dan Sir Candra jadi mereka berdua segera saja mengikuti Melody di belakangnya.


"Delice apa ada masalah saat aku pergi."tanya Melody di jalan.


"Tidak ada Yang Mulia, anda sudah menangani semuanya dengan baik sebelum anda pergi jadi saya dan yang lainnya hanya tinggal melakukan pengamatan serta pengawasan"lapor Delice.


"Begitukah?, lalu Delice bisa kamu berikan aku daftar penduduk di sini"perintah Melody.

__ADS_1


"Baik Yang Mulia nanti sore semua berkas yang anda inginkan akan ada di atas meja anda"ujar Sir Candra.


"Sir Candra bagaimana kabar Viscount?, apa dia baik?"tanya Melody.


Sir Candra yang mendengar itu tersenyum.


"Semuanya lancar Yang Mulia kini Viscount bahkan bisa berjalan sendiri walaupun beliau belum bisa berjalan dengan lancar"ujar Sir Candra.


"Lalu di mana Dame Clara?"tanya Melody.


"Clara saat ini dia sedang ada di kamarnya Yang Mulia sepertinya dia sedang tidur siang"jawab Sir Candra.


Berbincang-bincang seputar Duchy dengan keduanya ternyata membuatnya sama sekali tak sadar jika kini sudah ada di depan pintu taman.


Membuka pintu tersebut Melody segera di sapa oleh Sir Galon serta Marques yang langsung bangkit dari duduknya dan membungkuk hormat kepadanya.


"Salam Yang Mulia Grand Duchess Salvier"salam keduanya dengan tata karma masing-masing.


"Duduklah"ujar Melody menanggapi salam tersebut.


"Sir Galon tolong panggilakan Pelayan dan suruh mereka menyajikan teh serta bebarapa camilan untuk Marques"perintah Melody melambaikan tangan.


Sir Galon yang tau itu segera membungkukan badan dan pergi dari sana.


Sepertinya Sir Galon Melody tersenyum kearah Marques.


"Senang bertemu dengan anda Marques, maaf sebelumnya karena tak bisa menyambut kepulanganku"ujat Melody tersenyum ramah.


"Tidak apa-apa Duchess saya paham jika Duchess sangat sibuk di sini"maklum Marques yang juga tersenyum.


Marques ini seorang pria yang sekitarnya berumur 40 tahunan dengan kulit kasar serta kecoklatan adalah hasil dari latihan serta banyaknya latihan serta perang yang sudah dia alami.


Selain itu dia juga memiliki kumis yang lumayan tebal, dan juga sebuah luka bekas sayatan pedang di mata sebelah kirinya.


"Terima kasih, lalu Marques apa anda sudah menerima hadiah dari ku?"tanya Melody dengan senyum.


Dia ingat jika Delice sudah mengirimkan hadiah itu mewakili dirinya walaupun dia tertidur tapi dia bisa dengan jelas mendengar Delice yang berbicara di sampingnya dan melaporkan semua hal itu.

__ADS_1


"Sudah Yang Mulia itu adalah sebuah pedang yang sangat bagus dan indah saya menyukainya sehingga saya berfikir bahwa tak rela jika membuat pedang itu terkena darah"ujar Marques berlebihan.


"Tidak Marques aku lebih suka jika kamu menggunakan pedang itu"ujar Melody tersenyum.


__ADS_2