Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 133


__ADS_3

Semua Pangawal yang berjaga di pasta itu hanya saling melirik satu sama lain seakan bertanya kepada temannya.


Apakah temannya tau siapa yang di maksud Kaisar?


Namun tentu tak ada jawaban dari teman mereka karena mereka juga sama bingungnya.


Kaisar yang menyadari kesalahannya kini berdecik dia lupa tak menyebut siapa yang harus di tangkap.


"Maksudku tangkap Janda Permaisuri 1!!"teriaknya keras menggema di aula tersebut.


Pernyataan itu membuat semua orang yang ada di dalam aula kaget dengan apa yang di katakan oleh Kaisar.


Apa lagi Janda Permaisuri 1 yang juga lebih syok seakan tak percaya dengan kalimat yang terucap dari mulut putranya sendiri.


Sedangkan Melody hanya tersenyum tipis menatap wajah panik yang di tunjukan oleh Janda Permaisuri 1, namun tentu saja Janda Permaisuri 1 yang melihat senyum itu seperti melihat senyum mengejek yang di lontarkan oleh Melody.


Para Pangawal yang mendengar perintah itu segera saja berlari ke arah Janda Permaisuri 1 dan mengepung wanita itu.


Mereka bahkan kini berusaha membawa Janda Permaisuri 1 ke tengah aula.


Namun sepertinya mereka masih memiliki rasa hormat kepada Janda Permaisuri 1 bukt8jya merska hanya menarik Janda Permaisuri 1 dengan sangat pelan.


"Apa yang kalian lakukan cepat lepaskan aku!"


"Kalian dengar apa tidak lepaskan aku"


"Damian!, cepat suruh mereka lepaskan ibu nak"seru Janda Permaisuri 1 yang kini memerontak.


Sedangkan di sisi lain Kaisar yang melihat ibunya di seret oleh banyak Penjaga hanya memiliki ekspresi datar begitu juga dengan semua Pangeran dan Putri uang ada di sana.


Namun Kaisar kini mengerutkan keningnya saat melihat seberapa tak becusnya para Penjaganya membawa ibunya itu ke tengah aula.


"Apa yang kalian lakukan?!"bentaknya kencang.


Hal tersebut membuat semua Panjaga kaget dan segera saja melepaskan Janda Permaisuri 1.


Hal tersebut malah justru membuat Kaisar marah dan membentak lagi bawahannya tersebut.

__ADS_1


"Kenapa kalian melepaskannya?!, cepat seret dia ke tengah aula dengan cara apapun!"perintah Kaisar mutlak.


Para Penjaga yang kini seperti orang bod0h itu pun kini segara menangkap Janda Permaisuri 1 dan menyeretnya dengan kejam ke tengah aula.


Tentu saja hal tersebut tak luput dari pada perlawanan Janda Permaisuri 1, bahkan kini terikan nya pun terdengar di seluruh Aula.


"Lepaskan aku!"


"Dasar kalian manusia rendahan lepaskan!"


"Ini semua pasti hanya tipuan!, aku sama sekali tak bersalah!"teriaknya namun segara saja teriakan itu berhenti.


Saat para Penjaga mendorongnya hingga terjatuh di tengah aula dengan cara begitu tak terhormat nya.


Bruk!


"Ah!"jeritnya syok dan kaget akan perilaku yang barusan dirinya terima pasalnya dia sama sekali tak pernah di perlakukan dengan cara tak sopan dan tampa martabat seperti ini.


"Bagus kerja bagus kalian"ujar Kaisar Damian.


Para Penjaga yang sudah selesai menyeret Janda Permaisuri 1 ke tengah aula kini segera mundur dan kembali ke posisi mereka sendiri mengamati jalan nya pengadilan di pojokan.


Hal tersebut kemudian di ikuti oleh Mentri Hukum serta hadirin yang ada di dalam aula tersebut sehingga janji dan sumpah tersebut begitu menggema.


Setalah janji terucap kini mata Kaisar menatap tajam Janda Permaisuri 1 atau bisa di sebuat Iren?


"Iren apa kamu tau kesalahan mu?"tanya Kaisar kepada Iren.


"Tidak Yang Mulia!, ini semua hanya fitnah aku tau semuanya ini pasti perbuaatan Melody yang ingin menjebakku!"seru Iren yang tak terima di perilakukan seperti ini sambil menujuk Melody dengan tangannya.


Jelas sekali bahwa dirinya sangat marah akan semua penghinaan yang kini dirinya terima.


"Apa kah itu benar?"tanya Kaisar


"Benar Yang Mulia!"teriak Iren tersenyum lebar dia mengira bahwa Kaisar percaya akan semua ucapannya.


Kini pandangan Kaisar sedikit menyipit sebelum dengan acuh mengucapkan bebarapa kalimat yang membuat Iren tak percaya dengan apa yang dia dengar.

__ADS_1


"Nyalakan mana pendeteksinya!"perintah Kaisar mengibaskan tangannya.


Mentri hukum yang mendengar hal tersebut mengangguk dan segara saja mengaktifkan mananya.


Namun mana yang tadinya berwarna biru tersebut kinu langsung menjadi berwarna merah, hal tersebut cukup jelas mengatakan bahwa Iren berbohong dengan apa yang di ucapkan.


Melihat perubahan warna mana dari Mentri Hukum wajah acuh Kaisar kini menjadi dingin.


Dia sungguh tak percaya ibunya itu masih saja ingin berbohong di situasi seperti ini.


"Cih!, bukan kah kamu barusan mengatakan kalau ini hanya fitnah!, yang di lontarkan oleh Duchess Salvier Iren!, tapi apa ini?!"ujar Kaisar dengan nada yang lumayan tinggi.


Iren yang melihat bahwa Kaisar murka kini menggelengkan kepalanya seakan mengatakan abhwa dia sama sekali tak bersalah.


"Yang Mulia aku benar-benar tak bersalah Yang Mulia!"ucap Iren bahkan air matanya kini menetes daru matanya tersebut dia berharap bahwa air matanya itu bisa membuat Kaisar atau setidaknya siapa saja menjadi luluh.


Namun apa yang di harapkan nya salah nyatanya ssmua pandangan dari anak-anak nya sangat dingin apa lagi pandangan semua orang ada di aula mereka jelas sekali menunjukan amarah dan perasaan benci kepadanya dengan sangat terang-terangan.


"Ck ck ck, aku sama sekali tak habis pikir bagimana di masih bisa berbohong di situasi seperti ini?"


"Lihatlah bahkan wanita paling terhormat di Kekaisaran ini sama sekali tak bisa lepas dari pengadilan"


"Dia memang cocok di adila setelah semua hal yang dja lakukan selama ini"


"Aku sangat Kasian dengan Duchess Salvier dia selalu saja menjadi sasaran Iren"


"Sebenarnya aku lumayan kasian terhadapnya tapi tidak jadi"


"Wajah Kaisar pun menyeramkan bukan?, bagaimana dia bisa menatap datar ibunya sendiri di saat seperti ini?".


"Kau seperti tak tau saja Keluarga Kekaisaran semuanya itu Monster"


Kini bisik-bisik para bangsawan terdengar di telinganya mayoritas semuanya kini menghinanya.


Pada saat itu akhirnya dirinya sadar dengan situasi.


"Tidak Yang Mulia aku benar-benar tidak melakukan nya!"jeritnya dengan air mata putus asa.

__ADS_1


Kaisar dan bahkan semua anak jadi Iren kini memalingkan wajah mereka tak tega melihat wajah tersiksa dari ibu mereka.


Namun Kaisar kini berusaha menguatkan hatinya pasalnya persidangkan tak akan selesai tanpa dirinya.


__ADS_2