
"Nak aku mengatakan seperti ini bukan karena alasan pringkat, tapi kamu masih kecil!, bagaimana orang dewasa bisa meninggalkan anak yang bahkan belum bisa di sebuat sebagai pria sendirian!"teriak Sir Galon, rasanya sangat disayangkan bahwa anak yang baru 17 tahun itu sudah harus ke medan perang.
Apa lagi dari yang apa dia dengar bahwa Devian bahkan sudah ada di medan perang selama 11 tahun, itu membuatnya frustasi, bisa-bisanya orang tua nya mengirim anak yang masih kecil seperti Devian itu ke medan perang!, mereka sungguh tak bisa di andalkan.
Rasanya hati lembut bak Hello Kitty milik Sir Galon yang merupakan penyayang anak-anak sangat sakit, yah, walaupun Devian yang sekarang sudah tak bisa di sebut anak-anak lagi, tapi tetap saja seseorang yang belum melakukan upacara kedewasaan, di mana perempuan umur 17 dan laki-laki 20 tahun masih di anggap anak-anak!!.
Devian yang mendengar itu segera saja membelakan mayanya terkejut, baru pertama kalinya dia mendengar hal seperti itu, selama ini yang dia dengar hanyalah bahwa hal yang dia lakukan bisa di sebut biasa lantaran dia akan menjadi seorang 'Duke' jadi apa yang dialaminya itu hal biasa.
"Sir, aku memang belum melakukan upacara kedewasaan, tapi aku seorang Kesatria dan yang lebih penting lagi aku saat ini menyandang gelar 'Duke Muda' yang berarti sebentar lagi aku akan menjadi 'Duke' menggantikan ayahku yang sepertinya beliau sufah ingin pengsiun dan menikmati masa muda berdua dengan ibu"ucap Devian dengan senyum namun dia sama sekali tak berhenti mengayunkan pedang serta membunuh para monster.
"Jadi pergilah aku tak apa, aku baik-baik saja, aku mohon bantu mereka"ucap Devian rasanya dia ingin menangis saja, baru pertama kalinya dia menangis setelah sekian lama.
Mendengar kata memohon dari Devian membuat hati Sir Galon luluh dia sama sekali tak enak jika menolak lagi.
"Baiklah aku akan pergi membantu di sana tapi kamu"ucap Sir Galon menyerahkan sebuah batu yang di sebuat Magic Stone kepada Devian.
Devian yang menerima itu lagi-lagi terbelak pasalnya Magic Stone sangat susah di dapat dan cara mendapatkan nya harus lah mempertaruhkan nyawa di rawa Lotaying yang tentu saja sangat berbahaya.
"Ini_?"ucap Devian kaget.
Sir Galon hanya tersenyum.
"Ambil ini dan jika kamu terdesak gunakan saja ini, dan cepatlah melarikan diri"ucap Sir Galon yang kemudian pergi.
Devian sangat tersentuh sehingga dia dengan hati-hati menyimpan Magic Stone tersebut agara aman dab tak jatuh dia kini bertekat untuk tidak menggunakan Magic Stone itu bahkan jika dia dalam keadaan yang sangat mendesak dan berbahaya.
Sir Galon yang kini sudah ada di Tim 3 segera saja membantu tim tersebut membunuh monster, sambil membunuh Sir Galon terus bergerak agar bisa mendekat ke arah Sir Gio yang merupakan kapten tim 3.
__ADS_1
"Sir Gio, apa kamu memiliki kesulitan lain?"tanya Sir Galon.
"Heh!, bajing4n!, kau tak lihat kalau aku memiliki kesulitan, hah!, diam saja bangs4t dan bantu aku menebas kepala para monster yang ada di sini, moster-moster ini tak ada habisnya dan terus saja keluar!"teriak sir Gio dengan nada khasnya yang selalu mengumpat.
Sir Galon hanya menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tak gatal rasanya masih aneh mendnegar nada umpatan dari Sir Gio walaupun dia sudah bersama nya dalam beberapa hari.
"Hem.., baiklah"ucap Sir Galon akhirnya yang kemudian membantu tim 3 membereskan monster-moster yang ada.
Kini medan perang sungguh sangat kacau yang tadinya tak ada yang namanya korban jiwa kini sekitar 50 orang Prajurit dan 2 orang Kesatria mati dalam pertempuran ini.
Hal tersebut tentu saja menjadi pukulan bagi mereka bagiamana tidak dalam 3 kali pertempuran mereka selalu menang tanpa ada kesulitan atau pun korban jiwa namun kali ini sungguh berbeda jangankan menghalangai korban jiwa meraka saja merasa kesulitan.
Namun mereka juga tau bajwa setiap peperangan pasti akan selalu ada yang namanya kematian perang tanpa adanya korban itu mustahil bisa di sebut perang.
Di sisi lain Rexid kini sedang melawan hewan paling berbahaya dari pada yang lainnya.
Rexid kini berlari ke arah moster itu yang ternyata lebih mirip badak berculang satu, katanya culangnnya utu bisa menjadi obat yang sangat berharga dan juga kukitnya yang berwarna emas sangat berkilau dan kalau di jual harganya akan mahal, jadi saat ini Rexid bermaksud untuk menangkap monster itu tanpa merusak culang dan kulit.
Karena dia yakin bahwa wilayah adiknya ini pasti akan membutuhkan hal-hal yang ada, jadi ayo kita jangan rusak barang berkualitasnya dan biarkan adiknya memujinya.
Membayangkan dirinya di puji pun membuat Rexid senang.
Bahkan dari tadi doa seperti hanya bermain di medan perang pasalnya dia hanya mengincar monster-moster yang memiliki manfaat pada tubuhnya dan memiliki bagian yang mahal di jual.
"Aku yakin adik akan suka, lagi pula moster dengan lhasiat dan juga yang memiliki harga jual karana moster ini memiliki manfaat lain atau pun hanya karena kulit, bulu atau yang kainnnya cantik, yah lagi pula moster dengan tipe seperti yang aku katakan hanya muncul dari gelobang ke 4 sampai akhir"
"Tak sabar rasanya, untuk merasakan gelombang moster teralhir dimana semua koster adalah harta yang amat berharga, hahahahaha!"tawa Rexid senang sekaligus rada gila.
__ADS_1
Bahkan kini Sir Galib nampak memukul jidatnya dwngan tangan lantaran tak habis pikir dengan pikiran tak sehat milik tuannya itu.
Sedangkan para Parjurit Utara yang mendengar hanya bisa membatin bahwa 'kakak adik sama saja gila harta!'.
Sedangkan Prajurit kiriman Kekaisaran hanya memasang wajah datar mereka sama sekali tak bisa mengatakan apa pun.
"Yang Mulia ku rasa alih-alih Duchess akan senang beliau akan mengatakan kalau kamu gila sebenarnya"ucap Sir Galib jujur.
"Apa.maksudmu?, tentu saja Melody akan senang dia kan sama sepertiku"jawab Rexid pemuh percaya diri.
Mendengar itu Sir Galib memiliki ekspresi wajah yang membanggongkan, dia baru ingat jika kedua orang itu adalah orang yang sama kalau masalah harta.
"Sia-sia aku melakukan pembantahan"gumam Sir Galib lirih.
Jauh di bagian sana dimana bagian dari Sir Alex dan Sir Delice mereka saat ini melakukan formasi kerja sama dimana para Prajurit akan menghalau monster dengan tameng dan tugas mereka adalah membunuh di moster tersebut secepat kilat sebelum para Prajurit rubuh karena tak kuat menahan beban.
Dan.
Bang!
Kepala monster dan juga tameng kini berbenturan secara bersamaan, para Prajurit kini bersama-sama menahan monster dengan sekuat tenaga
Dan dari arah samping kanan dan kiri terlihat Sir Delice dan Sir Alex memotong kepala para monster dengan kecepatan kilat.
Srettt~
Srettt~~!
__ADS_1
Sressstttttt~~~!!!