Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 63


__ADS_3

Kini Melody sedang melihat peta namun ternyata peta itu tak muda di baca seperti espektasi nya, bagaimana tidak ini bukan seperti peta biasanya peta ini hanya berisikan simbol-simbol kuno yang amat membingungkan sekali.


"Ini_, peta atau apa?!, bagaimana manusia bisa memakai peta seperti ini!!"gerutunya kesal, bisa-bisanya dia harus membaca peta yang amat rumit ini hisa mati dia!.


"Ugh!, aku tak percaya!, aku yak bisa membaca apa pun dari peta ini!"teriaknya tak terima.


Akhirnya selama 6 jam Melody terus mempelototi peta tersebut, bahkan kini matanya sudah memerah.


"Argh!, kenapa begitu susah padahal aku sudah melihatnya berjam-jam tapi aku bahkan hanya bisa membaca arah nya saja, itu pun hanya dua arah, barat dan selatan, yah setidaknya itu bisa menjadi petunjuk sehingga aku bisa tau mana timur, dan utara"


"Sepertinya ini saja sudah cukup"ucap Melody sambil menatap langit yang kini mulai terlihat siang.


Yah jika di ingat saat dia menakan apel itu saat pagi hari.


Matahari kini begitu terik di atas kepalanya namun Melody sendiri belum merasakan lapar atau pun haus sehingha Melody memilih melanjutkan perjalanan, dia akhirnya memilih untuk pergi kearah Utara, dia tak perduli jika di sana bahkan jika di sana tak ada pelabuban, yang dia butuhkan sekarang ini adalah kelur dari hutan ini secepatnya sebelum langit kembali gelap.


Di sisi lain


Anusapati sudah sampai di Istana Tumapel, namun pikirannnya kini masih saja berada di hutan dia masih memikorkan gadis yang di temuinya tadi.


Setelah di ingat dia baru sadar kalau wajah gadis itu cukup asing, maksudnya seperti ras yang beda gitu, bukan hanya itu tapi juga dengan pakaian yang di gunakan oleh nya, dia sama sekali belum pernah melihat yang seperti itu selama hidupnya ini.


"Gadis itu terlihat aneh"gumamnya sebelum akhirnya dia menggelengkan kepala dan memilih untuk pergi ke Kediaman milik ibunya dia sangat kangen.


Setelah berjalan selama beberapa jam kini Melody sudah keluar dari hutan, hingga kini dia menemukan jalan setepak, dia tak tau jalan ini akan membawanya kemana, tapi yang dia tau jalan yang dengan banyak bekakas roda  dan kereta kuda serta besar itu pasti kalan menuju kota, biasanya jalan ke kota akan di buat lebih besar karena kota itu pusat pertumbuhan negara.


Bukan cuma pusat pertumbuhan sih tapi juga pusat dari pengendalian dan pusat lain nya.


Berjalan selama berjam-jam Melody sama sekali tak merasakan lelah tentu saja itu karena dia memiliki fisik yang terbilang cukup bagus bahkan saat mandi Melody mengagumi perutnya yang di sana memiliki abs, dia bahkan sempat berfikir jika dia laki-laki pasti akan sangat tampan dengan aura sugar Daddy nya, rasanya dia ingin mencobanya.


Namun sayang sihir seperti itu dia belum mempelajarinya, tapi dia akan pastikan setelah dari sini dia pasti akan belajar sihir tersebut, tak perduli apapun resikonya.


Tuk!.


Plak!.


Tuk

__ADS_1


Tak


Tuk


Tak


Dari kejauhan Melody bisa mendengar suara kereta kuda berjalan, tak lama sebuah kereta kuda berhenti di sampingnya.


Kereta itu seperti nya mangangkut beberapa barang di dalam nya.


Melihat kereta yang berhenti tentu saja Melody secara reflek menatap kereta itu, ternyata kebiasaan nya saat sebelum jadi Melody terbawa hingga ketubuhnga yang sekarang.


"Nona mau kemana?"tanya paman kusir tersebut.


"Ah, saya mau ke kota paman"jawab Melody sambil tersenyum manis berusaha untuk ramah.


"Oh mau ke kota, kebetulan paman juga mau kesana ayo bareng saja"ujar paman tersebut menawarkan Melody untuk ikut dengan nya.


"Terima kasih paman"ucap Melody dan segera naik ke kereta tanpa ragu dia kini duduk di sampiang paman tersebut karena bagian belakang sudah sangat penuh akan barang-barang.


"Nona mau ke kota ngapain?"


"Saya mau keperlabuhan paman"


"Oh kepelabuhan, kalau gitu kamu beruntung karena kota yang akan kita tuju adalah kota pelabuhan di mana di sana banyak kapal-kapal yang berlayar"


"Makasih paman"


"Kalau boleh tau nona itu dari mana, baru pertama kali, paman melihat orang secantik kamu, memakai pakaian yang aneh"ujar paman tersebut.


"Eh_?, ah saya dari tempat yang jauh paman sangat jauh saya tak sengaja sampai di sini"


"Oh gitu"


"Kalau paman sendiri mau kemana?"tanya Melody.


"Paman mau mengantar barang-barang ini ke kapal di sana, besok harus sudah sampai karena besok kapal tersebut akan berangkat, si4l sekali memang, padahal perjalan dari sini ke sana saja butuh satu hari satu malam, tapi sebelum subuh harus sudah sampai, alhasil ya begini paman sama sekali tak bisa singgah sebentar di desa untuk tidur"ucap paman tersebut kesal, jelas sekali dia kesal siapa yang tak kesal jika berada di posisinya.

__ADS_1


"Jadi paman belum tidur?"tanya Melody halus.


"Yah, begitu lah, nona kalau boleh tau namamu siapa?"tanya paman tersebut.


"Nama saya Melody paman"ujar Melody.


"Oh kalau paman namanya Wage Suryono, paman ini dulunya bangsawan tapi sayang ayah paman bangkrut jadi paman pindah profesi, bisa panggil paman dengan nama Pak Wage saja Suryono itu nama marga paman, nama kamu cuma Melody saja?"tanya paman tersebut yang sepertinya sangat ingin tahu.


Melody yang mendapatkan pertanyaan itu hanya tersenyum maklum, namun dia berfikir ternyata rasa ingin tau masyarakat Indonesia menurun dari leluhurnya.


Dia jadi berfikir jika yang direntek pertanyaan bukan dirinya atau mungkin salah satu orang yang ada di sana, misalnya Kaisar, dia yakin bahwa kakaknya itu akan memasang ekspresi risih.


"Nama lengkap saya Melody Calsion De Janeiro Salvier paman"jawab Melody dengan senyum.


Paman Wage yang mendengar itu memasang ekspresi rumit.


"Apa?!, nama kamu Melody Calsen D Janeir Salpier?"


Melody yang mendengar kesalahan penyebutan nama itu hanya bisa tersenyum tabah.


"Bukan paman tapi Melody Calsion De Janeiro Salvier"ucap Melody lagi dengan mengeja namanya satu persatu dengan jelas.


"Oh namamu, Melody Calsion De Janeiro Salpier"ujar paman tersebut yang sudah benar tapi kenapa Salviernya jadi Salpier?.


Melody yang mendengar itu makin memasang wajah tabah, dalam hati dia berkata 'ah!, masa bodo lah huruf v kan memang gak ada di aksara Jawa'.


"Iya seperti itu lah paman"


"Namamu itu sulit sekali, kamu pasti bukan dari pulau Jawa ini ya?"tanya Paman Wage.


"Iya begitu paman, apa paman tak lelah jika paman lelah saya bisa menggantikan paman memgendarai kereta ini, di tempat saya dulu saya sering menjalankan kuda"ujar Melody.


"Oh kamu ternyata jago buat mengendarai kuda, kalau gitu paman serahkan ke kamu, tenang saja dari sini kamu cukup lurus saja"ujar sang paman.


Dan segera bertukar tempat dengan Melody, akhir nya kini sang paman bisa tertidur dengan lelap jelas sekali kalau dia sangat mengantuk dari tadi namun tetap memaksakan diri.


Akhirnya kusir kuda saat ini adalah Melody seperti kata paman dia hanya perlu mengikut jalan lurus saja.

__ADS_1


__ADS_2