
Sampai di kamar Delice Melody terlebih dahulu mengambil nafas dalam-dalam sebelum dirinya membuka pintu tersebut.
Di dalam sana terlihat Delice yang terbaring lemah dengan baju sederhananya dan Diana yang duduk di samping kasurnya sambil menggenggam tangan Delice dengan kencang.
Hiks
Sob
Hiks
Isakan tangis jelas sekali terdengar darinya.
Melody yang melihat itu entah kenapa mematung di depan pintu kini rasa semangat, serius dan rasa kepercayaan dirinya entah hilang kemana dan di gantikan oleh rasa cemas.
Kini matanya yang penuh akan semangat menjadi teduh dia takut jika dia tak mampu membangunkan Delice apa Diana akan berpaling darinya atau kah dia akan menjauh dan pergi darinya?.
Dia takut hal-hal tersebut akan terjadi padanya, karena rasa cemas nya Melody kini bahkan lupa jika kalau dirinya sudah belajar banyak hal selama ada di dalam 'Perpustakaan Antar Dimensi', bahkan kini tubuhnya gemetar dia takut akan hal tersebut.
Diana yang sadar akan kehadiran Melody langsung mengusap air matanya dan menoleh ke arah Melody dengan senyum di wajahnya.
"Yang Mulia kenapa anda tak masuk ke dalam, jangan hanya berdiri di depan pintu itu tak baik"ujar Diana dengan senyum manisnya.
Melody yang mendengar hal tersebut segara tersadar dari lamunannya dan segara masuk namun siapa sangka bahwa saat dirinya masuk dirinya segara saja di sambut oleh pelukan dari Diana yang sangat erat.
"Hiks!, Yang Mulia kenapa anda begitu lama!, hamba sangat rindu dengan Yang Mulia, begitu juga dengan Delice dia menunggu Yang Mulia sampai bosan dan akhirnya malah koma"ujar Diana dengan isak tangisannya.
Melody yang di peluk tiba-tiba tentu saha terkejut dengan matanya yang melebar sebelum dirinya membalas pelukan Diana dengan tak kalah eratnya juga dia bahagia saat ini, dia bahkan tak tau dari mana asal rasa kebahagian itu entah itu dari hatinya secara tulus atau bukan dia sama sekali tak tau.
__ADS_1
"Tenang saja Diana aku sudah kembali bukan?, lagi puka aku baik-baik saja seperti apa yang kamu lihat saat ini aku sama sekali tak memiliki luka keadaanku malah lebih baik dari kalian semua yang ada di sini"ujar Melody dengan masih memeluk Diana.
"Syukurlah jika Yang Mulia baik-baik saja"ujar Diana melepas pelukannya dan kembali duduk di kursi yang ada.
Namun dirinya baru menyadari bahwa di sana hanya ada saty kursi dan hendak mengambil kursi satu lagi namun segara di tahan oleh Melody.
"Tak perlu repot-repot Diana, aku hanya sebentar saja di sini, aku ingin tau bagiamana keadaan Delice saat ini sehingga aku bisa tau metode apa yang bisa aku gunakan untuk menyembuhkan nya"ujar Melody.
"Yang Mulia apa anda benar-benar bisa menyembuhkan Delice?!"ucap Diana terkejut dan segara berdiri dari duduknya sambil memegang kedua tangan Melody.
"Huftt~, aku tak tau bagiamana dengan jelasnya tapi setidaknya aku akan mencoba yang terbaik untuk mengobati Delice, kamu tenang saja Diana jika pun aku tak bisa mengobati Delice maka aku akan pastikan bahwa seluruh dokter terhebat di Dunia ini akan datang dan Berusaha menyelamatkan nya"ujar Melody san segara saja mengedarkan mananya keseluruh tubuh Delice untuk mengetahui hal apa yang terjadi terhadap Delice.
Diana yang mendengar itu jelas terharu, siapa yang tak akan terharu jika kalau dirinya mendapat bantuan yang begitu besar dari seseorang apa lagi orang tersebut adalah orang yang amat dia sayangi dan cintai.
Namun dirinya sadar bahwa hal yang menimpa Deluce bukanlah hal biasa jadi dia sama sekali tak berharap lebih bahwa Melody bisa menyembuhkan Delice, dan kalau pun Melody tak bisa mengobati Delice apalah daya dari dirinya?, bahkan seorang donter terhebat Duchy Milian pun tak bisa mengobati Delice.
"Ini_!"kaget Melody saat dirinya sudah selesai memeriksa Delice.
Diana yang mendengar hal tersebut segara saja bertanya apa yang terjadi.
"Bagiamana Yang Mulia apa itu hal yang sulit?"ujar Diana dengan harap-harap cemas.
Melody mendengar pertanyaan itu kini menatap Diana sambil tersenyum manis.
"Kamu tenang saja Diana ini bukan hal yang berbahaya, hanya saja ini semacam racun yang bisa membuat seseorang tidur abadi, dan belum ada obatnya sama sekali di Dunia ini"ujar Melody dengan senyum.
Sedangkan di sisi lain repatnya di balik pintu yang tertutup rapat Pangeran Rexid, Sir Gio, Sir Galib, serta Sir Galon menepuk jidat mereka.
__ADS_1
Bisa-bisanya Yang Mulia Duchess/Melody mengatakan hal mengerikan itu dengan senyum, batin mereka merasa ngeri dengan Melody.
"Apa!!, lalu Yang Mulia apa hanya harus saya lakukan!?"teriak Diana kini air mata mulai lagi menetes dari matanya.
"Hapus air matamu, kamu tenang saja walaupun ini tak ada obatnya namun racun ini bisa di patahkan dengan sebuah mantra sihir, yah itu mantra kuno sih, dan tentu saja ada hal yang harus di bayar"ujar Melody santai.
Diana yang mendengar itu segara saja memegang kedua tangan Melody erat.
"Apa itu Yang Mulia syarat nya, apa pun itu akan hamba lakukan demi Delice"ujar Diana tulus.
Melody yang mendengar pernyataan tulus itu sangat tersentuh menurutnya sangat jarang menemui pasangan yang begitu loyal seperti ini.
"Kamu tak perlu berkorban, lagi pula syarat ini tak bisa kamu penuhi, biarkan aku yang melakukannya"ujar Melody menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.
Siapa sangka bahwa hal yang dia katakan membuat Diana terkejut, bahkan mereka yang sedang menguping pun terkejut bukan main, apa lagi Pangeran Rexid dirinya langsung mendobrak pintu dengan keras dan berteriak.
"Tidak!!, apa-apaan kamu Melody!"geramnya kepada adiknya tersebut.
Melody yang di teriaki kini hanya memasang wajah datar yang santai seakan-akan dia tau bahwa hal ini akan terjadi juga.
"Kenapa, aku tak boleh?, aku bisa berkorban untuk Delice yang sudah melindungiku selama ini"ucap Melody.
"Itu kamu_!"kalimat Rexid kini terpotong oleh kalimat dari Diana.
"Yang Mulia jangan lakukan itu!, saya tidak mengijinkannya, dan juga jika Delice tau dia juga pasti akan menentang hal tersebut"ujar Diana memotong kalimat Rexid.
Namun Rexid tak marah dan hanya mengangguk kepalanya menyetujui semua perkataan dari Diana.
__ADS_1