
Keluar dari hutan itu ternyata Delice sudah menunggu di luar.
_________________
Delice yang malihat keadaan Devian yang kembali dengan luka di pipi dengan Melody di pelukannya tak lupa juga luka di tangannya membuatnya cemas dan langsung berlari ke arah mereka berdua.
"Apa yang terjadi?"tanya Delice khawatir.
"Tak apa-apa semua nya sudah baik-baik saja, Yang Mulia hanya tertidur saja"jawab Devian tenang.
"Syukurlah, kau tak apa-apa kan?"tanya Delice lagi.
"Aku tidak apa-apa hanya saja apa mayat itu sudah di urus?"tanya Devian.
"Tenang saja mereka sudah selasai mengurusnya hanya tinggal melakukan penyelidikan, mayatnya juga sudah di bawa untuk di otopsi"jelas Delice.
"Kalau bagitu, hari ini kita istirahat di sini saja ya?"tanya Devian sambil memiringkan kepalanya.
"Tidak bisa ayo cari penginapan setidaknya"jawab Delice dengan datar, entah kenapa wajah nya kembali datar saat pertanyaan itu di lontarkan.
Tidur di sini?, dunia luar itu bahaya bung!, tak mungkin Delice tega menyuruh Devian serta Melody yang masih kecil itu untuk tidur di luar dengan udara yang dingin?, dia tau kalau Devian sudah biasa tapi ini bukan di medan perang lagi!, jadi turuti saja apa katanya.
"Baiklah, tapi cepatlah paman, aku sudah sangat lelah"ucap Davian dengan wajah yang amat kelelahan.
Paman???
Delice yang tiba-tiba di panggil paman langsung memasang wajah suram ke arah Devian yang tentu saja tak di tanggapi oleh Devian yang saat ini masih memiliki Melody di pelukannya.
"Huh!, ayo pergi"ucap Delice kemudian sambil berjalan di depan memimpin Devian pergi dari sana
Devian kini menaiki kuda bersama dengan Melody yang masih saja tertidur sambil bersandar di dada nya dengan nyaman, bahkan Melody memeluk pinggangnnya seperti bantal guling, mungkin dia berfikir bahwa dia diatas kasur, dengan posisi Melody yang entah sejak kapan kini berhadapan dengan Devian.
Devian sendiri tak apa-apa dan hanya memasang wajah datar namun bagaimana dengan tatapan para Pengawal serta warga yang lewat tentu saja mereka berbisik-bisik.
__ADS_1
Bagi yang tau hubungan mereka seperti para Pengawal mereka hanya merasa kasian kepada Devian, sedangkan para warga yang tak tau hubungan mereka mengira bahwa Devian serta Melody adalah pasangan yang baru menikah.
Bagaimana tidak kaki Melody melingkar di pinggang Devian, jadi tepatnya dia ada di pangkuan Devian!, gila!, untung saja Devian adalah laki-laki baik-baik.
Tak berselang lama akhirnya mereka menemukan penginapan untuk tinggal, dengan hati-hati Devian turun dari kuda sambil membawa Melody dan dengan cepat masuk ke dalam penginapan.
Matahari kini telah tenggelam malam telah tiba, dengan bintang yang indah berkelipan di atas sana.
Melody yang tertidur perlahan membuka matanya lebar-lebar dan langsung berjalan ke luar.
Dia tak menyangka bahwa dia akan tidur sampai larut malam, malam itu jam 12 bahkan Pangawal yang bertugas menjaga kamarnya kini tertidur sambil berdiri, Melody sendiri kini turun ke bawa dia berharap agar ada makanan, namun jangan kan makanan semua orang bahkan sudah tertidur dengan sangat pulas.
Mengelus perutnya yang lapar Melody cemberut.
"Tidak ada makanan, kenapa mereka tak membangunkanku?"ucap Melody lesu.
Padahal tadi dia sudah di bangunkan hanya saja karena masin ngantuk serta lelah ia kembali tidur.
Akhirnya dengan cemberut Melody kembali menaiki tangga.
??!
Suara yang berasal dari dapur membuat langkah Melody segera berhenti.
"Siapa?"tanya Melody lirih dia bahkan tak membalikkan tubuhnya sama sekali dan hanya berdiri mematung di atas tangga.
Suasana suram, hening tanpa ada nya suara, di tambah tepat sekitar yang kini sudah gelap, membuat Melody diam-diam merasa merinding di sekujur tubuhnya.
Menelan ludahnya dengan kasar, dia merasa bahwa tenggorok kan nya sangat kering, perlahan dengan keberanian yang terkumpul, serta tekat, dan rasa penasaran yang tercampur menjadi satu yang di ekstra oleh rasa takut, Melody berbalik secara perlahan.
Menatap ke arah dapur di mana suara barusan terdengar oleh nya, dengan langkah pelan Melody menuruni tangga menekati dapur.
Tak
__ADS_1
Tak
Tuk
Tuk
Suara sepatunya kini bergema disunyinya tengah malam, kini Melody sudah berdiri di depan pintu dapur, dengan sedikut ragu serta tangan yang gemetar, dia perlahan meraih gangang pintu dan secara perlahan pula membukanya.
Butiran keringat sebesar biji jagung kini menetes dari pelipisnya, dia sangat gugup dan takut, bagaimana jika yang ada di dalam dapur adalah sosok yang menakutkan, serta menyeramkan?
Namun tetap saja Melody memberanikan diri untuk membuka pintu itu.
Kriettt~
Pintu terbuka memperlihatlah seorang pemuda yang saat ini sedang mempersihkan sesuatu yang tumpah di bawah sana, Melody tau siapa itu, seorang pria dengan rambut perak yang bersinar seperti bulan serta mata biru yang cerah seperti lautan, dia tau bahwa itu adalah Devian.
Melihat bahwa itu Devian, Melody menghela nafas lega.
"Huftt~, kau sedang apa?"tanya Melody tiba-tiba membuat Devian tersentak dan menatap ke arah Melody.
"Ah, Yang Mulia, saya sedang ingin membuat makanan"ucap Devian sambil tersenyum indah, wajahnya yang tampan sungguh mempesona bahkan sejenak Melody nampak terhipnotis beberapa detik sebelum akhirnya sadar.
"Makanan?, apa sudah jadi?, itu sebenarnya aku juga lapar"jawab Melody.
Mendengar itu Devian tersenyum lembut, senyum yang dapat menggetarkan hati setiap wanita yang ada, kalau bisa Melody sangat ingin mimisan bagaimana tidak wajahnya benar-benar seperti 2D, sangat mempesona, sayang sekali dia satu tahun lebih muda dari nya, lagi pula dia tak ingin menikah dengan laki-laki yang satu tahun lebih muda dari nya, atau lebih tepatnya dia bahkan belum memiliki rencana untuk menikah di Dunia ini, ya itu lebih tepat baginya.
"Kebetulan sekali, Yang Mulia datang sekarang, baru saja makanan nya matang, tadi masih sisa banyak hanya saja itu tumpah, untung saja yang tersisa di piring cukup untuk dua orang"ucap Devian sambil memandang ke arah makanan yang masih di bersihkannya sebelum menatap makanan yang tertata rapi di atas meja.
"Wah!"dengan binar mata yang sangat senang Melody segera menuju ke makanan di atas meja dan segera duduk di kuris yang sudah tersedia di sana.
Bagitu pun dengan Devian yang sudah selasai membersihkann tumpahan makanan tadi, saat Melody hedak menyendok makanan nya, Devian langsung menghentikannya.
"Yang Mulia, sebaiknya anda mencuci tangan terlebih dahulu"ucap Devian menghentika tangan Melody yang akan menyetuh garpu dan sedok.
__ADS_1
Melody yang mendengar itu segera berdiri dan berjalan ke arah tempat cuci tangan, setalah mencuci tangannya ia kembali duduk di kursi nya.