Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 158


__ADS_3

Semua anggota rombongan yang melihat Melody di dorong ke dalam kereta kuda tak bisa untuk tak tertawa untungnya saja mereka bis menahan nya, Melody yang tau seperti apa reaksi mereka semua kini tak bisa untuk tak cemberut dan segera saja ngambek di dalam kereta sambil mendumel beberapa keluhan terhadap Devian.


"Cih!, apa-apaan dia itu!?, beraninya mendorong kepala seorang Duchess seperti itu!, apa lagi aku adalah atasannya sungguh tak sopan, dan juga yang lainnya sangat tak setia bisa-bisanya mereka gak marah saat melihat Duchess mereka dianiaya seperti ini!"kesal dan dumel Melody.


Dia kini cukup ngambek dengan semua orang dia bahkan berfikir untuk menambah beban kerja mereka menjadi 2x lipat sedangkan untuk Devian dia hanya bisa berharap agar bocah itu segera saja pergi dan bertunangan di wilayahnya.


Mungkin dengan begitu Devian paling tidak akan libur atau mengambil cuti sebanyak 3 bulan atau 4 bulan paling banyak nya, mengetahui sikap Duke Milian mungkin saja Devian akan di suruh untuk hanya libur satu hari saja, tapi bagiamana dengan Duchess Milian?, dia yakin bahwa Duchess Milian akan membuat putranya kibur selama 5 bulan!.


Jika benar seperti itu, artinya dia tak akan bertemu dengan Devian selama 5 bulan!, ah betapa bahagianya dirinya!, memikirkan hal tersebut entak kenapa Melody jadi tersenyum bahagia membayangkan seberapa damai dan tenang nya hidupnya jika hal itu benar-benar terjadi.


Sangkin asiknya menghayal sesuatu yang indah menurutnya Melody sampai tak sadar jika kalau kereta yang di tumpanginya sudah sampai di Mension bahkan kini Devian sudah membuka pintu kereta dan mengulurkan tangannya untuk membantu Melody.


Tapi emang dasar Melody, dia sama sekali tak sadar akan keberadaan Devian dan masih saja berkhayal sambil tersenyum manis, hal tersebut tentu saja membuat Devian tak habis fikir dengan Duchess yang dia layani ini.


"Yang Mulia Duchess kita sudah sampai"panggiilan pertaka dari Devian kini bener-bener diacauhkan bahkan Melody sama sekali tak ada niat untuk kembali ke dunia nyata.


"Yang Mulia Duchess"panggilan kedua juga belum di respon, Devian hanya bisa bisa menghela nafas.


"Yang Mulia"tak ada respon dan lagi-lagi Devian hanya bisa menghela nafas hanya saja dirinya kini merasa amat kesal bahkan dirinya hampir saja mengepalkan tangannya dan menojok wajah Melody jika saja dia tak segera menyadarinya.


"Yang Mulia!"panggil Devian sekali lagi dengan tak sabar.


Melody yang mendengar terikan tersebut kini terkejut dan dengan sangat terpaksa kembali ke dunia nyata.


"Woah!!, apa itu barusan!"ujarnya secara reflek sambil memegang dadanya kaget.

__ADS_1


Devian yang melihat itu hanya memiliki wajah datar.


"Kita sudah sampai Yang Mulia mari saya bantu anda untuk turun"ujar Devian sopan dan lembut sungguh perubahan yang sangat cepat!.


Melody yang mendengar itu hanya bisa cemberut dan menatap Devian malas dengan tak niat sama sekali dia menerima uluran tangan Devian dan turun di bantu olehnya, hal itu di lakukan olehnya hanya untuk menghargai Devian saja.


"Kalau begitu kalian semua bisa kembali aku akan langsung ke ruang kerja untuk menyelesaikan beberapa masalah"ujar Melody dan segera pergi dari sana.


Semua orang yang mendengar ucapan tersebut dari mulut Melody segera saja menjawab serentak.


"Baik Yang Mulia Duchess!!"ujar mereka semua sambil membungkuk hormat.


Melody yang mendengar jawaban dari mereka semua segera saja pergi dari sana di ikuti oleh Devian di belakangnya, setelah kepergian Melody barulah semua orang kini mengangkat kembali kepala mereka.


Sampai di depan ruangan kerja rupanya di sana sudah ada Delice yang datang sembari membawa beberapa berkas di tangannya dia kini memakai kaca mata, sudah lama dia memakai itu sejak urusan pelatihan para Kesatria dan para Prajurit serta Pengawal sudah membaik Delice juga mulai membantu Melody mengurus beberapa berkas di kantornya.


Delice kini tersenyum manis melihat Melody datang, ini adalah hal yang cukup langka sebenarnya melihat Delice tersenyum pasalnya jangan kan tersenyum bagkan kalau boleh Delice tak ingin bergerak sama sekali sangkin malasnya.


Apa lagi katanya kalau tersenyum itu cukup melelahkan.


"Memang saya seharusnya di sana tapi sepertinya banyak orang yang bisa di percaya di sana jadi saya memilih untuk pulang membantu anda, dan Duchess ada beberapa laporan dari tengah kota yang perlu anda baca dan setujui"ujar Delice yang kini kembali berwajah datar.


"Intinya saja"ujar Melody sebenarnya dia malas membaca lagi dan lagi, karena jujur saja di sangat sibuk dia lebih memilih berperang dari pada harus seperti ini.


"Intinya ini hanya berkas pengeluaran"ujar Delice

__ADS_1


Mendengar hal itu Melody segera mengambil berkas itu dan mengambil pulpen yang ada di saku nya serta menandatangi hal tersebut.


Setelah selesai Melody nampak puas akan hal itu, dia tak perlu ragu karena dia percaya akan Delice dan dia juga tau kalau Delice pasti sudah membaca serta memastikan semuanya baik-baik saja.


"Karena kamu ingin membantu ku mengurus dokumen serta berkas bukan kah akan lebih baik jika kita satu ruangan saja kita bisa menambah satu kursi lagi di dalam"tawar Melody dia hendak memanggil pelayan untuk menyiapkan satu meja lagi bagi Delice.


Namun siapa sangka bahwa Delice segera menolak hal itu.


"Tak perlu Yang Mulia saya senang bekerja sendiri, kirim saja masalah keuangan dan beberapa masalah yang perlu pengawasan kepada saya"ujar Delice.


"Baiklah kalau begitu tolong kirim beberapa orang yang bisa bertanggung jawab terhadap desa Snowers, aku akan segera mengirim datanya"ujar Mepody segera masuk ke dalam ruangan di ikuti oleh Devian.


Sedangkan Delice kini membungkuk melepas kepergian Melody, setelah Melody masuk ke dalam barulah dirinya kembali berdiri dengan tegap dan segera bergi ke ruang kerjanya.


Tak berselang lama kini data-data serta proposal tentang program pengembangan desa Snowers telah sampai di ruangan Devian.


Membacanya sebentar seulas senyum terpancar di bibir Delice.


Dia tak menyangka bahwa Tuan nya sangat bagus dalam hal seperti ini.


Karena hal ini dia jadi ingat kejadian saat kecil di mana saat itu Tuan nya masih lah seorang bocah polos yang sangat menggemaskan.


Tanpa sadar kini dirinya tersenyum.


"Dulu dia sangat imut kenapa sekarang sangat berkharisma"ujar Delice jujur itu sangat disayangkan.

__ADS_1


"Iya kamu benar itu sangat disayangkan bukan, sayang?"ujar seseorang yang masuk ke dalam ruang kerja Delice sambil membawa teh serta biskuit siapa lagi kalau bukan Diana.


__ADS_2