
Mendengar apa yang di katakan oleh Melody, Miranda segara tersentak kaget.
"Ahh!"teriak Miranda lantaran teh nya kini tumpah mengenai tangannya.
'Sungguh ceroboh' batin Melody sambil kembali meminum teh nya dengan anggun.
Sedangakan Devian dan Delice kini berdiri di belakang Melody dengan wajah kaku dan datar mereka.
"Yang Mulia maafkan saya atas keribuatn ini, saya hanya merasa sedikit gugup karena kehadiran anda yang begitu mendadak"ucap Miranda dengan cepat-cepat sambil mengelap tangannya dengan sapu tangan.
Melihat teh nya Melody kini sedikit tersenyum dan meletakan cangkir teh nya.
"Jadi kamu merasa tak senang akan kedatangan ku?"tanya Melody dengan sedikit tersenyum dingin.
"Tidak!, tidak Yang Mulia!, bukan seperti itu!, saya terlalu senang hingga merasa begitu gugup"ucap Miranda lagi.
Namun Melody tau bahwa dalam hati Miranda ini pasti sedang ngutuknya, dan merasa cemas bahwa sesuatu hal sudah terciuk oleh nya.
"Benerkah?, senang rasanya memiliki bawahan yang begitu setiap pada atasannnya"ucap Melody.
"Aha ha ha, tentu saja saya sangat setia pada Yang Mulia"ucap Miranda dengan senyum canggung.
"Tapi bagiamana ya, bawahan setia ku ternyata tak setia itu"ucap Melody sambil mengukurkan tangannya ke belakang, Delice yang mengeri isyarat itu langsung memberikan bebetapa kertas-kertas.
"Apa_!, Yang Mulia_!"kaget Miranda jelas dia sangat kaget akan hal itu, apa lagi saat melihat Melody menerima beberapa kertas dari salah satu Kesatrianya, Duchess di depan nya ini sama sekali tak mudah di bodohi!.
Pak!.
"Kamu tau apa itu"ucap Melody santai sambil kembali meminum teh nya sambil memandang beberapa kertas yang kini berserakan di atas meja dengan santai.
Miranda yang mendengar itu dengan gemetar mengambil kertas-kertas itu dan membacanya, isinya sungguh mengejutkan.
"Ini_, Yang Mulia saya sama sekali tak bersalah!, Yang Mulia!, ini semua perintah Baron itu!"teriak Miranda sambil berlutut di bawah kaki Melody meminta pengampunan
Dia sama sekali tak menyangka bahwa isi dari kertas itu adalah bukti semua kejahatan nya.
"Huh!, perintah Baron kamu bilang?"ucap Melody.
__ADS_1
"Iya Yang Mulia ini semua perintah Baron!"ucap Miranda sambil mengangguk-anggukan kepala semangat.
"Baiklah anggap saja bahwa ini semua sementara perintah Baron"ucap Melody santai.
Ucapan nya itu membuat Mirabda sedikit tersenyum seakan memiliki kesempatan, sedangkan Delice dan Devian terkejut dengan ucapan Melody.
"Yang Mulia ini_!!"ucap Delice yang berhenti karena isyarat tangan dari Melody yang menyuruhnya untuk berhenti berbicara.
"Kalau begitu bukan kah kita tinggal bertanya pada Baron apa dia pemimpinya"ucap Melody sambil memegang daku Miranda.
Miranda yang mendengar itu seakan tersambar petir di siang bolong, senyum nya kini kembali luntur dan wajah nya kembali di selimuti rasa takut, tubuhnya kini bahkan bergetar lebih hebat, dia tak menyangka bahwa Duchess yang dia remehkan sangat beracun!.
"Seret dia"ucap Melody sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Baik Yang Mulia"ucap Delice sambil mengkap Miranda.
"Yang Mulia!, saya benar-benar tak bersalah!, Yang Mulia percaya lah pada saya!"ucap Miranda.
"Diam kita akan buktikan siapa yang benar antara kamu dan kertas-kertas itu"ucap Melody sambil melirik kertas yang ada di atas meja.
Mendengar apa yang di ucapkan Melody, kini Miranda hanya bisa terdiam.
Miranda yang mendengar apa ucapan Melody tak bisa untuk tak terkejut, keputusan ini sangat berat, aset di bekukan dia masih bisa menerima nya, tapi komunikasi yabg di putus itu bisa menjadi bahaya baginya, karena dia tak bisa meminta bantuan ke pada para rekan nya.
Namun apa daya Yang Mulia Duchess sudah pergi berteriak di sini sudah tak ada guannya.
Melody menaiki kembali kudanya, sedangkan Miranda kini di dorong dengan kasar ke dalam kereta kuda.
"Rumah Baron, ayo pergi ke sana"ucap Melody tanpa melirik Delice yang menaiki kuda di sebelahnya.
"Baik Yang Mulia"ucap Delice.
"Semuanya bersiap!, pergi ke rumah Baron!"perintah Delice ke pada semua pasukkan nya.
Pasukan Mension Duchess kini sudah memakai pakaian yang lebih layak, bahkan itu sangat bagus, dan memiliki kualitas yang sangat bagus.
Derap kuda kini kembali terdengar memenuhi jalan menuju rumah Baron.
__ADS_1
Sama seperti Miranda, Baron juga melakukan penyambutan akan ke datangan Melody, hanya saja berbeda dengan Mirabda yang agak ceroboh, Baron jelas lebih siap.
Saat Melody sampai di sana dia bisa melihat Baron yang sudah menunggu nya dengan senyum yang bermekaran di depan gerbang, bahkan di sini sudah di hiasi oleh banyak karangan bunga untuk menyambutnya.
Tapi entah mengapa Melody tak senang dia justru ingin sekali meninju Baron sekarang juga, saat rakyat kelaparan bisa-bisanya Baron malah menghamburkan uang nya untuk membeli bunga yang sangat mahal di wilayah Utara ini.
"Selamat datang Yang Mulia~, senang menerima kunjungan anda Yang Mulia~"sambut Baron dengan senyum yang merekah bahagia.
Melihat reaksi Baron seperti nya itu sudah jelas dia belum tau maksud kedatangan Melody ke kediaman nya ini.
Tanpa sadar Melody melirik ke arah Devian yang kini memiliki wajah datar, siapa sangka bahwa Devian sedikit menggguk ke pada nya.
Melody yang melihat itu sedikit tersenyum, dia jauh lebih bisa di andalkan.
Melihat Baron, kini Melody segera turun dari kuda nya.
"Yang Mulia mari saya antar ke dalam"ucap Baron mempersilakan Melody berjalan dahulu.
Sama seperti sebelumnya Melody tanpa sungkan mendahului Baron.
Kini Melody sedang duduk di ruang tamu, dengan teh di atas meja, sudah Melody duga bahwa Baron ini sudah siap tapi dia tak menyangka dia akan sesiap ini.
Meja dengan teh terbaik, di tambah banyak camilan panas yang sepertinya baru saja di buat.
Mengambil teh dan meminum nya.
"Tak ku sangka kamu sangat siap Baron"ucap Melody dengan nada santai.
"Hohohoho!~, tentu saja Yang Mulia, untuk Yang Mulia yang harus di beri yang terbaik"ucap Baron berbunga-bunga.
"Baron apa kamu tau kenapa aku datang ke sini"ucap Melody sambil melatakan teh nya di atas meja.
Aura di sekitar Melody kini berbeda 130°, aura menekan kini menyebar ke seluruh penjuru ruangan, menakan Baron hingga dia seperti di timpa batu besar di dadanya.
"A_apa_maksud_Yang__Mulia_?"tanya Baron gagap.
Melihat Baron yang mudah gagap, Melody berfikir bahwa mental Baron ini sangat lemah sekali, hingga bahkan tak bisa menahan beberapa penekanan dari nya.
__ADS_1
Ternyata dia sangat lemah!.