Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 6 Pergi dan Serangan Pembunuh


__ADS_3

"Grand Duke Milian anda di sini?"tanya Melody dengan wajah datar nya.


___________


Grand Duke Milian tak menjawab dia justru tersenyum dan memberi salam sesuai etika.


"Salam pada Yang Mulia Putri Melody, atau perlu saya panggil dengan sebutan Duchess Utara?"tanya Grand Duke Milian masih dengan senyum sambil menatap ke arah Melody.


Mendengar itu Melody mendengus.


"Huh!, panggil saja aku dengan sebutan Duchess Utara tak sudi rasanya masih mengaku sebagai bagian dari Kekaisaran BlueMoon, lagi pula sebentar lagi aku akan mengajukan marga baru ku"ucap Melody, dalam hati dia sudah menyiapkan berbagai macam nama marga yang cukup keren.


Mengingat dan membayangkan bahwa dia akan di panggil dengan nama itu saja sudah membuat kepala nya meledak penuh kembang api karena senang.


Duke Milian yang mendengar itu hanya tersenyum.


"Baiklah Duchess Utara"ucap nya masih dengan senyum.


"Lalu kenapa kamu menyuruhku untuk membawa nya?"tanya Melody sambil menatap lurus ke arah nya.


"Dia akan berguna di sana yang mulia"ucap Duke Milian tersenyum sambil memandang anak nya yang kini masih saja memeluk kaki Melody dengan wajah penuh air matanya, bahkan pelukannya bisa di katakan semakin erat saja.


"Yang Mulia mungkin merasa bahwa ini aneh, kenapa saya mengizinkan pewaris saya pergi ke wilayan Utara yang berbahaya itu, sebenarnya saya juga khawatir namun, hutang harus di bayar"ucap Duke Milian.


"Hutang?, berapa banyak kamu berhutang?"tanya Melody dia tak tau tentang itu bahkan ingatan Melody yang dulu juga tak ada tentang pembahasan utang ini.


"Yang Mulia Ratu adalah Ratu yang baik beliau sangat bijaksana, saya hanya membalas kebaikan beliau dulu"ucap Duke Milian.


Sekarang Melody mengerti ibu dari Melody terdahulu memiliki sebuah jasa besar untuk sang Duke, jadi dia hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Baiklah, kalau begitu kami akan pergi sekarang saja"ucap Melody final.


Devian yang mendengar itu nampak senang, dan segera berdiri dan langsung menaiki kuda nya yang entah sejak kapan di sana, dia sangat bersemangat.


Melody hanya menggelengkan kepala kalau tak salah Devian berumur 17 tahun kan 9 bulan lebih muda dari nya, sebentar lagi berarti dia akan berumur 18 tahun ya?.


Berpikir demikian Melody menaiki kuda nya di ikuti oleh Kesatria Delice dan para Pengawal.


"Hiyaaaatt!"


Suara kuda meringkik kini terdengar nyaring, tak lama kuda yang di tunggangi Melody segera terpancu dengan kecepatan luar biasa.

__ADS_1


Kini kuda-kuda terpancu menuju gerbang Kekaisaran meninggalkan debu-debu yang bertebaran di belakangnya.


Kini gauh putih bersih Melody menari-nari dengan begitu indahnya, rambut panjang emas nya begitu indah dan bersinar di bawah sinar matahari kini begitu mempesona, di tambah wajah cantik dan bersihnya, terukir keindahan yang begitu menakjubkan, namun sayang nya wajah nya itu hanya bisa di lihat dangan samar lantaran tertutup dengan krudung pengantin.


Jika saja orang-orang tidak tau bahwa dia adalah seorang Putri maka pasti banyak orang akan berfikir dan berasumsi bahwa dia adalah seorang Kesatria pemberani penuh akan pesona yang menarik.


Kuda kini terpancu mendekat kearah gerbang Istana Kekaisaran.


Semakin dekat dengan gerbang Melody bisa melihat bahwa banyak sekali para Kesatria terutama para Pangawal yang sudah berdiri menunggu kedatangannya.


Melihat itu dari kejauhan Melody tersenyum tipis, dia tak menyangka kepergiannya yang mendadak tanpa berpamitan pada Kaisar bahkan masih di berikan perpisahan yang meriah oleh para Kesatria serta Pengawal.


Kini kuda nya semakin dekat dengan gerbang, saat kuda nya dan yang lain melewati mereka, mereka langsung menudukan kepala ke pada nya sampai diri nya tak kelihatan dari gerbang istana Kekaisaran.


Kuda terus terpancu dengan cepat, membelah jalan ibu kota, kini berita sudah menyebar keseluruh penjuru kekaisaran bahwa Putri Melody menolak pernikahan hingga sebagai hukuman beliau di perintahkan untuk menjadi Duchess Utara.


Semua tau bahkan mereka yang bukan dari Kekaisaran pun tau bahwa pergi ke Utara sama saja mengantar nyawa, dalam hati mereka sangat kasian kepada Putri Melody namun apa daya mereka tak bisa melakukan apa-apa, karena ini perintah Kaisar.


Walaupun Putri Melody tak pernah menampakkan wujudnya diluar namun kebaikan nya bahkan sampai penjuru negeri, itu lah sebab nya mereka merasa sedih.


Sepanjang jalan menuju gerbang ibu kota seluruh rakyat kini memberi jalan ke pada Putri Melody dan rombongan sambil memberi hormat bahkan taburan bunga kini terjadi di saat rombongan tersebut melewati mereka, walaupun itu mendadak namun para rakyat berusaha keras untuk memberi perpisahan kepada Putri Melody.


Walaupun tertutup oleh krudung pengantin mereka tau wajah Putri Melody pasti sangat tegas itu bisa di lihat dari postur tubuhnya yang tegap, kini mereka hanya bisa percaya bahwa suatu saat putri Melody akan kembali ke Kekaisaran dengan bagitu megahnya.


Kuda kini sudah melewati gerbang ibu kota, kuda Melody kini terpancu semakin cepat hingga membuat para pengikut yang mengikutinya pergi khawatir akan keselamatan nya.


Namun tetap saja Melody tak membuat ekspresi wajah, dia kesal hingga dia melampiaskan amaranya dengan cara memancu kuda dengan cepat seperti di kehidupannya yang dulu di mana dia akan mengendarai motor nya dengan kecepatan tinggi.


Namun di tengah jalan Melody menghentikan kuda secara tiba-tiba membuat mereka yang di belakang nya terkejut dan hampir saja mereka saling menabrak.


"Yang Mulia ada apa?"tanya Sir Delice tak seperti biasanya Putri Melody begini.


Tak ada jawaban dia hanya melihat ke arah Delice.


Delice yang malihat itu hanya bisa menghela nafas, rupanya dia sedang marah, dengan terpaksa kini Delice mengedarai kuda nya sampai di samping Melody.


Saat sampai di samping Melody kini dia paham apa maksudnya.


"Semuanya bersiap!"instruksi nya yang tiba-tiba membuat para Pangawal, serta Devian menarik pedang mereka dari sarungnya.


Sring~!

__ADS_1


Suara pedang kini terdengar samar-samar dari balik semak-semak rupanya para Pembunuh juga sudah bersiap untuk menyambut mereka.


Mendengar suara mendesis pedang kini mereka semakin waspada apa lagi Melody yang kini tidak memegang senjata apa pun.


Trang!


Tanpa aba-aba kini Devian menangkis sebuah pedang yang terbang ke arah nya.


Itu menandai bahwa perang telah di mulai.


Perang kini pecah di berbagai arah, suara pedang beradu kini terdengar meriah.


Trang!


Tang!


Ting!


Tang!


Ting!


Tang!


"Akh!"


"Gyaaa!"


"Ugh!!"


Trang!


Ting!


"Arghhh!!"


"Yang Mulia sebaiknya anda bersembunyi"ucap Devian yang kini di sebelahnya sambil menangkis pedang yang menuju ke arah nya.


"Tidak, aku tak bisa meninggalkan kalian di sini di tempat berbahaya ini"ucap Melody menggelengkan kepala nya.


"Yang Mulia tapi di sini_"ucap Devian panik namun kalimat nya kini terpotong.

__ADS_1


__ADS_2