Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 108 Mulai (7) Ibu Kota Kekaisaran yang Makin Parah


__ADS_3

"Yang Mulia apa anda tau apa yang terjadi di Duchy Salvier?"tanya Duke kini raut wajahnya makin serius.


"Bukan kah di sana sudah baik-baik saja?"bingung Kaisar dia sangat bingung akan jalan percakapan antara mereka berdua.


Duke Milian yang mendengar hal itu kini tak bisa berkata apa-apa, ternyata benar mereka kecolongan lagi sepertinya rencana itu harus di percepat.


"Yang Mulia apa anda tau bahwa Duchy Salvier hampir saja hancur pada waktu itu?, jika saja Pangeran Rexid tak segara mengambil tindakan!?"ucap Duke Milian.


"Apa maksudmu?, Duchy Salvier bahkan kemarin sangat baik"ujar Kaisar.


"Hah..., aku yakin Yang Mulia hanya tau dari surat saja bukan?, namun kenyataannya pada nyatanya surat dari Duchy Salvier sama sekali tak pernah sampai di sini"jelas Duke Milian lagi.


Kaisar yang mendengar hal tersebut dari Duke Milian kini merasa kaget.


"Apa yang kamu katakan Duke!, itu jelas tak mungkin?!"bantah Kaisar tak percaya.


"Menurut Yang Mulia apa itu masuk akal bahwa Duchy Salvier yang di serang oleh monster yang jelas-jelas sekali lebih besar dari pada tahun lalu bisa bertahan padahal keadaan Duchy Salvier saat itu bahkan masih pada masa pemulihan?"ujar Duke Milian.


"Dan juga apa Yang Mulia yakin itu tulisan Pangeran Rexid?"tanya Duke Milian.


Penjelasan dari Duke Milian mampu membuat Kaisar terdiam benar apa yang di katakan oleh Duke.


Dan tentang tulisan surat tersebut dia juga mulai meragukannya pasalnya setelah dia ingat-ingat lagi tulisan tangan Rexid itu penuh akan semangat namun sama sekali tak tercemin seorang bangsawan malah mencerminkan orang kasar, sedangkan surat yang kemarin datang jelas sekali walaupun itu sedikit dia bisa membedakan bahwa semangat yang tertuang dalan surat itu jelas sangat di buat-buat, apa lagi kata demi kata di dalamnya jelas sekali seperti berusaha seperti meniru sesuatu.


Menyadari hal tersebut diam-diam Demian mengumpat bisa-bisanya dia cerobah akan hal itu.


Karena kelalaian nya itu, dia jadi teringat saat surat itu tiba dia hanya membaca surat tersebut dengan sangat malas dan hanya berfokus pada isi dari pada gaya, apa lagi pada saat itu dia memiliki pekerjaan yang menggunung membuatnya malas bekerja.


Dan siapa sangka bahwa sikapnya itu malah membuatnya kebobolan untuk masalah yang amat penting seperti ini.


"Si4l!, jadi maksudmu kita kebobolan?"tanya Damian tak percaya.


Rasanya Duke Milian sama sekali tak ingin mengakuinya namun mau bagaimana lagi.

__ADS_1


"Huft~, sepertinya seperti itu Yang Mulia"ujar Duke Milian.


"Begitu ya"ujar Damian dengan tawa mirisnya.


"Hey Duke menurumu siapa dalang di balik hal ini?"tanya Damian dia sangat frustasi.


"Menurut anda bagaimana Yang Mulia?"bukan nya menjawab Duke Milian malah kembali bertanya pada Kaisar.


Dia sama sekali tak bisa menyuarakan secara langsung apa lagi keadaan yang masih abu-abu seperti ini itu cukup berresiko walaupun dirinya sudah memiliki dugaan tentang siapa yang membuat hal seperti ini bisa terjadi namun pendapat Kaisar lebih penting.


"Lakukan penyelidikan jadi tinggalah sementara waktu di ibu kota aku yakin pelakunya adalah orang-orang yang ada di ibu kota"perintah Kaisar yang segara di angguki oleh Duke Milian.


Sementara itu di Utara Rexid yang baru saja kembali ke kamarnya kini baru teringat satu hal.


Dia lupa mengirim surat kepada Devian tentang kedatangan Melody, walaupun dia tau mungkin Kekaisaran sudah mengetahui tapi melapor kepada sekutu tidak ada salahnya.


Sehingga pada malam itu juga merpati sihir terbang menuju di mana Devian berada.


Dalam bebarapa jam kedatangan Devian di ibu kota dirinya langsung  saja mendapat kiriman surat merpati sihir dari Pangeran Rexid.


Namun betapa terkejut nya dirinya sesudah membaca isi surat tersebut.


!!!


Pasalnya di ibu kota saat ini sama sekali tak memiliki kabar tentang kembalinya Yang Mulia Duchess Melody.


Dirinya yang merasa semakin ada yang tak beres segera saja berlari menemui ayahnya.


"Ayah!, ayah!, maksudku Tuan Duke!!"


Brak!!


Devian kini berteriak sepanjang jalan dan langsung saja mendobrak pintu ruang kerja ayahnya dengan keras Duke yang saat itu sedang membaca bebarapa dokumen terpenjat kaget bahkan dokumen yang ada di tangannya terjatuh dia lantai.

__ADS_1


"Apa yang terjadi kepadamu!, apa kamu benar-benar meninggalkan otak mu!"marah Duke kepada anaknya tersebut.


"Tuan Duke ini hal penting lihatlah"ujar Devian menyerahkan surat dari Pangeran Rexid.


Sama halnya dengan Devian Duke Milian juga terkejut pasalnya dia sama sekali tak mendengar hal ini dari Kaisar.


"Apa ini benar dari Pangeran Rexid, Devian?"tanya Duke Milian sungguh-sungguh.


"Iya aku yakin itu di kirim menggunakan burung merpati sihir milik Yang Mulia Pangeran dan juga surat itu juga di balut sihir agar tak bisa terlihat oleh siapa pun, sepertinya Yang Mulia Pangeran Rexid juga menyadari hal janggal tersebut sehingga beliau memberikan sihir berlipat ganda pada suratnya itu"ujar Devian.


Dia teringat akan keadaan burung merpati itu saat sampai kepadanya.


Keadaanya sudah sekarat dan jelas sekali ada jejak sihir pelindung yang hancur, serta jejak serangan, bahkan burung itu langsung menghilang setelah mengantarkan surat ke padanya.


"Ayah aku rasa lawan kita kali ini tak mudah dia sangat berpengalaman serta sepertinya ada seorang Penyihir hebat di pihaknya"duga Devian pasalnya Penyihir itu bahkan mampu melihat merpati tersebut yang jelas sekali di pasang sihir agar tak nampak.


Mendengar kalimat sungguh-sungguh yang di ucapkan oleh anaknya Duke Milian mengangkat satu alisnya bingung tak seperti biasanya anaknya tersebut berkata seperti itu, dan jika yang di katakan Devian benar maka itu akan bahaya.


"Devian sepertinya kita tak bisa bersantai lagi, jadi bisa kamu bantu ayah mencari siapa dalang di balik semua ini?"ujar Duke Milian.


"Tentu"ujar Devian tersenyum sebelum pergi dari sana.


Duke Milian sendiri kini sepertinya harus menemui Yang Mulia Kaisar untuk mempertanyakan kebenaran soal surat yang di dapatkan nya ini.


Sementara itu di kamar yang tak asing lagi bagi pembaca di mana lagi kalau bukan kamar Janda Permaisuri 1.


Prang!


"Apa!, bagiamana mungkin kamu bahkan tak bisa memblokir satu surat saja dari Duchy Salvier ke ibu kota Kekaisaran!!"marahnya pada seorang wanita dengan jubah hitam khas Penyihir di depannya.


"Maaf Yang Mulia sihir orang tersebut sangat kuat hingga hamba bahkan tak bisa menembus pertahannya jika saja hamba tidak menggunkan kekuatan penuh hamba"ujar wanita itu yang kini menuduk hormat di depan Janda Permaisuri 1.


"Huh!, baiklah aku memaafkan mu, kamu bilang bahwa kamu sudah berhasil membobol sihir pertahanan nya dan bisa kamu pastikan bahwa burung itu akan hancur di tengah jalan sebelum sampai ke tempat tujuan nya bukan?"tanya Janda Permaisuri 1.

__ADS_1


"Benar Yang Mulia"ujar wanita tersebut.


__ADS_2