
Sebagai seorang Kesatria yang akan menemani Duchess pergi ke pertambangan secara khusus Dame Clara dan yang lain nya sudah mempelajari beberapa hal itu semua karena mereka takut jika sewaktu-waktu Duchess akan bertanya untuk menguji mereka.
"Lalu berlian?"
"Saya tidak tau yang mulia tapi berdasarkan apa yang saya baca harga berlian tahun ini paling murah adalah 22.000.000 juta koin emas per-gram nya Yang Mulia"jawab Dame Clara.
Mendengar jawaban Dame Clara, Melody segera menutup kembali jurnal tersebut.
"Yang di katakan oleh Dame Clara itu benar lalu kenapa semua hasil tambang di sini hanya di jual dengan harga 50% dari harga asli?!"tanya Melody.
Pertanyaan itu membuat sang Penjabat makin gelagapan dan kebingungan.
"Itu_Yang Mulia_"namun sebelum Penjabat itu bisa menyelesaikan ucapannya, suaranya sudah di potong oleh seseorang yang memanggilnya.
"Hey Johan kenapa kamu tak menyambut ku?"ujar seseorang dengan songongnya langsung saja merangkul pundah Penjabat tersebut yang ternyata bernama Johan.
Melody dan Dame Clara yang melihat itu mengerutkan keningnya tak suka akan apa yang di lakukan oleh orang tersebut berani sekali dirinya merangkul seorang Penjabat dengan semena-mena.
"Tuan Zero, maaf kan saya"ujar Johan meminta maaf dengan sangat sopan sambil membungkuk kearah seseorang yang di panggil dengan sebuatan Tuan Zero.
Apa lagi saat Johan meminta maaf hal tersebut membuat Melody makin tak suka.
"Hey kamu siapa?!"tanya Melody.
Zero yang mendengar suara tersebut kini menoleh ke samping di mana saat ini Melody sudah turun dari kudanya dan mrmandanganya tak suka.
"Ah, Yang Mulia Duchess, maaf kan saya jika saya lancang"ujar Zero sambil membungkuk sopan tapi siapa saja bisa melihat Bahwa salam nya sama sekali tak tulus.
Melody yang menerima salam pun bisa melihat bahwa bibir dari Tuan Zero sedikit naik dengan senyum licik, Melody yang melihat itu lagi-lagi mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Ya, dan kamu siapa?"tanya Melody lagi.
"Yang Mulia saya adalah patner dagang anda saya juga lah yang selalu membeli hasil pertambangan dari tambang anda"ujar Zero.
Melody yang mendengar itu mengeratkan tangannya kesal sekaligus marah, kini dia tau siapa yang membeli hasil pertambangannya dengan harga yang amat murah itu.
"Jadi kamu pedagang itu?"ujar Melody jejek ketidak sukaan jelas sekali terdengar dari suaranya.
Namun seakan tak menyadari nya Zero hanya tersenyum dan mengangguk.
"Tantu Yang Mulia"ucap Zero.
"Kamu juga pedagang yang membeli hasil tambang ky dengan harga separuh dari harga aslinya, aku ingin tau keberanian macam apa yang membuatmu begitu berani seperti ini"ujar Melody aura membunuh kini kekuar dari tubuhnya.
Begitu pula dengan aura penekan yang kini menekan Zero dan yang lain nya.
"!!!"Zero yang mendapat tekanan sangat terkejut dan mulai merakan sesak nafas bahkan dirinya kini terjatuh di tanah.
Mendengar hal tersebut Melody tertawa, rasanya lucu mengancam seseorang yang merupakan saudari dari Kaisar sskarang, apa lagi yang dia ancam jelas sekali adalah saudarai paling di sayang oleh Kaisar, entah bod0h atau terlalu percaya diri Melody tak tau.
"Mengancamku yang merupakan seorang keluarga Kekaisaran?, apa kamu pikir kakak ku yang menduduki kuris tahta akan membiarkan mu?!, untuk mengancamku?"ujar Melody.
"Yang Mulia benar mungkin saja Yang Mulia Kaisar tidak akan menghukum anda tapi bagaimana jika ada bukti yang membuat Yang Mulia Kaisar harus menghukum anda?"ujar Zero dengan seringan licik di wajahnya bahkan tak ada yang namanya kekhawatiran sama sekali.
Jujur saja saat melihat wajah Zero membuat Melody geram ingin sekali rasanya Melody membunuh Zero di tempat namun dia masih saja menahan nya.
"Bukti bisa kamu tunjukan?"tanya Melody dia cukup percaya diri kalau bukti itu tak ada dan kalau pun ada Melody bisa dengan mudah menghilangkannya.
Mendengar hal itu senyum licik Zero semakin lebar dirinya kini mengeluarkan sebuah surat dari saku bajunya dan memperlihatkan isinya kepada Melody
__ADS_1
Surat itu berisi kontrak serta juga perjanjian dagang antara Duchy Salvier dengan Zero.
Dimana di sana tertulis bahwa Duchy Salvier mau menjual hasil pertambangan dengan harga 50% dari harga normal dan juga perjanjian ini tak bisa di hapuskan jika kalau sang pedagang belum meninggal Dunia.
Melody yang membaca itu kesal apa lagi saat melihat siapa yang bertanda tangan dan bertanggung jawab akan perjanjian tersebit siapa lagi kalau bukan Baron yang sudah putus kepalanya itu karena dia penggal.
"Perjanjian ini sudah tak berlaku bukan, lagi pula Baron yang melakukan perjanjian bersama mu sudah mati"sarkas Melody
"Hohoho~, apa Yang Mulia tak bisa membacanya?, di sini tertulis bahwa perjanjian ini akan tetap berjalan hingga saya mati bukan Baron mati jadi perjanjian ini masih berlaku bukan?"ujar Zero dengan senyum dan pikiran liciknya.
Ok, rasanya kesabaran Melody sudah habis rasanya dia ingin membunuh Zero sekarang juga jika saja Dame Clara tidak memegang tangannya dia yakin sekali kalau tangannya itu sudah menarik pedang yang ada di pinggangnya dan menebas kepala Zero di tempat.
"Yang Mulia tenanglah lebih baik kita kembali dulu dan mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini"ujar Dame Clara dengan berbisik.
Bahkan tanpa Dame Clara beri tahu pun Melody akan mundur tapi tentu saja Melody mundur bukan karena dia tak memiliki cari dirinya bahkan sudah memikirkan satu cara yang sangat luar biasa.
"Dame ayo mundur"ujar Melody.
Dame Clara yang berada di sampingnya kemudian membungkuk sebelum mengikuti Melody ke arah kuda meninggalkan Zero yang kini tersenyum meremehkan melihat Melody yang mundur.
Melody kini berkendara dengan kecepatan penuh dan dalam waktu singkat dirinya sudah sampai di Salvier.
"Dame kumpulakan semua pasukan ayo kita bunuh si Zero itu"ujar Melody dengan seringan.
Dame Clara yang mendengar itu memgedipkan matanya tak paham.
"Kenapa?, bukan dalam perjanjian itu tak ada kalimat yang mengatakan kalau aku tak boleh membununya?"ujar Melody dengan seringan kejam nya lagi.
Dame Clara yang mendengar dan melihat wajah menyeramkan dari Melody bergidik ngeri sebelum dirinya pergi untuk melakukan tugas dari Melody.
__ADS_1
Tak lama semua pasukan sudah berkumpul mereka semua para pasukan jelas sekali nampak kebingungan pasalnya saat ini mereka baru saja memasuki masa damai dan setau mereka, mereka sama sekali tak memiliki masalah.
"Semuanya dengarkan!"sebuah suara kini bergema di seluruh penjuru lapangan semua Prajurit segara saja menegapkan tubuh mereka.