Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 43


__ADS_3

Namun tetap saja ada satu hal yang membuatnya penasaran, kenapa sepertinya dia selalu merasa kelelahan saat menggunakan kekuatannya padahal kalau di ukur dari seberapa kuat Melody tak mungkin dia hanya memiliki stamina yang amat bagus tapi kenapa saat melawan pembunuh bayaran saat dia akan ke Utara dia langsung pingsan?.


Seakan-akan bahwa dia sangat lelah, dan juga dia yakin bajwa Melody yang dulu adalah Sword Master yang handal namun kenapa hanya di dalam kegelapan saja dia tak bisa menghindari serangan?, dan kenapa dia seperti tak bisa mengontrol kekuatan dam tubuh ini?.


Berbagai pertanyaan kini muncul satu persatu di dalam pikiran Melody, rasanya semuanya sangat tak masuk akal, hal itu seakan-akan yang dia rasa lelah bukan tubuhnya tapi itu seperti bagian lain seperti jiwa nya.


Melody kini tersentak, dia baru saja memikirkan nya apa sebenarnya tubuh Melody ini dan jiwa sama sekali tak cocok?, atau belum sepenuhnya menyatu?, entahlah yang pasti ada di keduanya.


Dan juga terkadang tubuhnya merespon suatu hal tanpa dia duga seperti saat itu saat di kediaman baron lapangan pelatihan kesatria saat Devian tak sengaja mengayunkan pedang kerahnya, dia yakin bahwa reaksi itu alami, karena tubuhnya bukan karena kehendaknya, atau jiwa Melody yang asli masih di tubuh ini sekarang?, dan dia masih koma?.


Semakin banyak tebakan yang masuk ke dalam otak nya kini kening Melody nampak berkerut sangat dalam, dia benar-benar bekerja sangat keras.


"Yang Mulia?, anda baik-baik saja"ucap seseorang khawatir pasalnya dari tadi dia melihat bahwa Tuan nya itu nampak berfikir keras hingga dahinya berkerut banyak.


Melody yang mendapatkan panggilan itu segera tersentak dan terbangun dari lamunannya, di pandangnnya seorang Prajurit di depan nya yang menatap nya dengan mata dan wajah cemas.


Tersenyum Melody melambangikan tangannya seperti mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja.


"Aku baik-baik saja, tidak usah mengkhawatirkan ku, lebih baik kamu istirahat masih ada waktu sekitar 5 jam sebelum gelombang ke 3 datang, jadi sebanyak mungkin kamu harus mengisi energi"ucap Melody.


"Terima kasiah Yang Mulia, tapi_, bukan nya yang mulia juga harus beristirahat?"tanya Prajurit tadi sedikit ragu, dia bimbang akan bertanya atau tidak.


"Kau benar aku juga akan beristirahat sebentar"ucap Melody yang kemudian duduk di bawah.


Adegan itu membuat Prajurit tadi sangat kaget dengan perilaku Melody yang bukan nya kembali ke markas malah duduk di tempatnya.

__ADS_1


"Yang Mulia, bukan kah anda harus kembali ke tenda?"tanya Prajurit itu lagi.


"Tidak di sini aku juga nyaman"ucap Melody dengan sedikit senyum, dia tak boleh lengah sama sekali, bisa saja bahwa gelombang ke 3 akan datang secara mendadak tanpa bisa dia duga sama sekali, jadi akan lebih baik jika dia menunggu di sini.


Jika belum memastikan nya sendiri Melody sama sekalu belum tenang, melihat wajah kekahawatiran yang jelas di wajah Tuan nya itu, Prajurit itu seperti paham.


"Yang Mulia terkadang beban menjadi seorang penguasa itu memang berat, tapi Yang Mulia yang masih muda begitu hebat bisa memimpin wilayah Utara ini dengan baik, saya sangat kagum dengan Yang Mulia, tapi bukan berarti Yang Mulia harus turun tangan sendiri agar menjadi seorang penguasa yang baik, ada kami di sini yang bisa menjadi tangan, kaki, dan mata Yang Mulia"


"Jadi Yang Mulia jangan bersikap seakan-akan semua beban ada di pundak Yang Mulia sendiri, jangan menanggungnya sendiri karena kami di sini akan menanggungnya bersama Yang Mulia"ucap Prajurit itu sambil menepuk bahu Melody.


Melody yang mendengar ucapan itu hanya diam, rasanya baru pertama kali baginya mendengar hal seperti itu entah di kehidupan dulu atau sekarang.


Dulu di sana semuanya sangat egois hanya tau bagiaman mencari keuntungan dari yang lemah, atau memanfaatkan orang lain untuk memenuhi hasratnya sendiri, mungkinada beberapa orang yang mendungkunya tapi yang keluar dari mereka bukan lah hal yang seperti paman di sampingnya keluarkan.


Bahu Melody kini bergetar, tak sadar aur mata kini menets dari kedua matanya, hal itu tentu saja membuat Parajurut itu merasa panik, bisa-bisanya dia membuat penguasa wilayan ini menangis.


"Hiks, hik"suara tangisan kini juga terdengar membuat Prajurit itu tambah panik.


"Yang Mulia jangan menangis, apa saya salah?"ucapnya begitu panik dia sama sekali tak tau apa yang harus dia lakukan.


Menghapus air matanya dia tak boleh menangis lagi atau dia akan membuat Paman di sampingnnya itu akan semakin panik.


Menghapus air mata nya kini dia melihat ke arah paman itu, dia kini tersenyum cerah sekan-akan bahwa ini adalah hari yang sangat bahagia baginya.


"Paman aku tak apa, aku hanya terharu akan semuanya"ucap Melody kepada Prajurit itu.

__ADS_1


Walaupun sisa-sisa air mata bisa terlihat jelas di wajah nya namun dia merasa cukup lega saat ini.


Prajurit itu yang melihat bahwa Melody tersenyum dia juga ikut tersenyum rasanya senang bisa membuat seseorang merasa lega, dia hanya berharap agar semua yang menjadi beban bagi Melody, dia bisa melepaskan ssmuanya dan mendapatkan kebahagiaannya sendiri suatu saat nanti.


"Kalau begitu Yang Mulia apa anda ingin saya antar ke tenda?"tanya Prajurit itu ramah.


"Tidak paman rasanya aku malu jika kembali"ucap Melody dengan semu merah di pipinya dia saat ini tersipu malu.


Gensi rasanya jika dia kembali dengan keadaan seperti ini dia malu dengan semua Prajurit yang ada, rasanya sangat malu, rasanya saat ini ada asap yang kekuar dari kepalanya.


Prajurit itu sangat paham apa yang di pikirkan oleh Melody sehingga dia tak mampu menahan tawa nya untuk pecah.


"Hahahahahahaha!, Yang Mulia anda sangat imut saat malu"ucap Prajurit itu tertawa lepas.


Melody yang mendengar tawa pecah di sampingnnya sungguh sangat malu, kenapa paman di samping nya utu tidak tau cara menghargai orang, setidaknnya jangan tertawa di sampingnya kan?.


"Baiklah Yang Mulia, biar saya yang akan mengambil hal-hal yang di butuhkan Yang Mulia ke mari"ucap nya menujuk diri nta sendiri dengan bangga.


Melody tak menjawab tapi paman itu langsung pergi sendiri, namun dalam hati paman itu merasa ada yang aneh dia sama sekali tak menyadari satu hal yang sepertinya cukup fatal.


Tak lama paman itu kembali membawa botol minum dan makanan yang pas untuk dua orang.


"Yang Mulia makan lah ini"ucap nya sambil menyerahkan satu nampan ke arah Melody.


Melody pun menerima nya tanpa bantahan dan langsung memakan nya.

__ADS_1


__ADS_2