Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 87 Kasus Pembunuhan


__ADS_3

Melihat ke daratan semuanya orang berpakaian dengan cara tradisional hanbok serta sepatu jerami cukup menarik perhatian.


Melody hanya segera melompat dari atas kapal dan segera menatap sekeliling mengamati semua hal yang bisa dia ketahui.


"Permisi, maaf mengganggu apa anda tau di mana penginapan berada?"tanya Melody sopan.


"Ah!, itu di sana anda hanya tinggal lurus dan belok kanan setelah itu belok kiri dan nanti akan ada tulisan penginapan di sana anda bisa menginap di sana"ucap pemuda korea itu sambil menunjukan jalan dengan tangannya.


Melody yang melihat itu mengangguk sebelum membungkuk dia harus tau bagaimana caranya bersikap sopan toh ini negeri orang.


"Terima kasih"ucap Melody dengan senyum serta sesopan mungkin.


"Iya sama-sama"jawab pemuda tersebut sebelum berlalu pergi dari sana.


Tak lama sebuah tepukan di punggungnya membuat Melpdy menatap ke belakang siapa sangka bahwa di sana ssmua awak kapal, Kapten serta Paman Wage sudah berdiri di sana walaupun mereka sambil menguap dan terlihat jelas sangat mengantuk.


"Pamam datang?, aku sudah menemukan penginapan untuk hari ini, lebih baik beristirahat di sini di daratan aku yakin tidur di tengah laut tidak terlalu nyeyak"ucap Melody.


"Benarkah, yah kamu benar nak tidur di kapal sangat tak nyaman apa lagi bagi makhluk darat seperti kami ini sangat sulit"ucap paman Wage.


"Benar sekali nona aku bahkan selalu was-was takut jika tiba-tiba kapal tenggelam"ucap seorang awak kapal yang Melody tak tau siapa namanya.


Jumlah mereka cukup banyak dan itu cukup sulit di ingat karena jujur saja Melody sebenarnya sangat lemah dalam mengingat wajah seseorang bahkan nama pun dia terkadang lupa.


"Jadi ayo pergi ke penginapan"jawab Nelody membimbing mereka semua melewati jalan seperti apa yang di katakan oleh pemuda desa tadi.


Di jalan mereka melewati pasar, pasar tradisional di sini cukup ramai dengan banyaknya aktivitas para warga apa lagi sepertinya tempat ini adalah tempat di mana sebuah perekonomian terbentuk jadi banyak pedagang bahkan pembisnis membuka usaha di sini.


Bahkan kalau boleh jujur biaya hi6duo di sini juga lebih mahal, apa jangan-janhan mereka ada di ibu kota?


Terserah sih asal dia tak kena masalah.


Baru saja Melody berfikir begutu hingga seorang pemuda menabraknya hingga terjatuh Melody yang belum siap akhitnya jatuh dengan mentah-mentah.

__ADS_1


Bruk!


"Eh_?"kagetnya.


Namun siapa sangka bahwa orang yang pertama kali bereaksi adalah Kaptem yang berusaha menangkap Melody namun terlambat sehingga dirinya hanya bisa memegang tangannya saja namun tetap saja Melody sudah jatuh.


"Kapten rasanya tak berguna kamu menolongku"ujar Melody sambil melihat tangannya yang di pegang oleh Kapten.


"Sudah untung di bantu masih saja rewel dasar bocah!"ujar Kapten yang tiba-tiba langsung ngambek lagi.


Melody yang melihat sang Kapten ngambek lagi hanya bisa mengheka nafas, dia sudah tak marah dengan Kapten lagi pula dia tipe orang yang sabar dan jika marah pun jarang atau sekali marah di juga tak akan lama tapi jika sudah tersulutt emosi mungkin semua hal bisa di lakukan bahkan jika harus membunuh orang.


Jujur saja sejak dulu bahkan sebelum ber-reinkarnasi ke Dunia ini dia sudah meemiliki pemikiran untuk memotong tangan seseorang, alasannya cukup mudah karena dia benci dengan orang itu tepatnya dengan tangan yang ada di sana dia sangat membencinya rasanya dia ingin memotong tangan itu setiap kali dia melihatnya.


Memikirkam hal itu Melody bergidik sendiri rasanya dia merasa seperti psikopat tapi yah Melody berfikir dia belum sampai tahap itu kan?


"Kejar pemuda itu!, dia mengambil dompetku!"teriak seseorang wanita dengan pakaian yang cukup bagus sekali lihat pun semuanya bisa tau bahwa dia pasti bangsawan.


"Apa yang kalian lakukan cepat kejar!"teriak wanita itu lagi.


Melody dan yang lain nya bahkan sempat mengira bahwa dia seorang pelacur dari pada seorang bangsawan seandainya mereka tak melihat batu giok yang memberi tau bahwa dia bangsawan mungkin mereka akan berfikir demikian.


"Di tempat ini sangat kacau bukan?"ucap paman Wage masih memgamati wanita tersebut yang masih saja sibuk untuk menyuruh para Pengawalnya menangkap penjahat tadi yang ternyata seseorang yang sempat bertabrakan dengan Melody.


Bengun dari terjatuhnya Melody menepuk bajunya yang kotor.


"Yah tempat ini cukup berantakan, tapi tak heran juga karena di mana pun tempatnya pasti akan selalu ada orang yang seperti itu bukan?"ujar Melody.


Yang mendakat anggukan dari semua orang.


"Pangkat wanita tadi sepertinya cukup tinggi"ujar Kapten yang entah sejak kapan sudah berjalan di sisi Melody.


"Yah benar dia dari manor keluarga Park_?"ucap Melody.

__ADS_1


"Kekuarga pak?"ucap paman Wage.


"Park paman park bukan pak"ujar Melody membenarkan apa yang di ucapkan oleh paman Wage.


"Yah apa pun itu aku tak perduli hanya saja semoga selama di sini kita tak pernah berurusan dengan mereka"ujar paman Wage.


Namun tak lama sebuah kerumunan di depan sana membuat semua orang penasaran dan mendekat untuk bertanya-tanya


"Ya ampun kasian sekali anak muda ini padahal dia masih muda, aku yakin masa depan nya masih begitu cerah dan panjang"ucap seorang wanita paru baya menghela nafas.


"Kamu benar padahal aku dengan dia baru lulus sarjana beberapa waktu yang lalu"timpal seseorang lagi.


"Sangat malang"


"Padahal dia sangat tampan, aku bahkan juga berfikir untuk menjodohkan putriku dengan nya tapi sayang sekali"


"Permisi bibi sebenarnya ada apa ya?"tanya Melody.


"Oh nona orang baru di sini ya?"tanya seseorang dari mereka.


Melody tersenyum sebelum mengangguk.


"Iya saya baru saja tiba bebarapa waktu yang lalu jadi belum terlalu tau akan apa pun yang terjadi di sini"ujar Melody.


"Pantas saja, akhir-akhir ini sangat banyak pembunuhan di sekitar sini, aparat anggota kepolisian juga tak bisa membongkar siapa pelakunya"


"Benar sekali apa lagi si pelaku jelas hanya mengicar korban dengan ciri-ciri yang hampir sama"


"Sama?, maaf bibi kalau boleh tau pada bagian apa?"tanya melody.


"Wajah, pembunuh itu selalu membunuh pria tampan, atau wanita cantik entah apa motifnya kami sama sekali tak tau"ujar seseorang.


Akhirnya Melody paham akan situasi.

__ADS_1


"Baik bibi terimakasih atas informasinya"ujar Melody membungkuk sebelum pergi berdesak-desakan dengan kerumunan.


Dia juga ingin lihat seperti apa mayatnya itu, dia ingin lihat wajah seperti apa yang di sukai oleh pembunuh itu.


__ADS_2