Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 23


__ADS_3

"Dari kapan kamu berperang?"tanya Melody yang membuat Devian menjadi kaku sejanak.


___________


"Itu_, saya sudah berperang dari kecil, saat saya berumur 6 tahun saya sudah pergi untuk berperang, karena pada saat itu Kekaisaran mengalami kritis, semua bangsawan yang bisa berperang sudah pergi berperang namun ternyata itu tidak cukup, sehingga dengan terpaksa saya di kirim untuk memimpin sebuah pasukan"


"Saya baru pulang bebarapa bulan yang lalu, saya sudah berperang selama 11 tahun"jawab Devian sendu jelas sekali bahwa Devian mengalami banyak kesulitan.


"Begitu ya"ucap Melody, dia merasa tak enak karena seperti nya sudah membuat seseorang merasa sedih, sehingga kini Melody tak berani melihat ke arah Devian dan berpura-pura fokus dan tak perduli dengan cerita Devian.


Devian yang melihat itu hanya tersenyum dia tau bahwa Melody sebenarnya merasa gak enak, dan berpura-pura untuk tifak tertarik.


"Pftt..., Yang Mulia saya tak apa"jawab Devian tertawa kecil.


Hal itu ternyata membuat Melody malu sehingga dia menyembunyikan wajahnya dengan sebuah dokumen.


Hal itu justru membuat Devian tertawa lebih banyak, menurutnya hal yang di lakukan oleh Melody itu nampak lucu.


"Pfttttt....., hahahahahahaha, Yang Mulia anda sangat imut"ucap Devian yang kini masih tertawa berbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang sakit karena tertawa terlalu kencang, bahkan Devian secara berkala mengelap air matanya yang terus saja keluar.


Melody yang mendengar tawa Devian merasa kesal sehingga.


"Diam!"ucap Melody berteriak ke arah Devian sambil berdiri.


"Ah iya Yang Mulia maaf kan saya"ucap Devian pada akhirnya tak baik juga jika terus mengejek penguasa wilayah.


Akhirnya ruangan itu kembali sunyi hanya suara kertas dan kuas yang terdengar di dalam ruangan itu Devian yang fokus dan Melody yang sama-sama fokus membuat suasana di dalam sana sangat sunyi dan tenang.


"Eh?, ini!_"teriak Melody tanpa sengaja sambil membaca tumpukan berkas di depan nya.


"Ah?, ada apa Yang Mulia?"tanya Devian yang terkejut.


"Yang ini sangat rapih aku tak percaya bahwa di sini masih ada orang yang jujur"jawab Melody.

__ADS_1


"Oh itu, beberapa dari milik pejabat memang ada yang bersih jadi sepertinya kita tak perlu untuk membenarkan semua berkas yang ada"ucap Devian sambil menunjukkan bebarapa berkas yang memang sudah benar dari sananya.


"Benar, jika begini aku memiliki bawahan yang bisa di percaya"ucap Melody sambil tersenyum.


"Yang Mulia apa perlu saya memanggil mereka agar membantu anda?"tanya Devian.


"Mungkin nanti sekarang belum bisa, karena aku harus membereskan beberapa serangga dahulu, sekarang jam berapa?"tanya Melody.


"Sakarang jam 3 sore"jawab Devian.


"Ternyata sudah hampir malam ya, baiklah hari ini sampai sini saja bekerjanya nanti malam aku harus menghadiri sebuah pesta, kamu bisa istirahat dulu, kita lanjut saja nanti"ucap Melody sambil berdiri dari duduknya dan melakukan sedikit perenggangan ototnya yang kaku karena terlalu lama bekerja.


Mungkin karena sudah terbiasa dia kini tak merasa terlalu lelah untuk mengerjakan banyak dokumen, yah setidaknya pekerjaan seperti ini lebih cocok untuk nya dari pada pekerjaan nya dulu sebelum reinkarnasi.


Setelah mengatakan itu Melody segera saja berjalan ke luar tanpa melihat ke belakang meninggalkan Devian yang masih duduk di kurisnya dengan tenang.


Kini ruangan itu sudah sunyi hanya ada Devian seorang.


Akhirnya dengan sebuah keputusan yang di pertimbangkan Devian kembali bekerja lagi pula hari ini dia tidak terlalu sibuk dan dia juga tak tau mau apa jadi lebih baik jika dia membantu Melody mengisi semua dokumen, kalau masalah pasukan Duchy dia merasa itu tidak perlu di khawatir kan lagi, para pasukan lebih mudah di atur selama ada Delice di sana dia yakin itu tak apa.


Kediaman Baron.


Brakk!!


"Duchess itu beraninya dia!,  hanya seorang putri yang di buang saja beraninya dia berbuat seperti ini ke pada ku!!"suara Baron kini begitu menggelagar di setiap sudut kediaman.


Dia merasa marah karena kejadian yang baru saja menimpanya, pasukan Duchess baru saja ke kediaman nya dan mengambil semua dokumen tentang wilayah yang selama ini menjadi tanggung jawabnya


Dan dia sama sekali tak bisa menolak apa lagi di antara pasukan itu siapa yang akan menyangka bahwa akan ada seseorang seperti Duke muda Duchy Milian?!.


Dia hanya takut bahwa Duchess menemukan kesalahan nya, apa lagi dia juga mendapat laporan bahwa Duchess bukan hanya mengecek rumahnya namun semua rumah pejabat di Duchy Utara.


"Gawat jika Duchess tau maka tamatlah riwataku, aku harus segera menyingkirkannya dengan cara membuatnya berada di bawah pengaruhku, lagi pula seorang putri kecil seperti nya apa yang bisa dia lakukan,  seorang putri yang seperti vas kaca yang sangat rapuh itu bahkan mungkin tak akan bisa menerima satu pun pukulan dari ku"ucap Baron dia sangat percaya bahwa dia pasti bisa menjadikan Duchess sekarang sebagai pion atau bonekanya.

__ADS_1


"Benar lebih baik sekarang aku menyiapkan pestanya dengan begitu baik dan mewah"ucap Baron dengan senyum licik.


Kamar Melody.


Melody kini sedsng duduk di depan meja riasnya, saat ini dia sedang di rias oleh para Pelayan nya.


"Yang Mulia bagaimana jika anda memakai gaun ini saja, ini sangat bagus"


"Tidak ini jauh lebih bagus dan elegan"


"Warna biru lebih indah"


Semua pelayannya kini berdebat tentang gaun apa yang akan di gunakan setelah keributan yang mereka lakukan saat membantunya mandi tadi,  jujur saja Melody yang sekarang sangat bingung dan pusing, dia bahkan tak habis pikir dengan Melody yang dulu, bagaimana dia bisa begitu tahan dengan semya ini, dia saja merasa sangat muak.


"Kalian diam lah"


Kalimat itu membuat para Pelayan seketika diam dan menatap ke arah Melody dengan kepala tertunduk mereka baru sadar jika mereka sudah tak sopan kepada Duchess Utara yang sekarang ini.


"Singkirkan itu semua aku tidak akan memakai semua itu, dan panggil penjahit ke sini aku akan membuat pakaian yang nyaman untuk pekerjaan ku yang sekarang ini"ucap Melody.


"Baik Yang Mulia"ucap para Pelayan.


Mereka pun dengan segera menyingkirkan semua yang ada, dan segera memanggil penjahit untuk datang.


Tak lama seorang penjahit datang.


"Salam untuk Yang Mulia Duchess"ucap penjahit itu dengan hormat.


"Ah ya, bisa kah kamu buat kan aku pakaian dengan cepat?"tanya Melody.


"Apa pun untuk Yang Mulia, saya yakin jika anda ingin memakainya untuk pergi ke pesta nanti malam kan?, saya akan berusaha membuat pakaian anda seindah mungkin"ucap pejahit itu sedikit bersemangat.


"Bukan gaun tapi ini"

__ADS_1


__ADS_2