Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 17 Kondisi Duchy Utara


__ADS_3

"Delice dimana Baron?"tanya Melody.


________________


"Baron Willton, mungkin ada di mension Duke atau di kediaman Baron?"jawab Delice dia tau apa yang di pikirkan oleh Tuan nya itu.


Dia hanya berdoa semoga Baron Willton bukan dalangnya jika dia dalangnya maka habis sudah nyawa nya.


"Pergi ke Mension"perintah Melody sambil memancu kuda nya memasuki kota, yang lain nya juga segera memancu kudanya mengikuti Melody.


Sepanjang perjalan, Melody bisa melihat bangunan-bangunan penduduk yang amat lusuh, kemiskian di sini ada di mana-mana jalan nya sangat tidak teratur bahkan banyak pengemis meminta-minta di sini.


Melihat orang tua, serta anak kecil, dan penduduk Duchy Utara memiliki penampilan lusuh, kurus kering membuat hati Melody sakit.


"Nona_, tolong_,sedekahnya sedikit saja_"


"Tuan Muda"


"Tolong"


"Sedikit saja"


"Tolong_"


Suara minta tolong yang lebih seperti rintihan terdengar di telinga Melody membuat Melody mengepalkan tangannya dan segera berhenti, begitu pun yang lain nya.


"Delice beri mereka makanan"perintah Melody yang segera di angguki oleh Delice.


"Baik Yang Mulia"ucap Delice sambing mengangguk.


Dia turun di ikuti oleh para Pangawal mereka dengan teliti memberikan makan kepada semua orang, lagi pula saat mereka sampai di Mension mereka sudah tak membutuhkan makanan itu dari pada mubasir dan di buang-buang lebih baik mereka berikan saja kepada yang lebih membutuhkan dari mereka.


Mereka semua nampak senang dan berbaris untuk menerima makanan yang di bagikan oleh para Pangawal.


Melody yang melihat keadaan rakyat serta wilayanya menjadi pusing kepalanya sungguh berdenyut.

__ADS_1


Di kehidupan lalu dia bukan seorang pejabat, atau pun seorang pekerja kantoran, dia hanya seorang siswi dengan Iq pas-pasan, tidak bukan Iq nya yang pas-pasan tapi itu karena diri nya yang malas belajar!!, memikirkan itu dia jadi sedikit menyesal tak pernah belajar pelajaran ekonomi dengan sungguh-sungguh.


Melihat semua rakyatnya Melody segara turun dari kudanya dan membantu para Pangawal serta Kesatria untuk membagikan makanan, sekalian dia cari informasi.


"Permisi, nyonya, apa saya boleh bertanya?"tanya Melody dengan sopan sambil memberikan beberapa makanan kepada seorang wanita paruh baya di sana.


"Apa yang ingin nona tanyakan?"ucap wanita paruh baya itu.


"Kenapa tempat ini seperti ini?"ucap Melody sambil menujukkan ekspresi muram nya.


"Itu, daerah Utara cenderung terpencil selain itu daerah ini sering di landa oleh monster"jawab wanita paru baya itu menjelaskan.


"Bagaimana dengan pengurus wilayah ini, apa mereka tak mengambil tindakan tentang monster yang selalu melanda?"tanya Melody lagi.


"Hump!, maksud ada Baron dan para ateknya itu, mereka sama sekali tidak perduli dengan wilayan ini, mereka hanya suka berfoya-foya dengan harta yang ada, bahkan pertahan pertama yang sudah rusak pun tak di perbaiki oleh mereka,  selain itu pejabat setempat juga sangat busuk mereka hanya melalukan pengelapan uang setiap harinya tanpa memikirkan kami rakyatnya"


"Seandainya saja saya punya uang sudah dari lama saya pergi dari wilayan Utara yang buruk ini"ucap wanita paruh baya itu dengan membara.


Mendengar apa yang di katakan oleh wanita itu cukup membuat Melody terbakar api amarah.


"Lalu bagaimana dengan para Kesatria?"tanya Melody.


Kalau boleh Melody berkata jujur, semua hal yang terjadi di Utara sangat lah berantakan, di tempat ini sama sekali tak ada orang yang bisa di andalkan, apa itu artinya dia harus berjuang dari nol sendirian.


Memikirkan hal itu membuat kepala Melody berdenyut sakit, kepalanya kini berputar, memegang kepalanya Melody terhiyung-hiyung hendak roboh.


'Eh_?'


Puk!


"Yang Mulia!"sebuah terikan membuatnya kembali ke alam nyata.


Suara itu adalah suara Devian yang menangkap tubuhnya sangat hendak jatuh tadi, Melody yang merasa pusing entah kenapa mulai merasa bahwa tubuhnya tak enak badan.


"Yang Mulia anda demam?"ucap Devian khawatir dan langsung menggendong Melody.

__ADS_1


"Sir Delice, aku akan pergi ke Mension terlebih duhulu, Yang Mulia sepertinya demam"ucap Devian, tanpa menunggu jawaban dari Delice, Devian segara saja pergi tanpa menunggu jawaban dari Delice.


"Ah ya!"jawab Delice cepat dia juga cemas tapi dia akan mengerjakan tugas yang di berikan oleh Melody saja dulu, lagi pula dia percaya pada Devian bahwa dia pasti bisa mengurus Melody dengan baik.


Menaiki kudanya Devian memposisikan Melody di depannya dengan tubuh Melody yang bersandar ke padanya dia hanya berdoa dan berharap semoga kejadian waktu itu tak akan terulang hari ini.


Memikirkan waktu itu membuat wajah Devian memerah dengan canggung.


Devian bisa merasakan cengkraman erat di pakaiannya, satu tangan memegang Melody agar tak jatuh dan satu tangan lagi memegang kendali kuda akhirnya Devian memancu kudanya pergi ke Mension Duchess.


Khikkkk!!


(Suara kuda)


Tak tuk tak tuk tak tuk!!


(Suara langkah kuda)


Dari kejauhan Devian bisa melihat sebuah Mension mewah yang amat indah dan besar sangat berbeda dengan yang tadi bahkan Mension ini mungkin lebih bagus dari pada Istana Kekaisaran.


Melihat Mension yang semakin dekat, Devian memancu kudanya lebih cepat.


Di depan gerbang Mension dua Pengawal yang berjaga menyadarai keberadaan mereka bahkan tanpa bertanya mereka siapa, kedua Pengawal itu segera membuka gerbang bahkan saat Devian masih berjarak cukup jauh dari Mension, mungkin karena rambut emas yang berkilau yang hanya menjadi lambang anggota keluarga Kekaisaran.


Sampai di depan Mension Devian segera turun dari kudanya dia bahkan tak menoleh lagi ke arah kudanya dan hanya berjalan dengan wajah lurus dan datar masuk ke dalam Mension.


Saat masuk Baron sudah ada di sana menyambut mereka semua.


"Selamat datang Yang Mulia Putri"sambut sang Baron sambil membungkuk.


Melihat penampilannya sekilas saja Devian bisa paham apa yang terjadi, dia tak menyangka laki-laki tua yang terlihat bijaksana dan lembut di depannya ini ternyata tak seperti kelihatannya.


Memang pepatah, 'jangan melihat seseorang dari penampilannya' sangat terbukti benar saat melihat Baron saat ini.


"Iya, siapkan ruangan untuk Yang Mulia Duchess istirahat"ucap Devian yang hanya berjalan lurus menaiki tangga tanpa melihat atau pula melirik ke arah Baron.

__ADS_1


Seorang Pelayan segera menghampiri Devian dan memandu Devian menuju kamar Duchess yang ada di bagian paling atas serta paling mewah di semua ruangan di Mension Duchess.


Tanpa Devian sadari Baron mengapalkan tinjunya.


__ADS_2