
Namun sepertinya dia cukup terlambat pasalnya tak lama Prajurit itu benar-benar jatuh kelantai dengan suara yang kerat.
Brukk!
Suara tersebut cukup membuatnya ngilu saat mendengar suaranya saja.
Namun tak lama dia bisa melihat bahwa Prajurit itu bisa berdiri dan bahkan berlari dengan sangat sehat nya.
Melihat hal tersebut Melody hanya bisa bengong akan apa yang dia lihat, sungguh orang yang tak pantang menyerah dan bersemangat pikirnya merasa kagum.
Benar saja saat dirinya sampai di depan Mension dia bisa melihat kereta kuda yang sudah berada di sana menunggunya.
Dengan cepat Melody masuk ke dalam tapi sebelum masuk di mengatakan tempat tujuan nya.
"Desa Snowers"ujarnya dan segera masuk ke dalam.
Perjalan nya kali ini sama sekali tidak di kawal oleh Kesatria satu pun melainkan oleh para Pengawal dan Prajurit.
Semua rombongan memakai kuda sebagai alat transportasi mereka berjalan dengan formasi.
2 orang di depan 2 di samping kiri, 2 di samping kanan dan sekitar 35 orang mengikuti di belakang.
Jumlah yang lumayan kecil untuk suatu kunjungan yang jauh, lantaran biasanya mereka akan membawa setidaknya 50 orang yang mengikuti di belakang namun menurut Melody 34 orang saja sudah merupakan jumlah yang besar.
"Sangat di sayangkan semua Sir itu pergi bekerja di ibu kota"ujar Melody menatap keluar jendela.
Yah salah kan dia juga yang mengirim para Sir untuk berpencar di seluruh Duchy mengawasi setiap perkembangan yang ada bahkan ada juga dari mereka yang menjadi pelatih dadakan untuk suatu organisasi yang di bentuknya.
Yah tapi sebenarnya dia paling banyak menyuruh para Sir untuk bekerja di Kepolisian sih.
Mungkin masih ada Sir yang di kediaman tapi mereka sebenarnya adalah para orang-orang yang baru pulang menjalankan perintahnya karena pergantian sip.
Membayangkan seberapa kerasnya mereka bekerja satu hari satu malam membuatnya tak tega sama sekali untuk mengajak mereka sebagai penjaganya.
__ADS_1
Jadi intinya adalah dia akan membiarkan mereka semua istirahat, lagi pula sesudah ini mereka semua akan memiliki pekerjaan tambahan.
Memikirkan seberapa lelah mereka nanti Melody cukup kasian kepada mereka semua tapi mau bagaimana lagi ya, semua hal ini kan dia lakukan untuk kesejahteraan rakyat bukan kesejahteraan Para Kesatria.
Keluar dari Mension kereta kuda beserta seluruh pasukannya kini menghilang dan beberapa saat kemudian muncul di depan gerbang desa dengan tanah basah.
Para Prajurit tentu saja terkejut dengan hal tersebut karena di teleportasi kan secara tiba-tiba seperti itu tapi mereka hanya sebentar terkejut dan kemudian kembali melanjutkan perjalanan masuk ke desa tersebut hingga di depan rumah kepala desa di sana.
"Yang Mulia kita sudah sampai di rumah kepala desa"ujar seorang komandan Prajurit.
Melody yang mendengar hal tersebut seketika mengangkat satu alisnya dia tak menyangka kalau mereka bisa peka dan langsung membawa nya ke temoat yang dia inginkan.
Melody akhirnya keluar dari dalam kereta kuda.
"Selamat datang Yang Mulia Duchess Salvier"sapa kepala desa dengan sopan kepada Melody dengan tata karma seadanya yang bisa mereka lakukan.
Menatap sekitar akhirnya tatapan Melody jatuh ke arah kepala desa yang membungkukkan kepala dengan seluruh anggota keluarganya.
Sekali pandang Melody juga tau kalau hal itu bukan tata karma yang baik dan benar tapi mengatahui keadaan bahwa mereka mungkin saja tidak di didik dengan tata karma tingkat tinggi cukup bisa di maklumi.
Tapi saat dia melihat sekitar dia berubah pikiran.
Mungkin mereka tidak cocok dengan tata karma pasalnya pekerjaan mereka jelas tidak cocok dengan tata karma.
"Yah silakan angkat kepalamu, tak perlu terlalu sopan aku baik-baik saja"ujar Melody.
Mereka segera saja mengangkat kepala mereka semua.
"Yang Mulia maaf jika hal yang ada di sini membuat anda merasa tak nyaman, desa kita ini memang lumayan kotor dan lumayan kumuh"ujar kepala desa tak enak hati.
"Tidak apa paman, aku baik-baik saja"ujar Melody dengan senyum.
"Yang Mulia mari masuk ke dalam Yang Mulia"ujar kepala desa mempersilakan Melody untuk masuk ke dalam rumah sederhananya.
__ADS_1
Melody juga tak menolak hal tersebut dan masuk ke dalam rumah tersebut.
"Silakan duduk Yang Mulia, maaf kalau anda merasa kurang nyaman"ucap kepala desa dengan tulus.
"Ya tidak apa-apa"ujar Melody.
Tak lama teh kini di sajikan di hadapan Melody.
Bahkan hanya dengan dan dari baunya saja Melody bisa tau kalau teh yang ada di depan nya ini memiliki kualitas yang cukup buruk dan begitu jauh dengan teh yang sering dia minum.
Namun walaupun begitu dirinya tetap saja meminum teh tersebut dan rasanya ternyata cukup berbeda.
Namun Melody hanya tersenyum seakan tak ada apa-apa yang terjadi dan bersikap bahwa tak ada yang salah dengan teh tersebut.
"Jadi begini kepala desa kedatangan saya kali ini ingij berkunjung ke desa ini dan mengamati sekitar desa dan saya ke sini ingin meminta ijin untuk hal rersebut"ujar Melody.
Kepala desa terlihat sangat senang dengan Melody apa lagi saat Melody meminum teh yang di sajikan tersebut.
"Tentu saja saya sangat senang dengan kunjungan yang di lakukan oleh Yang Mulia, biarkan saya yang akan membimbing anda untuk berkeliling desa Yang Mulia"ujar kepala desa dengan senang hati.
"Kalau begitu bisakah kita pergi sekarang?"tanya Melody.
"Tentu saja Yang Mulia saya tau bahwa anda pasti memiliki banyak pekerjaan yang harus cepat anda selesaikan bukan, jadi mari saya antar"ujar kepala desa dengan sangat sopan sambil mempersilakan Melody untuk keluar terlebih dahulu.
Sementara itu di Mension Duchy kini Devian yang baru saja bangun dari tidurnya sangat kaget pasalnya dia sudah ada di atas ranjang dengan begitu nyaman nya.
"Aneh padahal aku yakin aku ada di atas kuda saat itu"ujar Devian menatap sekeliling.
Ruangan itu kini sudah sepi sepertinya semua Kesatria sudah tertidur di dalam sana buktinya mereka semua kini berbaring di atas kasur masing-masing dan dengkuran juga terdengar dari mulut mereka.
Devian yang sama sekali belum sadar jika ada hal aneh hanya beranjak dari kasurnya dan segera menunjukan kamar mandi untuk membersihkan dirinya lantaran dia merasa sangat lengket.
Tak lama akhirnya dia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya.
__ADS_1
Baru saat iti lah dia ingat hal yang di lupakan.
"Astaga!, Yang Mulia!"teriknya syok berat bisa-bisa dia melupakan hal tersebut.