
"Mungkin kamu akan tau sesudah membacanya, Baron"ucap Melody sambil meletakan beberapa berkas di depan Baron.
Baron yang melihat berkas di atas meja segera mengambilnya dan membacanya, ekpresinya sungguh tak terduga.
Melihat ekpresi Baron kini membuat Melody tak habis pikir.
Dengan wajah tenang tanpa rasa bersalah Baron meletakan kembali semua berkas itu.
"Saya sama sekali tak habis pikir dengan tuduhan ini Yang Mulia, jadi Yang Mulia berfikir bahwa saya berhianat hanya karena tumpukan kertas ini?"ucap Baron santai sambil tersenyum lebar.
Mendengar jawaban itu Melody menyeringai.
"Benarkah?, apa kamu yakin bahwa kamu tak berhianat, Baron?"ucap Melody lagi suara nya tenang namun di dalam nya penuh akan intimindasi.
Melirik Baron, rupanya dia belum sama sekali bergeming menghela nafasnya, sudah bisa di duga bahwa pemimpinnya akan sangat tenang, tapi untuk Baron yang terlihat bodoh ini dia sungguh tak percaya bahwa dia bisa santai di situasi seperti ini, kecuali bahwa dia sama sekali tak menganggap Melody sebagai Penguasa atau pun seorang mantan Putri Kekaisaran.
Memikirkan hal itu Melody sedikit tersentak, kalau di ingat lagi sepertinya cara bicaranya memang seperti kurang sopan bukan?, contohnya dia banyak tertawa di depan anggota Kekaisaran, berbeda dengan bangsawan lain yang bersikap sopan namun mereka tak ada yang terlalu berani untuk tertawa dengan kencang, tapi Baron ini berbeda.
'Heh!, jadi dia sama sekali tak mengganggap ku sebagai Panguasa?!, beraninya dia memangnya dia itu siapa?'
"Jadi kamu menuduh bahwa orang-orang ku yang ku bawa dari Istana Kekaisaran berkhianat?"tanya Melody juga santai.
"Tentu saja tidak Yang Mulia, bagaimana mungkin saya berani memgatakan bahwa orang-orang Istana Kekaisaran tak setia"ucap Baron.
"Begitukah?, tapi Baron bawahan mu sudah mengaku jadi menyerahlah, lagi pula bukan hanya itu bukti yang ku punya"ucap Melody.
"Yang Mulia saya sama sekali tak tau apa yang anda bicarakan"elak Baron lagi masih dengan usaha untuk mempertahan kan wajah tenang nya.
"Kemarin malam seorang pria pergi ke jalan belakang Ducky dia bertemu dengan seorang pria lain nya yang di duga merupakan seorang perdagang ilegal...."kalimat demi kalimat kini keluar dari mulut Melody.
Setiap kata yang terucap membuat Baron bergetar sedikit demi sedikit.
"Kau tau apa yang mereka lakukan?, kenapa mereka bertemu?, ku rasa kamu tau apa jawaban nya, tapi karena aku sangat dermawan maka akan ku beri tau, mereka melakukan transaksi, kamu tau transaksi apa?, mereka akan melakukan kerja sama melakukan perdagangan manusia yang jelas-jelas bahwa hal tersebut di larang oleh Kekaisaran, seandainya Kekaisaran tau apa yang akan di lakukan Kekaisaran ya?, pasti nya orang itu akan di hukum mati berserta seluruh kelurganya bukan, karena itu termasuk penghianatan"ucap Melody pada akhirnya dengan seringan kejam, dia menang.
Brukk!!
Suara itu cukup menarik perhatian Melody serta kedua Kesatrianya, melihat Baron kini berlutut di lantai dengan kedua lutut menyentuh lantai, dengan tubuh bergetar ketakutan, cukup menghibur ternyata, tanpa sadar sorot mata Melody penuh akan rasa ketertarikan, bahkan sebuah senyum senang, dan tertarik sudah terukir di bibirnya.
__ADS_1
"Yang Mulia!!, saya mohon ampuni saya, saya mengaku salah, tolong Yang Mulia!!"teriak Baron sambil bersujud mengetuk kan dahinya ke lantai hingga berdarah-darah.
Namun memangnya siapa di depan nya itu?, dia Melody, Melody dari Dunia lain yang sudah lama berharap akan mengalami hal seperri ini dalam hidup nya.
"Pftttt...., Hahahahaha!!!!!, mengampuni mu?, Baron kamu terlambat!, menurutmu apa masih ada kata maaf untuk mu"ucap Melody sambil mengelap air matanya yang keluar akibat tertawa terlalu keras
"Lucu sekali, sangat lucu, ekpresi ketakutan mu itu aku menyukai nya"ucap Melody sambil menatap Baron dengan bahagia.
Baron sendiri kini bergidik ngeri melihat wajah Melody yang menurutnya tak normal, dia salah lawan, bagaimana bisa dia memacing seorang psikopat untuk menjadi lawan nya, dia pasti sudah gila!!.
Sring~~
Benda dingin yang tajam kini menyentuh leher Baron yang masih dalam posisi bersujud, merasakan benda dingin itu Baron sedikit-demi sedikit mengangkat kepala nya.
Hanya untuk melihat Melody yang mengarahkan pedang ke arah nya dengan tatapan serat aura yang menakutkan dan itu cukup membuat nya bergidik ngeri, bagaimana bisa?, dia sama sekali tak sadar bahwa Duchess memiliki aura yang menakutkan.
"Baron atas kesalahan mu aku jatuhi ku hukuman mati tanpa persidangan"ucap Melody mengangkat pedang nya tinggi-tinggi dengan seringan kejam di bibir nya yang membuat mata Baron terbelak.
"Tu_"
Bluk
Gelundung~~~
Belum sempat diri nya meminta keringanan kini kepalanya sudah terpisah dari badannya dan menggelindung di lantai.
Darah kini menyiprat ke mana-mana termasuk ke wajah Melody yang cantik dan putih itu.
Mengelap darah yang ada di pipinya dengan santai Melody kemudian berbalik.
"Bereskan itu, dan untuk Miranda sekarang jatuhi hukuman mati ke pada nya di alun-alun beserta semua para pengikutnya, tanpa terkecuali, karena aku tak membutuhkan orang seperti mereka sama sekali"kata Melody sebelum pergindari sana dengan tatapan yang menakutkan.
"Baik Yang Mulia!"ucap Devian dan Delice secara bersamaan tanpa memiliki sedikitpun keluhan.
Siang ini para pejabat termasuk Miranda yang telah berbuat salah kini di seret di tengah alun-alun kota dengan banyak nya warga yang melihat mereka di seret.
"Maju!"ucap seorang penjaga sambil mendorong bahu Miranda kasar.
__ADS_1
Miranda yang di kasari sama sekali tak bisa melawan seperti biasanya dia hanya bisa menuduk menghindari tatapan serta terikan dan hinaan yang datang kepada nya.
Ramai~~
Ramai~~~
"Itu dia penjabat korup!!"
"Rasakan itu!!!"
"Akhirnya ada keadilan di Utara ini!"
Ramai~~~~
Dung!!~
Dung!!~
Dung!!~
Sebuah suara gendang kini di pukul, seakan menyuruh semua warga untuk diam.
"Semuanya harap diam!!!!"teriak seorang penjaga membungkap semua orang yang ada di alun-alun.
Tak lama Melody kini naik ke atas panggung, semua pasang mata menatap ke arah nya dengan kagum jubah biru lautnya kini mempesona dan berkibar penuh akan wibawa.
"Hari saya Duchess Utara, Duchess Salvier Panguasa Utara akan menjatuhi hukuman mati untuk mereka semua, akan tuduhan atas penyalah gunaan kekuasaan serta penggelapan dana masyarakat"
Suara Melody kini bisa terdengar sampai ujung walaupun dia sama sekali tidak berterika, itu semua tentu saja tidak lepas akan kekuatan sihirnya yang amat membantu.
Sring~~~
Menarik pedangnya tinggi-tinggi, teriakan para rakyat mengema di seluruh penjuru ibu kota.
"Sebelum itu apa ada pesan dari kalian semua?"tanya Melody ke pada Miranda dan para narapidana yang lain nya.
Mereka semua nampak sangat lesu, dengan lingkaran hitam di bawa mata mereka serta baju yang compang-camping.
__ADS_1