Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 159


__ADS_3

Delice yang mendengar suara itu kini terbangun dari lamunan nya dan menatap kearah Istrinya yang kini tersenyum sembari membawa teh untuknya.


"Yah kamu benar rasanya sangat di sayangkan dia harus seprti ini"ujar Delice membantu Diana meletalan nempan tersebut di atas meja nya.


"Lalu bagaimana dengan surat yang datang dari Istana Kekaisaran, soal bahaa Janda Permaisuri pertama akan di hukum lebih cepat yaitu besok apa kamu sudah memberi tahu Duchess?"tanya Diana.


Hal itu cukup membuat gerakan Delice yang hendak memasukan biskuit ke dalam mulutnya berhenti.


Menghela nafas dia kembali meletakan biskuit itu ke piring, kini dia menatap serius kearah Diana, melihat suaminya yang seperti itu Diana tau bahwa pasti suaminya itu lupa akan hal tersebut.


Tersenyum


"Kamu lupa memberikannya?"


"Benar aku lupa"ujar Delice serius.


"Baiklah kalau begitu biarkan saja aku yang memberikannya, kebetulan aku harus menyetorkan sesuatu kepada Duchess soal pengurusan Mension ini"ujar Diana.


"Baiklah kalau begitu aku serahkan kepada mu"ujar Delice menyerahkan surat bersetempel Kekaisaran kepada Diana.


Setelah menerima surat itu segera saja Diana pergi menuju ruangan Melody tak lupa dirinya juga membawa beberapa berkas yang harus di lihat dan di teliti oleh Melody, berkas itu isinya adalah pengurusan Mension.


Sementara itu di ruangan Melody mereka berdua Melody dan Devian sedang bekerja seperti robot dengan kecepatan yang amat cepat.


"Devian menurutmu masalah di desa ini sepertinya aku harus mengirim siapa?"tanya Melody meminta saran.


"Soal apa itu Yang Mulia?"tanya Devian dengan mata yang masih saja fokus ke perkerjaan nya.


"Ini desa di perbatasan katanya di sana banyak bandit yang selalu berkeliaran untuk merampok di sana dan itu adalah satu-satunya alasan kenapa mereka sama sekali tak bisa berkembang, padahal dalam segi pengolahan semuanya amat baik dan juga penghasilan masyarakatnya sangat tinggi di atas UMR Duchy ini tentunya"ujar Melody.


Bukan tanpa sebab kenapa dia bertanya kepada Devian hal tersebut di karenakan Devian selalu bersama para Kesatria jadi dia yakin bahwa Devian lebih memahami mereka semua dari pada dirinya.

__ADS_1


Berhenti berkerja Devian nampak berfikir sebentar sebelum merekomendasiakan beberapa nama untuk di kirim.


"Ada beberapa yang menurutku cocok dan bisa di kirim pada saat seperti ini, itu ada Sir Ian, Sir Aster, dan Sir Yolovi"ujar Devian dan kembali bekerja.


Mendengar nama-nama yang di katakan oleh Devian, Melody hanya bisa memgangguk pasalnya dia sama sekali tak tau siapa mereka semua.


"Benarkah?"ujar Melody sebelum menarik bel di sampingnya.


Bel di sampingnya ada dua berwarna biru dan merah, Bel merah untuk memanggil Pelayan dan Bel biru untuk memanggil Penjaga.


Sehingga tak lama setelah Melody menarik bel biru seorang Penjaga segera saja masuk ke dalam ruangannya.


"Salam Yang Mulia Duchess, apa ada yang bisa saya bantu?"ujar Penjaga tersebut.


"Ya!, tolong serahkan amplop ini ke Sir Ian"ujar Melody sambil memberikan cap resmi di surat tersebut dan memberikannya ke arah Penjaga tersebut.


"Baik Yang Mulia Duchess akan saya kerjakan"ujar Panjaga tersebut dan segera undur diri.


Kalau di ingat-ingat mereka berdua sudah menyelesaikan sekitar 98 persen semua berkas yang menumpuk sejak Duchy di abaikan, dan sekarang Melody sudah nampak bahagia karena berkas itu hanya tinggal yang ada di ruangnya.


Jadi kini mereka sepakat akan menyuruh bawahan saja yang akan pergi kecuali kondisi desa yang tak memungkinnya untuk di tangani oleh orang yang di utus maka mereka sepakat akan turun tangan.


Tak berapa lama kini seseorang mengetuk pintu tanpa menatap pintu Melody hanya berkata satu kalimat


"Masuk saja"ucap Melody nampak sekali bahwa dirinya kini sangat fokus dengan suatu hal yang sedang dia baca.


"Salam Yang Mulia Duchess, apa kabar anda baik-baik saja?"


Mendegar suara itu Melody sedikit tersentak dan segera mengalihkan pandangannya ke arah suara tersebut.


Kini di depan sana Diana berdiri sambil memberi salam.

__ADS_1


"Ah Diana!, apa ada hal yang mendesak?"tanya Melody.


"Iya ini soal pesan dari Istana"ujar Diana dan memberikan serat dengan stempel Kekaisaran kepada Melody


Membuka amplop tersebut wajah Melody segera menjadi serius.


Berdiri dengan tiba-tiba dari duduknya hal itu membuat Devian mengangkat satu alisnya bingung, sedangkan Diana sendiri kini dia sudah mundur dan segera keluar dari ruang kerja.


Devian sedikit penasaran apa isi dari surat tersebut kenapa bisa membuat Melody memasang wajah serius.


"Devian siapkan kuda kita akan segera berangkat ke Kaisaran sekarang juga"perintah Melody yang segera saja memakai jubahnya dan membawa pedangnya.


Sedangkan Devian dia sedikit ngbug sebelum akhirnya membalas.


"Baik!, akan segera saya lakukan"ucapnya tegas sambil merapihkan kertas-kertas di mejanya dan segera berjalan keluar dari ruangan tersebut untuk melakukan tugas yang di berikan oleh Melody.


Tak lama akhirnya Devian sudah menyiapkan kuda serta beberapa kesatria dan pengawal untuk ikut serta dalam perjalanan.


Devian tak tau ada apa tapu yang dia tau dan pahami mungkin ini adalah suatu hal yang sangat mendesak, lagi pula sebagai bawahan dia hanya tau bagaimana menuruti kemaunan dari Tuannya dan bukan ikut campur dengan urusan dari Tuannya dia sama sekali tak berhak untuk itu.


Tak lama pula mereka semua bisa melihat Melody yang berjalan keluar dari Mension, serentak semuanya langsung menundukan kepala dengan tangan di dada mereka.


Melody yang menanggapi dan hanya ssgera naik ke atas kuda.


"Ayo berangkat Devian dan untuk semuanya kalian kembali saja, perjalanan kali cukup berdua saja"ujar Melody.


"Yang Mulia tap_"perkataan Devian segera terpotong dengan tanda perintah tangan dari Melody.


Menatap Devian serius kini Devian segera paham kalau hal tersebut sangat mendesak dan membawa banyak rombongan hanya akan memperlambat pergerakan mereka berdua untuk sampai di istana.


"Baik Yang Mulia"patuh Devian dan segara naik pula ke atas kudanya.

__ADS_1


"Kalian semua boleh kembali dan tolong jangan lupa katakan ke Rexid untuk cepat pulang ke Isatana Kekaisaran bilang saja bahwa hal ini sangat mendesak, hiyaaakkk~~"ujar Melody sebelum memancu kudanya dengan cepat di ikuti oleh Devian yang setia mengikutinya.


Sepertinya mereka berdua, dan seperti apa yang di perintahkan kini mereka memberi tahu Rexid untuk segera pulang.


__ADS_2