Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 28


__ADS_3

Mendengar suara pintu terbuka ke tiga pemuda yang saat ini sedang duduk minum teh sambil berbincang-bincang kini menoleh ke arah Melody.


Melihat bahwa Melody yang masuk ke dalan mereka bertiga segera bangun dan tersenyum sambil membungkuk.


"Yang Mulia anda sudah datang"ucap salah satu dari mereka.


Melody yang melihat mereka bertiga masih ada di kamarnya menjadi was-was, dia bahkan kini mulai berfikir untuk membunuh mereka bertiga tanpa jejak.


Melihat nafsu membunuh yang berkobar dari Melody mereka semua dengan buru-buru membungkuk lebih dalam memohon ampun.


"Yang Mulia mohon ampuni kami!, kami tau bahwa kami telah lancang pada Yang Mulia!, tapi Yang Mulia harus tau bahwa kami sebenarnya ke sini karena kami memiliki maksud dan tujuan lain!"ucap mereka semua dengan tubuh yabg gemetar mereka takut bahwa Melody tak akan percaya dengan mereka.


Nyatanya Melody memang tak mudah percaya dengan mereka.


"Saya tau bahwa Yang Mulia tak akan percaya dengan kami, maka dari itu kami membawa bukti yang mungkin akan membuat Yang Mulia percaya ke pada kami"ucap nya sambil menyerahkan sebuah lencena.


Melihat hak yang di serahkan ke padanya Melody mendekat dengan hati-hati dan mengambil Lencena tersebut, yang ternyata itu adalah lencena para pemberontak yang saat ini membuat resah Duchy Utara.


Melihat lencena tersebut Melody tak ragu lagi mencabut pedangnya dan mengarahkan nya ke leher salah satu dari mereka.


"Cih!, kalau bagitu bukan kah kalian pantas mati"aura penekanan kini nampak sangat menyeramkan.


"Tunggu!, Yang Mulia kami tidak pernah bermaksud untuk menyusahkan Yang Mulia!, kami sungguh tak pernah berbuat jahat ke pada para warga kami justru memberi bantuan berupa pangan kepada mereka semua"


"Betul Yang Mulia, hanya saja memang ada beberapa kesalah pahaman antara kami belakangan ini"


"Para pejabat yang tak mau posisinya tersingkir karena kami mencuci otak rakyat dengan membuat seakan-akan kelompok kami begitu buruk"

__ADS_1


"Benar Yang Mulia, karena itu lah kami sudah tak bisa lagi memberi bantuan ke pada para warga, jangan kan menerima mereka bahkan akan langsung membuang bantuan dari kami walaupun mereka sangat membutuhkan nya"


"Kenapa?, kenapa aku harus percaya dengan kalian?, apa yang bisa kalian buktikan?"ucap Melody sambil membuat pedangnya sedikit menggores leher salah satu dari mereka.


Gerakan itu tentu saja membuat orang itu bergidik.


"Yang Mulia, awalnya kami ke sini ingin memastikan seperti apa penguasa baru kami, ternyata tak seperti yang kami bayangkan anda sama sekali berbeda dengan apa yang rumor edarkan"


"Rumor?, rumor apa itu?"tanya Melody dia sama sekali tak tau rumor macam apa yang sedang tersebar.


"Itu rumor bahwa Yang Mulia sangat tidak kompeten, rumor bahwa Yang Mulia hanya suka bermain-main dengan para lelaki, dan suka menghabiskan kekayaan"


Mendengar apa yang di katakan orang di depan nya ekspresi Melody menjadi sangat gelap, dia pun segera berbalik dan membuka pintu, gerakan itu membuat ketiga orang yang kini berlutut menjadi bingung.


"Kalian tetap di sinilah sampai aku kembali"ucap Melody dengan suara yang mengintimindasi.


Namun sebelum Melody benar-benar pergi dia memasang sebuah sihir yang membuat mereka tak akan bisa kabur, pemandangan itu tercengan akan rasa kagum yang sudah tak terbendung.


Melody yang masih bisa mendengar ucapan mereka kini memiliki hidung yang panjang penuh akan kesombongan.


Untung saja beberapa kali dia sudah membaca buku-buku sihir yang memang milik Melody, dia membacanya hanya untuk jaga-jaga jika ada hal mendesak, siapa tau bahwa itu akan berguna lebih cepat.


Melody kemudian segera mencari keberadaan Devian dia bahkan bertanya ke pada beberapa pelayan yang lewat dan dari mereka semua menunjukkan bahwa Devian masih ada di tempat pelatihan Kesatria dari tadi pagi.


Mendengar hal itu Melody sempat bingung sebenarnya hal apa yang di lakukan Devian disana hingga dia begitu betah.


Apa ada hal yang menarik?, rasanya Melody agak penasaran.

__ADS_1


Melody akhirnya berjalan menuju tempat latihan namun dalam perjalanan dia di sapa oleh Baron yang kini sedang berjalan-jalan dengan seseorang wanita muda di samping nya, jika di lihat-lihat mereka nampak bagitu mesra.


Hal itu membuat Melody mengangkat satu alis nya penuh pertanyaan, bukan kah Baron sudah punya istri?, dan istrinya setaunya tak semuda ini, tadi malam dia bertemu dengan Istri Baron kok, apa dia selingkuhan Baron jika iya ini sangat menarik bukan?, diam-diam sebuah seringan kini tercipta.


"Yang Mulia Duchess senang nya bisa bertemu anda, bagaimana, apa anda merasa nyaman dan senang?"tanya Baron dengan senyum penuh arti.


Melody yang mendengar itu mengerutkan keningnya kesal, bisa-bisa nya dia bertanya hal itu, ingin rasanya Melody memukul Baron di depan nya ini, namun dia tau bahwa bukan ini saat nya.


Dia harus berusaha menahan nya hingga saat itu tiba, tak akan lama kok, tinggal sebentar lagi.


"Senang juga bertemu dengan mu Baron, aku sangat senang dan puas dengan semua pelayanan mu"ucap Melody dengan senyum di paksa agar terlehat seperti profesional.


"Hohohoho!!, senang rasanya bisa membuat Duchess begitu senang dan puas!"ucap Baron yang sepertinya bangga akan diri sendiri.


Melody hanya tersenyum menanggapi itu.


"Kalau boleh tau, Yang Mulia ingin kemana jam segini?"tanya Baron.


"Saya ingin mencari Kesatria saya saja, aku dengar dia ada di tempat pelatihan para Kesatria hingga saya akan ke sana"ucap Melody menjelaskan.


"Yang Mulia apa anda tidak ke beratan jika saya mengantar anda ke tempat itu, sekalian ada hal yang ingin saya bicarakan dengan anda Yang Mulia"ucap Baron dengan senyum licik yang sayangnya senyum licik itu di lihat oleh Melody.


Melody yang melihat senyum itu seketika senyum nya luntur, namun itu hanya sesaat sebelum senyum nya kembali cerah.


"Tentu saja saya akan senang jika Baron akan mengantar saya"ucap Melody dengan senyum cerah.


"Baiklah Yang Mulia tolong lewat sini"ucap Baron dengan girangnya dan segera pergi memandu Melody pergi tanpa menghiraukan wanita muda tadi, menurutnya hubungan dengan Duchess lebih penting dari pada dengan nya.

__ADS_1


Namun berbeda dengan Baron yang senang wanita itu justru kini membeku di tempat sambil bergidik ngeri, dia yakin bahwa Duchess yang sekarang tak akan mudah.


Dia yakin bahwa tadi Duchess sempat berekspresi menakutkan, mungkin Baron tak tau tapi dia tau, bagaimana pun sebagai anggota dari pemberontakan yang sama dengan tiga orang yang ada di kamar Melody dia cukup peka, karena jabatan nya sebagai wakil ketua membuatnya mau tak mau harus peka akan segala situasi yang ada.


__ADS_2