Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 142


__ADS_3

Melody yang mendengar apa yang di katakan oleh pria tua itu tak bergeming dan masih saja menudukan kepalanya.


"Apa lagi yang menunduk saat ini adalah keturunan Kekaisaran BlueMoon, betapa lucunya, kemana martabatmu nak, anggkat kepalamu sekarang juga atau aku akan usir kamu dari sini!"tegas pria tua tersebut.


Sepertinya pria tua itu menyadari bahwa Melody adalah keturunan Kekaisaran.


Melody yang mendengar hal tersebut langsung saja menegakkan punggungnya, hingga hal tersebut membuat pria tua itu mampu melihat wajah Melody dengan amat baik.


Mata pria tua itu sedikit kenyipit saat melihat warna mata pada Melody.


"Emas, perak dan biru?, jadi kamu anak ratu?"tanya pria tua tersebut.


"Benar"jawab Melody sopan.


"Hemp!, bagus juga walaupun kamu bangsawan tapi kamu masih tau bagaimana caranya membungkuk ratu memang tak pernah salah dalam mendidik anak"ujar pria tua tersebut.


Yang malah mendapat senyum miris dari Melody pasalnya seingatnya ratu hanya merawatnya sampai dirinya masih kecil dia bahkan tak ingat kapan itu waktunya.


Pria tua itu tampak menyadari senyuk miris yang di perlihatkan oleh Melody namun pria tua itu seakan tak perduli dan kembali naik keatas tangga.


"Pulanglah nak tak ada hal yang bisa kamu lakukan di sini"ujar pria tua tersebut tanpa menoleh kearah Melody.


"Tunggu_!"ujar Melody.


Hal tersebut rupanya membuat pria tua itu berhenti di tangga ke lima, menoleh sedikit tanpa membalikkan tubuh pria itu kembali bertanya.


"Ada apa?, tidak pergi juga bukankah sudah ku bilang tak ada hal yang bisa kamu lakukan di sini"ucap pria tua tersebut.


Mendengar hal itu Melody menyeringai.


"Bukankah?, kamu tak akan mengusirku jika aku kembali berdiri tegak?"ujar Melody.


"Kapan_?, aku bilang begitu?"ucap pria tersebut.

__ADS_1


"Anda mengatakannya tadi saat saya masih memberi salam kepada anda, jadi? Bukankah seharusnya anda menepati perkataan anda sendiri tuan?"ujar Melody tersenyum lebar.


Pria tua itu nampak sedikit syok dan akhirnya berbalik menatap Melody hanya untuk mekihat senyum puas dan kementerian yang di tunjukan untuk dirinya.


"Ck! Sama sekali tak ada perbedaan ya!"gumam pria tua itu kesal.


"Baiklah lakukan sesukamu!, tinggallah di sini semaumu!, jika sudah puas pergi lah dari sini"ujar pria tua itu dan segara berbalik lagi untuk naik keatas tangga.


"Tunggu!, bisakah aku membeli beberapa barang juga?"tanya Melody.


"Lakukanlah semua harga sudah terpajang di sana"ujar pria tua teraebut dan segera menghilang dari pandangan Melody.


Ketiga Sir yang sejak tadi memperhatikan percakapan itu kini memiliki mulut terbuka saat mengetahui seperti apa hasilnya, pasalnya biasanya pria tua itu akan tetap keras kepala akan mengusir pelanggan bangsawan nya.


Dan bahkan pria tua itu jelas tak takut dengan ancaman apapun dari para bangsawan, bahkan ancaman dari pihak Kekaisaran pun sama sekali tak mempan kepadanya namun apa-apaan ini?!, hanya dengan bebarapa percakapan Melody mampu membuat pria fua itu menjual barangnya kepadanya yah walaupun pelayanannya perlu di pertanyakan sih.


Melody yang mendapatkan jawaban tersebut kini tersenyum puas dan mulai berjalan kearah rak-rak senjata.


"Yang Mulia bagaimana anda melakukannya?"ujar Sri Galib penasaran.


Mereka cukup kepo tentang hal apa seperti apa yang di lakukan oleh Melody


"Syuttt~, kalian banyak tanya"ujar Melody menaruh jari telunjuknya di bibir keduanya, dengan senyum di wajahnya.


Tentu saja Melody sebenarnya sudah cukup yakin kalau di bisa membeli barang di sini.


Entahlah mungkin ini ingatan Melody yang dulu saat dia melewati toko ini dia tiba-tiba saja memiliki beberapa ingatan kalau dirinya waktu kecil pernah ke sini dengan ibunya dan dia juga tau pria tua yang barusan sebenarnya adalah ayah angkat ibunya.


Jadi sebenarnya dia sudah di anggap cucu oleh pria tua barusan, sungguh Plot twist bukan?, rasanya senang juga membuat Ketiga Sir tersebut memiliki rasa penasaran yang tinggi.


Dan lemparan pisau tadi itu hanyalah ucapan sambutan dari kakek angkatnya itu, jika dulu yang menangkap pisau tersebut ibunya maka kini dirinya lah yang menangkap pisau tersebut.


Sir Galib yang mendengar itu segera saja menyerah dan memilih untuk ikut mencari senjata yang ingin dia beli dia mengikuti jejak Sir Gio rupanya yang kini sudah memiliki setidaknya 5 senjata di tangannya.

__ADS_1


"Yang Mulia bisa beri tahu aku kenapa pria kolot itu bisa luluh terhadapmu?"tanya Devian berbisik rupanya si anak bontot tak ingin menyerah.


"Jika aku bilang aku cucunya kamu percaya?"tanya Melody menggoda Devian dengan alis yang di naik turunkan.


"Tentu saja tidak!, lagi pula mana ada seorang Kakek yang tega melempar pisau ke arah cucunya sendiri"bantah Devian kesal.


"Seharusnya bilang dari awal kalau tidak ingin memberi tahu!"kesalnya dan segera pergi dari toki tersebut.


Melody hanya menatap punggung Devian yang pergi dengan wajah acuh.


"Ayo pilih barang apa saja yang kalian berdua inginkan biar aku yang traktir!"seru Melody membuat kedua Sir langsung saja mengambil banyak barang yang mereka sukai.


Kini mereka sudah ada di luar toko sambil membawa banyak sekali senjata di tangan mereka apa lagi Melody yang seluruh tubuhnya sudah cocok di katakan sebagai pabrik nya.


Devian yang melihat penampilan mereka yang aduh hay dengan senjata sebagai perhiasan mereka hanya bisa menghela nafas.


Yah ini lah derita pergi dengan orang-orang prik!, mana bontot gak bisa nglawan jadinya


Sudahlah sepertinya Devian akan pasrah saja dengan keadaan yang kini terjadi ke padanya.


Alhasil kereta untuk membawa barang tak miat hingga kereta kuda yang seharusnya menjadi tempat untuk Melody malah di penuhi oleh senjata mereka semua.


Bahkan kuda Sir Galib dan Sir Gio juga penuh akan senjata.


"Sebenarnya seberapa banyak kalian membeli barang hah!, kenapa itu sangat banyak!"marah Devian yang tak habis pikir bahwa mereka hampir saja memborong satu toko tersebut.


"Kau tak tau saja semua kualitas di dalam sana sangat bagus, sehingga kami berfikir untuk membelikan yang lainnya juga, bahkan kami juga sempat berfikir untuk membelikan bebarapa benda bagi mereka yang memiliki kontribusi besar dalam pembasmian monster pada saat itu"jawab Sir Galib.


"Iya aku bahkan membeli bebarapa senjata untuk Marques nanti"ujar Melody.


"Kalau aku hanya membeli untuk diriku sendiri"sahut Sir Gio sambil mengelap pedangnya dengan sapu tangan.


Jujur saja Devian tak habis pikir dengan mereka semua.

__ADS_1


"Yang Mulia sesuatu yang berlebihan itu tak baik dan cukup merepotkan, dan Yang Mulia anda mau naik apa?"tanya Devian.


__ADS_2