Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 94 Melody dan dirinya di masa lalu


__ADS_3

Keduanya terus saja berdiskusi hingga akhirnya malah kembali bertengkar dengan sangat hebatnya.


Sedangkan Melody kini secara perlahan mulai bisa membuka matanya dan dalam sekejap mata pemandangan salju putih menjadi hal yang pertama dia lihat.


"Ugh!"


Keduanya yang mendengar suara tersebut segara berhenti bertengkar dan mendekat ke arah Melody.


Melody yang baru bangun kini memegangi kepalanya yang agak pusing.


"Dimana aku?"kalimat tersebutlah yang pertama kali keluar dari mulut Melody.


"Kamu sudah sadar?"ucap Miranda khawatir.


"Kamu pasti haus ayo minum dulu"ujar Hendrik sambil memberikan minuman hangat dari perbekalan mereka.


Melody menerima minuman tersebut dan menengguk nya dalam sekali tenggukan, entah kenapa tenggorokan nya sangat kering saat ini.


Dia ingat bahwa dia baru saja keluar dari Perpustakaan namun siapa yang akan menyangka bahwa saat dia keluar dia akan tertidur dengan sangat nyeyak walaupun tentu saja indra nya masih bisa berjalan dengan normal.


"Terima kasih"ucap Melody kepada Kedunya yang di balas dengan senyum.


"Iya sama-sama"ucap Hendrik menanggapi Melody.


"Nah ayo makan juga aku tau kamu pasti lapar kan?"ucap Miranda yang kini membuka bungkusan makanan dan memberikannya kepada Melody.


Lagi-lagi Melody menerima makan tersebut, tak lama semua makanan itu habis Melody sangat tak menyangka bahwa dirinya ternyata begitu lapar, namun sebuah pikiran melintas di pikirannya membuat Melody sadar dan tersentak.


"Ah!, maaf kalau boleh tau ini tahun berapa?"tanya Melody cemas dia hanya berharap bahwa ini belum bertahun-tahun, dia masih punya janji dengan paman Wage soalnya.


"Oh, ini tahun 2023, apa ada masalah?"tanya Miranda.


Melody yang mendengar itu cukup kaget ternyata ini sudah berabad-abad lamanya sejak pertemuannya dengan paman Wage.

__ADS_1


"Tak apa aku hanya bertanya, di tempat ini sendiri rasanya seperti bertahun-tahun"ujar Melody seperti biasanya sejujurnya dia agak kecewa karena dia kembali pada saat sekarang sehingga dia tak bisa bertemu dengan paman Wage.


"Ku kira ada apa"ucap Hendrik.


"Kalau boleh tau kamu tinggal di mana?"tanya Miranda kepada Melody.


"Oh itu tak jauh dari sini, sepertinya aku juga harus pergi sekarang, sebelum itu aku sangat berterima kasih kepada kalian berdua"ujar Melody sambil berdiri dan membungkuk mengucapkan terima kasih kepada Keduanya.


"Ahahaha!, itu bukan apa-apa"ucap Miranda canggung saat menerima permintaan maaf Melody yang sangat sopan.


"Iya dia benar sungguh bukan apa-apa"ucap Hendrik juga dia merasa canggung.


"Baik terima kasih sekali lagi, kalau begitu saya permisi aku harus pergi secepatnya"ujar Melody dan segera pamit.


Saat di rasa sudah lumayan jauh dari mereka berdua Melody tiba-tiba menghilang dan Melakukan telepor, tanpa di sadari Melody Hendrik saat ini sedang berlari kearah nya.


"Hey kawan kamu meninggalkan ini!!"teriak Hendrik namun dirinya sama sekali tak bisa menemukan Melody lagi.


"Ah dia sudah tak terlihat?, kenapa cepat sekali, dan apa yang dia tingglkan ini?, sepertinya ini sangat berharga"ujar nya dan dengan rasa ingin tau yang tinggi dia membuka kantung tersebut.


Dimana di sana tertulis.


'Untuk kalian berdua, Hendrik, dan Miranda'


Lama sekali di Perpustakaan siapa yang akan menyangka bahwa kini Melody menemukan metode untuk menyatu dengan tubuh ini secara sepenuhnya membuat kekuatan Melody yang selama ini tak bisa dia gunakan secara maksimal kini bisa di pakai secara bebas.


Di tambah di dalam Perpustakaan dia juga berlatih sendiri membuat kekuatannya menjadi berlipat ganda.


Hingga kini hanya dalam satu kali telepor dia bisa langsung tiba di indonesia.


Tepatnya di Jakarta.


Melody yang baru sampai kini langsung di suguhi pemandangan daerah perkotaan yang penuh akan kendaraan serta gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.

__ADS_1


"Tak ku sangka hanya dengan memikirkan tempatnya saja aku bisa sampai Jakarta, kalau seperti ini aku harus berpindah lagi karena bukan di sini tempat tujuan ku"ujar Melody dalam sekejap dirinya juga menghilang lagi.


Dirinya kini muncul kembali di depan sebuah rumah sederhana yang tak lain dan tak bukan adalah rumah para keturunan paman Wage.


Kini Melody bisa melihat bahwa keturunan paman Wage hidup dalam kecukupan mereka juga hidup bahagia tanpa sadar Melody tersenyum dia tak menyangka bahwa keturunan paman Wage bisa dia temukan dengan sangat cepat.


"Dengan ini hutan janjiku sudah lunas, iya kan paman?"ujarnya sambil menatap langit biru di atasnya.


Awan itu sangat cerah dan biru seperti air laut orang-orang berkata kalau awan itu cermin dan warna birunya iti dari lautan tapi tentu saja Melody tak tau karena dia anak IPS bukan IPA jadi apa untungnya dia mempelajari itu.


"Melihat anak cucu paman membuatku penasaran dengan diriku di Dunia ini, kalau tak salah ini baru Januari bukan?, berarti pada masa ini aku belum di tubuh Melody, apa ini berarti aku bisa bertemu dengan diriku sendiri?"ujarnya dengan rasa penasaran.


Kini pikirannya terpenuhi oleh dirinya sendiri dan dalam sekejap dirinya menghilang dan muncul di sebuah sekolahan negeri tingkat SMA.


Dia sangat kenal dengan tempat ini, tanpa sadar air mata Melody menetes tanpa dia sadari, siapa yang akan menyangka bahwa pada akhirnya dia akan merasakan emosi, dia rindu juga dengan masa-masa sekolahnya dia bahkan sampai berfikir kenapa dia bunuh diri?!.


Dari sana dia bisa melihat sosok yang sangat dia kenali siapa lagi kalau bukan dirinya sendiri.


Dirinya pada masa ini sedang tersenyum cerah dan terlihat bahagia tapi Melody tau dengan pasti bahwa dirinya sendiri saat ini dalam keadaan yang memburuk, kalau tidak salah dalam bulan Febuari dia akan membunih dirinya sendiri di lautan.


"Melihat diriku yang sekarang aku sangat ingin membuatnya tetap hidup"ujarnya menatap dirinya sendiri.


"Apa aku harus membiarkannya tetap hidup?, atau ku biarkan saja?"ucapnya delema dia sama sekali tak tau keputusan apa yang amat tepat.


Mengubah takdir atau tidak dia sama sekali tak tau jika dia merubahnya maka Melody di Dunia sana akan mati dan tak ada, namun jika dia tak merubahnya maka dirinya yang sekarang akan pergi ketubuh Melody dan bertemu dengan banyak orang di sana.


Setelah beberapa menit Melody tau apa langkah yang harus dirinya ambil, dirinya kini melangkah mendekati dirinya di masa kini dan dengan cepat memegang tangan dari dirinya.


Hal tersebut membuat dirinya tersentak dan melihat kearah Melody.


Melody tersenyum kepada dirinya sendiri dia tau apa yang di pikirkan dirinya pada masa ini.


Mulut Melody terbuka dan mulai mengucapkan beberapa hal yang membuat dirinya di masa itu melebar dan memandangnya dengan rasa ingin tau.

__ADS_1


Melody tersenyum dan secara perlahan wujudnya memudar dia bisa melihat bahwa dirinya sendiri melebarkan matanya lagi terkejut dan seperti berusaha untuk menggapai Melody yang kini mulai menjadi serpihan kecil.


__ADS_2