
Namun tentu saja semuanya sama sekali sudah tak berarti lantaran dalam hitungan detik saja semua bagian kota sudah menjadi lautan api.
Tentu saja dari dalam kota tersebut semua orang tak diam saja buktinya Zero yang merupakan pemimpin kota tersebut segera saja memberi arahan serta perintah kepada semua orang yang ada.
"Semuanya tenang jangan panik!, siapakan anak oanah dan panah kearah dimana serangan tersebut berasal!"perintah Zero kepada seluruh pasukannya.
Semua pasukan yang mendengar perintah itu segar saja berlari untuk mengambil peralatan memanah dan mulai melakukan koordinasi untuk menjalan kan perintah.
Syuttt~
Syutt~
Dalam waktu singkat serangan balasan sudah di arahkan kearah pasukan Melody dan si4lnya itu tepat sasaran.
Melihat serangan balasan yang menuju kearahnya, melihat serangan itu Melody mengumpat, dia rasa Zero bukan musuh yang mudah.
Namun tentu saja mereka kira siapa itu Melody dia adalah Penyihir yang paling hebat jadi dalam waktu singkat juga dirinya bisa membentuk perisai transparan dan alhasil semua anak panah tak bisa menyentuh pasukannya.
Lagi-lagi pasukan Melody terkagum-kagum akan kekuatan pemimpin mereka itu.
Melody yang merasa ada yang aneh kini menatap sekitar dan dia bisa menemukan bahwa semua pasukan nya sedang menatapnya dengan mata berbinar.
Melihat itu Melody cukup kesal mereka pikir menahan serangan berupa anak panah dan menciptakan perisai itu tak menggunakan mana.
"Apa yang kalian lakukan!?, kenapa berhenti!"teriak Melody kesal.
Semuanya yang mendengar itu akhirnya tersadar dan mulai lagi melakukan tugas mereka.
"Ba_baik Yang Mulia!"teriak mereka dengan cukuo gugup.
Tapi di sisi lain mereka juga merasa sangat bod0h bagaimana mungkin pikiraj mereka bisa teralihkan saat mereka ada di medan oerang seandainya saja Yang Mulia Duchess tak ada di sana untuk membentuk perisai mereka yakin bahwa mereka semua pasti sudah mati.
Sedangkan di sisi lain.
Zero nampak terkejut dan tak percaya akan aoa yang di lihat bahwa ternyata di pihak musuh mereka memiliki seorang Penyihir bersama mereka dan apa bila di lihat dari kecepatan Penyihir tersebut membuat perisai jelas sekali kalau level Penyihir itu sudah kelas atas.
"Tuan Tanah!, semua anak panah memantul dan tak mengenai sasaran!"teriak seorang prajurit yang di duga tim pengintai.
Zero mendengar itu mulai merasa sulit.
"Tim lawan sepertinya memiliki Penyihir tingkat atas di belakang mereka, jadi kamu cepat kumpulkan semua Penyihir di tanah ini!, cepat!"teriak Zero panik ke arah Prajurit yang ada di sebelahnya.
Parajurit itu pun langsung saja pergi dengan berlari untuk melakukan apa yang di tugaskan oleh Zero.
Slapp~~~
__ADS_1
Syuutt~
Jlep!
Jlep!
Jlep!
Ribuan anak panah kini terbang lagi kearah mereka hanya saja kali ini itu hanya anak panah bias tanpa adanya api di ujung panah nya.
Arghhh!
Arghhh!
Terikan kesakitan kinu mulai bergema di dalam pasukan Zero.
"Semuanya angkat tameng kalian dan bersembunyi lah!"ujar Zero dia terlambat mengetahui bahwa pihak musuh melancarkan kembali serangan nya.
Melody yang melihat Zero kewalahan menghadapi seranganya kini tersenyum iblis dia suka pemandangan itu.
Namun tiba-tiba saja tim pengintai mendatanginya.
"Yang Mulia!, gawat Yang Mulia!, mereka ingin memanggil para Penyihir di kota tersebut!"lapor Prajurit tersebut sambil lari kearah Melody dengan terbirit-birit jelas sekali bahwa dirinya sangat cemas.
Hal tersebut tentu saja membuat Tim pengintai nampak kebinunguan dengan respon dari Duchess mereka.
"Panggil saja jika mereka bisa menemukan Penyihir yang masih hidup"tawa jahat Melody kini bergema di tempat tersebut.
Sedangkan tim Pengintai yang memberikan informasi hampir saja terjungkal di sela-sela larinya dengan mulut menganga tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Sungguh dia sama sekali tak paham jalan pikiran tuan nya itu, dan lagi kapan Duchess nya itu membunuh para Penyihir?.
Jika kalian bertanya bagiamana bisa Melody membunuh para Penyihir jawaban nya ada di dalam batu merah yang di sebar oleh Dame Clara.
Itu memang batu telepor tapi batu itu juga memiliki fungsi lain yaitu bisa juga di gunakan sebagai formasi membunuh dalam jumlah besar.
Sehingga saat mengaktifkan batu tersebut Melody memang memindahkan para warga tapi di secara bersamaan juga membunuh para Penyihir.
Dan itu lah alasannya kenapa Komandan Pasukan bergitu terkejut saat Yang Mulia nya memberikan batu tersebut keoada Dame Clara dan menyuhnya menyebarkannya.
Komandan Pasukan sendiri kini hanya bisa memperhatikan tawa jahat Melody dari samping sambil berusaha tabah dan sabar menghadapi pemimpin yang lumayan unik.
Menyeringai lebar Melody mulai memandang pasukan Zero dengan tatapan berbeda.
"Berhenti menembak itu sudah tak berguna!, mereka bisa bertahan!, jadi bukan kah kita harus menjalankan strategi ke 2?"tanya Melody.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia akan segara saja persiapkan"ujar Komandan Pasukan sambil hormat kepada Melody dan mulai menata kembali pasukan nya.
Kini anak panah sudah di gantikan dengan tombak, mereka semua kini melemparkan tombak tersebut arah pasukan Zero.
Pasukan Zero yang merasa bahwa hujan anak panah sidah benhenti beberapa dari mereka menampakkan kembali diri mereka tanpa adanya perlindungan dari tameng.
Bahkan tanpa menunggu perintah dari Zero yang merupakan pemimpin mereka.
Baru saja mereka menatap sekitar seakan membuktikan jika kalau serangan sudah berakhir tiba-tiba jantung mereka di tembus oleh tombak panjang.
Syutt~~
Jlepp!!!
Arhkkk!
Bruk
Jeritan kini kembali terdengar di antara mereka.
Semua Pasukan Zero yang melihat teman nya mati terkena tombak yang menembus jantung mereka kini mulai panik bahkan sudah tak terkoordinasi sama sekali.
Mereka kini sibuk berhamburan menyelamatkan diri mereka sendiri.
Zero yang melihat pasukan nya mulia tak teratur berusaha menenangkan mereka untuk kembali ke posisi masing-masing namun dirinya sama sekali tak fi hiraukan oleh mereka.
Dan dalam waktu itu juga Prajurit yang di suruh nya datang.
"Bagimana kamu membawa mereka kan?"tanya Zero penuh harap.
Dengan gemetar terpaksa Prajurit tersebut memberi tahukan hal yang membuat seluruh tubuh Zeri luntur ke tanah.
"Maaf Tuan semua Penyihir sudah tewas di tempat"ujat Prajurit tersebut.
Zero yang mendengar itu tak bisa merespon apa-apa lagi dirinya kini runtuh ke tanah dengan memegang dadanya yang sakit sepertinya dia terkena penyakit jantung dadakan.
Parjurit di depan nya ingin membantu namun sebelum sempat dada Prajurit tersebut sudah di tembus tombak dan mati tepat di depan mata Zero.
Hah~~
Host~~
Ugh!
"Hancur sudah hancur!, apa yang ku bangun selama ini hancur hanya dalam satu malam saja"ujar Zero frustasi dirinya bahkan sudah tak memikirkan keadaan sekitar di mana semua Prajurit nya mati teetusuk hujan rombak dan anak panah.
__ADS_1