
Saat ini mereka sedang ada di sebuah desa yang sederhana karena hari sudah malam mereka berniat mencari penginapan saja dulu.
Melody kini berjalan di depan di ikuti oleh paman Wage, Kapten, serta para awak kapal.
Jalan di malam hari saat itu sangat ramai lampu lampion warna merah terpajang dengan rapih di sepanjang jalan.
Paman Wage dan yang lainnya menatap sekitar dengan kagum mereka baru pertama kalinya melihat yang seperti ini, yah walaupun meraka seorang penjelajah di lautan tapi mereka belum pernah sampai ke Tingkok alasannya cukup simpel mereka adalah penjelajah baru yang debut beberapa bulan sebelum bertemu dengan Melody.
Masuk ke dalam sebuah penginapan yang cukup ramai rupanya kedatangan Melody dan yang lainnya menjadi pusat perhatian, itu semua tentu saja karena pakaian serta wajah dan ras mereka yang berbeda.
Kulit sawo matang, dan mata lebar menjadi ciri khas dari paman Wage dan yang lain, sedangkan Melody wajahnya yang seperti bule dengan kulit yang sangat putih, serta wajah cantiknya membuat perhatian yang datang kepada mereka makin banyak
Tanpa menoleh atau bahkan menatap kearah para tamu yang menatapnya Melody hanya berjalan lurus kearah meja resepsionis.
"Selamat datang nona~, ada yang bisa saya bantu?"tanya resepsionis tersebut tersenyum kearah Melody.
Resepsionis tersebut adalah seorang gadis muda yabg cantik dengan kulit kuning langsat.
"Boleh pesan kamar?"tanya Melody dengan senyum.
"Tentu saja nona, berapa kamar yang nona butuhkan?"tanya resepsionis tersebut.
"Berapa banyak lagi kamar yang tersisa?"tanya Melody.
"Kami masih memiliki sekitar 15 kamar yang kosong"jawab resepsionis tersebut.
"Kalau begitu aku akan memesan semua kamar yang ada kebetulan rombongan kami sangat banyak, jadi berapa totalnya?"tanya Melody sambil mengambil kantung uang nya.
"Satu kamar di hargai 4 koin perunggu, jadi untuk 15 kamar adalah 60 koin perak"jawab resepsionis tersebut.
Melody yang mendengar itu segera berhenti dia lupa kalau mata uang dia dan di sini beda lagi apa uang yang dia curi dari Singasari juga beda, jadi dia kemudian mengeluarkan satu batang emas dan menaruhnya di meja resepsionis.
Hal tersebut tentu saja membuat gadis resepsionis tersebut kaget.
__ADS_1
"Maaf nona ini hanya 60 koin perak saja, kami sama sekali tak memiliki kembalian untuk satu batang emas anda"ujar gadis resepsionis itu gemetar.
"Kalau begitu tak usah di beri kembalian cukup berikan saja makanan serta pelayanan terbaik di penginapan ini"jawab Melody dia sudah menduga akan seperti ini.
"Baik nona ayo mari saya antar"jawab gadis tersebut sebelum memanggil salah satu teman nya untuk menggantikan dirinya berjaga di depan.
Akhirnya Melody dan yang lain nya mengikuti gadis tersebut hingga kemar mereka.
Tanpa mereka sadari di pojok penginapan, tepatnya di tempat duduk paling pojok segerombolan pria saling pandang sebelum kemudian bangkit dari duduk mereka dan mulai mengikuti mereka semua.
Melody tentu saja tau bahwa ada yang mengikuti nya sehingga, dia secara reflek memegang pedangnya, rupanya bukan hanya dirinya saja tapi semua anggota yang datang dengannya juga memiliki reflek yang sama.
Namun karena mereka sepertinya tak menyerang mereka jadi untuk saat ini mereka membiarkan nya dan memilih untuk masuk ke kamar masing-masing.
Setiap kamar di isi setidaknya 4 orang lantaran rombongan mereka berisi kan 56 orang termasuk Melody yang tidur di kamarnya sendirian.
Malam semakin larut karena merasa terlalu lelah mereka semua segera saja masuk ke alam mimpi masing-masing tanpa makan malam, namun tentu saja diri mereka masih lah sangat sensitif.
Kini semua nya sudah memegang pedang di tangan masing-masing pada awalnya semua orang memang punya pedang tapi mereka tak memperlihatkan keahlian mereka karena pada saat itu jujur saja mereka jadi bod0h seketika.
Melody sendiri dirinya juga sudah terbangun mendengar suara dari jendelanya dan segera mengambil padang.
Berjalan mendekat kearah jendela dengan berani Melody segera membua jendela tersebut namun di luar sama sekali tak menemukan apa pun jadi dia kembali menutup jendela.
Namun saat hendak berbalik tiba-tiba benda dingin nan tajam menyentuh lehernya.
"Diam!, jangan bergerak atau kamu mati!"ucap orang tersebut.
Melody yang di perlakukan seperti itu hanya diam, sayup-sayup dia bisa mendengar suara pertempuran terdengar di telinganya dia tau dengan pasti dari mana itu, dari mana lagi jika bukan dari ke 14 kamar yang bersebelahan dan satu lantai dengan nya.
"Apa mau mu?"tanya Melody.
"Diam!, dan ikut saja dengan ku"ujar otang tersebut sambil membawa Melody melangkah keluar dari dalam kamarnya dan menuju salah satu kamar yang ada di sebelah nya yang di duga di sana lah pertempuran yang sebenarnya sedang terjadi.
__ADS_1
Masuk kedalam kamar tersebut seseorang yang menyandra Melody segera saja berteriak.
"Berhenti kalian atau leher nona ini akan menggelinding di lantai!"ujar orang tersebut mengancam para awak kapal yang ada sehingga membuat pertarungan yang sedang terjadi berhenti.
"Nak"panggil salah satu awak kapal menatap kearah Melody.
Mereka khawatir akan keselamatannya namun melihat wajah Melody yang amat datar dia merasa lega dia tau bahwa Melody bisa mengatasi hal tersebut dengan mudah.
"Kalau kalian ingin nona ini selamat serahkan semua harta kalian, dan aku akan melepaskan nona ini"ujar orang tersebut.
Yang ternyata mendapatkan respon dingin dari semua awak kapal yang ada mereka memang tak tau dia berkata apa tapi yang pasti itu bukan hal baik, namun bukan hanya dari awak kapal saja namun dari Melody juga.
Tanpa sadar dirinya kini merasa sangat dingin padahal dia yakin bahwa bahwa malam ini sangat panas lantaran musim yang kini sedang musim panas namun kenapa dia merasa dingin.
"Maaf tuan, sepertinya kamu yang harus menyerahkan semua hartamu"ucap seorang awak kapal bercanda bahkan candaannya itu membuat awak kapak lainnya tertawa, dia sebenarnya lumayan tau apa yang di bicarakan orang tersebut namun tentu saja tak semuanya hanya beberapa kata saja.
Tentu saja kalimat mereka sama sekali tak bisa di pahami.
"Apa yang kalian tertawakan?!, dan berbicaralah dengan benar!"bentak orang tersebut.
Namun masih tak ada respon, namun ada yang aneh yaitu ekspresi teman-teman nya yang ciut dan ketakutan saat menatap kearah nya.
Melihat respon itu dia juga bingun dan mengerutkan keningnya.
"Ada apa dengan kalian!, bisa kah kalian membantu ku untuk mengancam mereka?"tanya orang tersebut.
Namun hal itu sama sekali tak mendapat respon dari teman-temannya, teman-teman nya kini malah mundur sedikit demi sedikit menjauh dari dirinya.
"Apa yang_, ugh!"ucapnya kini terpotong oleh hal dingin yang menembus jantungnya seketika.
Kini sebuah es tajam menusuknya dari belakang.
Melepaskan dirinya sendiri dari cengkraman orang tersebut Melody kini bisa dengan jelas melihat mayatnya itu ambruk ke lantai.
__ADS_1