Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 152


__ADS_3

Tak lama mereka bertiga sampai di asrama para Kesatria, di sepanjang perjalanan Melody mendapatkan sapaan dari para Pelayan, Prajurit, Pengawal serta Kesatria yang lewat.


Dengan pelan kini Sir Vio membaringkan Devian di atas kasur milik Devian sendiri.


Sedangkan Melody sendiri kini secara reflek malah melepas sepatu Devian dan melepas kaus kakinya bahkan menatap sepatu itu dengan rapi di bawah kasur.


Dia bahkan tak lupa melepas atribut serta baju Kesatria Devian dan hanya meninggalkan kemeja putih dengan dua kancing atas baju tersebut sengaja di buka oleh Melody.


Dia bahkan juga melipat baju tersebut dengan rapi dan menata pedang di atas baju rersebut dia bahkan melonggakan sabuk Devian.


Gerakan nya yang sekan terampil itu malah membuat semua Kesatria yang ada di asrama yang sama dengan Devian menganga tak percaya bahkan Sir Vio pun tak tau mau bicara apa.


Pasalnya kini Melody berlutut di sebelah kasur Devian dan mulai menyimpan semua pakaian Devian dengan rapi, beliau bahkan merapikan rambut Devian yang berantakan dan bahkan menyelimuti nya.


Yang di akhiri dengan senyum puas miliknya.


Saat Melody melirik kearah samping dia bisa melihat wajah bod0h semua Kesatria yang ada.


"Ada apa?"tanya Melody dengan wajah bingung.


"......"


"......"


"......"


"......"


Tak ada jawaban, hal tersebut membuat Melodt berfikir bahwa para Kesatria dia sana sangat aneh.


Hal tersebut membuat Melody berjalan keluar dengan memandang mereka semua dengan aneh.


Dia berfikir bahwa semua Kesatria nya sangat aneh.

__ADS_1


Sedangkan para Kesatria masih dengan wajah bod0h mereka mengikuti setiap langkah Melody yang ingin keluar tanpa bergerak dari posisi mereka dengan kata lain hanya kepala mereka lah yang bergerak.


Sepertinya Melody agak jauh dari asrama tersebut barulah sebuah pekikan tak percaya terdengan menyadarkan semua orang.


"Ya Tuhan!, apa yang barusan aku lihat!"pekik salah satu dari mereka yang nampak syok berat.


Setelah pekikan itu lah baru suasana di sana sangat ramai dengan bisik-bisik para Kesatria.


Sir Vio yang masih saja diam merasa terganggu karena sangat berisik padahal dia juga mau tidur dengan tenang.


"Semuanya tolong diam!, jangan bergosip seperti Lady di kamar ini ada orang yang masih tidur dan juga aku mau tidur jadi jangan berisik!"ujar Sir Vio dengan wajah kesalnya.


Dan segera saja menidurkan dirinya di atas kasurnya.


Semua Kesatria yang mendengar itu segera saja menutup mulut mereka, yah mereka merasa bersalah.


Bahkan ada dari mereka yang mempertanyakan kesopan Kesatria milik mereka sendiri yang sudah di tempah sejak kecil sehingga dalam waktu singkat kamar asrama tersebut sepi.


Entah itu karena Sir yang keluar, mandi, tidur bahkan membaca buku.


Tak lama Sir Vio memalingkan wajahnya dan mulai menatap atap asrama tersebut sebelum matanya berat dan tertidur dengan nyeyak.


Melody yang sudah kembali ke ruang kerja nya kini kembali membaca laporan jika di lihat-lihat pembangunan di Duchy sudah maksimal dan semua hal telah terrencana.


"Semuanya sudah sempurna kalau begitu bisakah aku maju ke tahap berikutnya?"tanya Melody kepada dirinya sendiri.


Memikirkan hal tersebut Melody segera saja menjadi peta Duchy dan data tentang struktur tanah dan hal-hal yang mereka lakukan di Duchy dengan cara memanfaatkan tanah sebagi media pertanian.


Membaca hal tersebut Melody memiliki beberapa coretan di atas peta yang baru saja dia ambil.


Mengamati peta tersebut Melody kini tau apa masalah yang dia hadapi dan lumayan bermasalab jika tak segera di hadapi.


Hal tersebut adalah krisi bahan pangan di Duchy.

__ADS_1


Di sini memang sudah tak kekurangan bahan pangan hanya saja harga bahan pangan di Duchy sangat malah dan bahkan 3 x lipat lebih mahal dari pada di ibu kota hal ini dia sadari.


Saat dirinya waktu itu berkeliling di pasar dia bisa dengan jelas mendengar transaksi yang terjadi di pasar di mana dia bisa dengan jelas mendengar harga yang cukup lebih rendah dari pada Duchy.


Jadi selama dia berbelanja dia juga melakukan pengawasan pasar untuk membandingkan nya dengan Duchy.


"Ini sebenarnya adalah masalah pokok Duchy ini tapi anehnya kenapa aku malah melakukan pembangunan intrastruktur terlebih dahulu"ujar Melody yang sepertinya cukup menyesal karena dia berfikir untuk hal iti terlebih dahulu.


"Sayang sekali Duchy memang memiliki wilayah yang luas tapi sebagaian besar wilayahnya memiliki lahan yang gersang bahkan tak subur sama sekali, dan juga bahkan ada daerah yang tertutup salju, dan juga tanah ada tanah basah di sini?"ujar Melody.


"Ini akan sedikit sulit"ujar Melody lagi sambil berdikir dia sedang mencari hal yang bisa di tanam di tanah gerang tersebut namun hal yang bisa dia pikirkan hanyalah kaktus.


Sayang sekali otaknya lumayan dangkal.


"Ctsk! Yang benar saja sama aku hanya berfikir kaktus si?!"ujarnya dengan tak percaya.


"Pikirkan tentang tanah gersang itu nanti saja sspertinya aku akan menemukan hal yang menarik jika pergi ketanah basah saja dulu aku harus memastikan sesuatu, jika itu sama seperti apa yang aju pikirkan hal itu bisa menjadi hal yang amat bagus"


"Tapi sepertinya tak ada salahnya jika hari ini dia berkunjung ke semua tanah-tanah ini dan mengambil kesimpulan"ujar Melody dan berdiri dari duduknya.


Tak seperti biasanya kini tak ada Kesatria yang berjaga di depan ruang kerjanya hal itu cukup mudah karena dirinya menyuruh mereka untuk pergi istirahat saja.


Dan kini hanya ada Prajurit serta Pengawal di sana.


Keluar dari ruangan tersebut seorang Prajurit yang sepertnya kepala di sana membungkuk hormat ke arah Melody.


"Yang Mulia ada hal yang bisa kami bantu"ujar Prajurit tersebut sambil membungkuk sopan.


"Ah yah ada, tolong siapkan kereta kuda untuk ku aku akan melakukan beberapa kunjungan dan juga apa Duchy kita punya Penyihir?"tanya Melody.


"Baik Yang Mulia akan saya siapkan kereta kudanya, dan untuk Penyihir untuk sementara hanya ada nona Diana Kepala rumah tangga sebagai seorang penyihir yang terdaftar di Duchy ini dan juga anda tentunya"ujar Prajurit tersebut.


"Begitu ya jadi kita sama sekali tak memiliki mereka, lalu kita pergi saja biar aku yang menjadi Penyihir nya"ujar Melody.

__ADS_1


Segera saja Prajurit tersebut pergi dari sana sambil berlari dia harus bisa mengiapkan kereta kuda sebelum Duchy keluar dari Mension.


Melody sendiri yang melihat Prajurit itu berlari ingin menghentikan nya dia takut bahwa orang tersebut akan jatuh karana berlari di dalam Mension.


__ADS_2