
Jelas sekali bahwa Zero sangat putus asa dengan apa yang saat ini menimpanya.
Dalam sekejap mata semua pasukan Zero telah habis di bantai dan hanya menyiksakan Zero seorang diri saja.
Melody yang melihat Zero begitu menyedihkan di sana sebenarnya lumayan merasa kasian, ya jujur saja hatinya masih ada lembut-lembutnya walaupun itu hanya setetes air di tengah samudra.
"Cukup!"ujar Melody sambil mengangkat tangannya menyuruh semua orang untuk berhenti menembak.
Dan benar saja semua orang segera saja berhenti menembak dan mulai memperhatikan Melody mereka ingin tau apa yang akan di lakukan oleh Duchess mereka ini.
Apa lagi saat Duchess mereka malah berjan mendekat kearah Zero berada di mana saat ini sedang berlutut di tanah dengan tatapan putus asa.
Berdiri di depan Zsro Melody hanya memandang pria tersebut.
Zsro sendiri yang melihat bahwa ada sepasang kaki yang berhenti di depannya kini mengangkat kepalanya dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat sosok Melody berdiri di depan nya.
"Yang Mulia_"panggil Zero.
Mendengar itu Melody sedikit tersenyum.
"Masih bisa memanggilku Yang Mulia?"tanya Melody dia kini memandang Zero dengan tatapan merendahkan bahkan tanganya kini beda di depan dada gayanya itu sangat songong untuk di lihat.
"Yang Mulia apa ini ulah anda?"tanya Zero dengan putus asa namun dari matanya dengan jelas Melody bisa melihat bahwa ada sesuatu yang seperti menuntut untuk di berikan penjelasan.
"Kalau memang aku kamu mau apa?"tanya Melody dengan licik dengan tangan yang memegang dagu Zero agar menatap kearahnya.
Kedua tangan Zero kini mengepal penuh akan kebencian menumpuk di hatinya, dan juga dirinya kini mengigit bibirnya menahan amarah bahkan membuat tubuhnya bergetar.
Dengan tatapan acuh Melody mengorek telinganya dan sama sekali tak menganggap ucapan Zero.
"Masih tanya?, bukankah kamu yang memintanya nya?"tanya Melody.
"Kapan?, kapan itu Yang Mulia!, jawab saya jawab!"teriak Zero tak tertahan.
__ADS_1
Rupanya ucapan itu malah menguntang tawa ringan di mulut Melody.
"Kamu lupa bukan kah tantangan kamu tadi waktu ifu termasuk keinginan untuk berperang?"tanya Melody lagi.
Kini Zero kembali mengingat apa saja yang telah dia lakukan dan akhirnya dia kini ingat akan apa hal yang di perbuat waktu kemarin
Dengan tangisan putus asa kini Zero mendekat kearah Melody dan memeluk erat kakinya.
"Yang Mulia tolong ampuni saya, saya mohon"ujarnya dengan tangisan.
"Saya benar-benar bersalah, saya terlalu serakah!, saya terlalu sombong!, dan saya sangat tak tau diri!"tangisanya sambil memaki dirinya sendiri.
Jujur saja melihatnya membuat Melody tak tega namun dia harus bisa membentengi diri bukan.
"Kenapa aku harus memaafkan mu?, seseorang yang jelas-jekas waktu itu ingin membuat masalah dengan ku?, dan lagi apa keuntungan ku jika aku memaaafkan mu?"tanya Melody serius.
"Yang Mulia saya mohon ampuni saya, saya bersalah saya tak akan mengulanginya lagi, saya benar-benar bersalah, dan juga saya mohon lepaskan saya jika saya tak ada lalu bagiamana dengan nasib ssmua warga di kota ini mereka pasti akan kesusahan"ujar nya.
"Jadi saat ini kamu sedang menjadikan mereka tameng?"tanya Melody lagi.
"Cik, si4l!, tak usah khawatir mereka semua, mereka sudah aman di Duchy jadi kamu bisa pergi dengan tenang"ujar Melody mengalihkan pandangannya kearah lain.
Zero yang mendengar itu kini menatap ke arah Nelody.
"Kenapa?"Walaupun dia memang ingin pengampunan namun dirinya sama sekali tak percaya akan apa yang dia dengar.
Sebanarnya Melody juga baru tau kalau masa waktu hidup Zero sudah tak lama lagi dia baru saja mendapat informasi tersebut saat dirinya berhasil membantai semua pasukan milik Zero.
Dimana ternyata Zero sendiri sudah di racuni oleh orang luar dan saat ini adalah masa terakhirnya untuk hidup, dia juga sudah tau kalau Zero menjadi orang jahat untuk melindungi semua warga di dalam kota ini namun sayang sekali dia mengetahui itu dengan sangat terlambat sehingga masalah yang menimpa keduanya tak bisa di selesaikan dengan cara baik-baik saja.
"Aku tau semuanya jadi matilah dengan tenang, masalah wilayah dan orang-orang mu biar aku yang urus"ujar Melody masih dengan mengalihkan pandanganya rasanya tak sanggup melihat wajah Zero yang kinii ada di bawah nya.
"Terima kasih Yang Mulia, terima kasih"ujar Zero.
__ADS_1
Setelah mengucapkan hal tersebut darah kini mulai keluar dari hidungnya, kemudian dari telinganya dan terakhir Zero kini muntah darah dengan sangat nanyak waktunya sudah tak lama lagi.
Dan gak lama akhu6rnya Zero menghebuskan nafas terakhirnya.
"Urus semua mayat yang ada"perintan Melody sebelum dirinya berbalik dan meninggalkan medan perang.
Semua mayat yang ada di kubur di tempat dan kota tersebut kini sudah menjadi kuburan massal.
Mereka semua memberi penghormatan terakhir kepada Zero dan pasukannya sebelum pulang kerumah.
Perang hari ini membuat mereka senang tapi juga merasa sedih akan apa yang baru saja terjadi.
Di dalam perjalanannya pulang Melody terus saja memikirkannnya seperti ada yang janggal dengan apa saja yang terjadi dengan dirinya di sana.
Contohnya seperti plot twist yang terjadi di mana ternyata Zero bukan lah orang yang terlaku jahat Walaupun memang benar dia salah dalam masalah pertambangan dan pantas di bunuh hanya saja satu hal yang masih jadi pertanyaan di dalam pikiran Melody adalah.
Siapa yang menarucuni Zero?
Semakin di pikir makin rumit masalahnya.
"Dame Clara"panggil Melody.
Dame Clara yang merasa di panggil kini maju ke arah Melody dan membungkuk.
"Ya Yang Mulia apa ada yang bisa saya bantu?"tanya Dame Clara.
"Selidiki tentang masalah ini, aku curiga jika ada pihak luar yang terlibat"ujar Melody.
Dame Clara yang mendenegar perintah itu segera undur diri dan mulai melakukan apa yang di perintahkan oleh Melody.
Dirinya langsung saja memisahkan diri dengan rombongan Melody yang dalam perjalanan menuju arah Duchy Salvier
Semantara itu Melody sudah tak sabar ingin melihat bagaimana perkembangan Duchy nya masalahnya kemarin dari pertambangan dia langsung pergi jadi tak sempat melhat kearah kota di tambah bahwa tempat kemarin di mana semua Prajurit berkumpul lumayan jauh dari lokasi pembangunan jadi dirinya sama sekali tak tau perkembangan disana.
__ADS_1
Namun betapa terkejut nya dirinya saat melihat Duchy yang berneda 180° apa lagi kota Duchy sudah mirip dengan ibu kota Kekaisaran yang kurang cuma satu saja yaitu kualitas di sini lebih tinggi dan bangunan di sini lebih bagus dan kurang satu lagi, kurang Istana Kekaisaran nya.