
Mendengar apa yang di katakan oleh saudaranya itu Dame Clara juga tak bisa berbuat apa-apa dan hanya b8sa menghela nafas sambil menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
"Itu dia aku bingung mau bagimana lagi"ujarnya lesu.
Sir Candra yang mendengar kalimat putus asa dan lesu itu juga kini menghela nafas dan duduk di pinggir ranjang.
"Kalau begitu mau mencari informasi nya bersama?"tawar Sir Candra menatap saudarinya itu.
Dame Clara yang melihat bahwa saudaranya menatapnya dengan tatapan penuh harap kini kembali duduk di tepi ranjang walaupun dirinya malas tapi dirinya kini mengambil pedang yang ada di atas meja.
"Ayo kita pergi"ujar Dame Clara tidak bersemangat bahkan dirinya masih saja dengan lemas duduk di tepi kasur tanpa ada niat untuk beranjak sedikitpun.
Sir Candra yang melihat saudarinya yang seperti itu hanya tersenyum tipis dan mulai bangun dari duduknya dengan gembira.
"Haih~, ayo cepat pergi"ujarnya sambil menarik tangan saudarinya tersebut.
Rasanya cukup sulit membuat saudarinya itu untuk banguj dari tempat tidur namun akhirnya dirinya berhasil walaupun hal tersebut terlihat seperti dirinya menyeret Dame Clara.
Namun tetap saja hal tersebut sama sekali tak bisa menjadi halangan bagi dirinya untuk terus berjalan dengan tegas ke depan dengan senyum manisnya.
Yah dia rasa sudah lama juga dia sama sekali tak mendapat tugas bersama saudarinya itu.
(Padahal baru kemarin dia dapat tugas menjaga Viscount bersama😑)
Tiga hari kemudian.
Seperti biasanya saja Melody tetap bekerja hanya saja dalam waktu tiga hari saja dia sudah memiliki rencana yang lumayan banyak hal yang telah di persiapkan oleh Melody.
Dia bahkan sampai begadang tak tidur selama tiga hari ini hanya untuk mempersiapkan hal yang harus dia lakukan untuk membangun Duchynya.
Tentu saja hal tersebut membuat lingkaran hitam kini terlihat di matanya bahwa dirinya terlihat sangat lesu, dia sangguh terlihat sangat kelelahan saat ini
Dan dalam waktu itu juga tidak ada laporan dari Dame Clara serta Sir Candra.
Tiba-tiba pintu ruang kerjanya kini di ketuk.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
"Yang Mulia semuanya sudah menunggu"ujar seseorang di balik pintu tersebut.
Melody yang mendengar kalimat itu segera saja menghentikan tangannya yang masih saja setia menulis di atas kertas.
"Baiklah aku akan segera ke sana Diana"ujarnya sambil berdiri.
Menyambar jubahnya dan memakainya kini dia berjalan keluar dari dalam ruangan tersebut.
Ini adalah waktu dan harinya di mana Count akan di adili dan hari ini juga dia pastikan Count akan bebas dari seluruh hukumannya.
Diana kini mengikuti Melody di belakang kini mereka sudah sampai di sebuah bangunan yang tak jauh dari Duchy perjalan ke sana cukup singkat lantaran Melody dan Diana yang menggunakan sihir teleportasi.
Di depan pintu besar itu kini suatu hal yang besar sedang menunggunya.
"Yang Mulia hati-hati"pesan Diana sebelum Melody membuka pintu tersebut.
Melody kini tersenyum sambil menatap Diana.
"Kamu tenang saja aku akan baik-baik saja"ucapnya menenangkan Diana.
Pintu terbuka dan sebuah teriakan yang meneriaki namanya kini bergema di seluruh ruangan.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu kini ssketika berdiri dari duduk mereka dan mulai membungkuk kearah di mana Melody berjalan.
Dengan langkah percaya diri dan tegas Melody mengambil jalan kearah kursi paling mewah dan tinggi di ruangan tersebut, karpet merah menjadi jalan nya.
Di setiap langkahnya begitu ringan dan berwibawa.
Kini Melody duduk di kursi tersebut dengan tenang, dia lumayan puas dengan yang membangun bangunan ini.
"Bangunlah semuanya"ujar nya memerintah semua orang untuk berhenti menuduk kan kelapa mereka.
Semua orang yang mendengar hal tersebut kini segera menegakkan kepala mereka.
"Mulai persidangannya"ujar Melody.
Semua orang yang mendengar hal tersebut kini kembali duduk dan seseorang yang bertugas sebagai jaksa kini maju ke depan.
Selain itu dari arah depan dua orang Prajurit kini membawa Count yang sekarang ini masih saja di rantai dan membawanya ke kuris tersangka.
Count nampak begitu buruk dan kurus dia juga terlihat sangat kotor, namun semua hal tersebut tak bisa menutupi wajahnya yang mulia.
__ADS_1
"Sebelum persidangan di mulai aku ingin bertanya kepada tersangka apa kamu bersedia berkata dengan sangat jujur tanpa adanya hal yang kamu sembunyikan sama sekali?"tanya Delice yang bertigas sebagai narator, sebuat saja seperti itu karena dia adalah seseorang yanh bertugas atas jalannya persidangan, seperti sebuah cerita?.
"Ya saya bersedia"ujar Count tanpa ragu kini sinar warna biru bersinar terang di bawah kakinya dan tak lagi padam hal itu berarti bahwa Count sudah bersumpah dengan benar.
"Dan saya tanya kepada anda Jaksa apa anda bersedia berkata dengan jujur?"tanya Delice.
"Tentu saja saya bersedia"ujar Jaksa tersebut kini lingkaran biru juga muncul di bawah kaki Jaksa tersebut.
"Dan saya juga bertanya kepada semua saksi yang saat ini hadir di sini apa bersedia berkata sejujurnya tanpa anda yang di sembunyikan"ujar Delice.
"Ya saya bersedia!"suara semua orang yang menjadi saksi kini terdengar dan cahaya biru juga kini bersinar di bawah kaki mereka.
"Yang Mulia persidangan siap untuk di mulai"ujar Delice menatap dan mengangguk kearah Melody.
Namun Melody hanya tersenyum.
"Delice kamu lupa mengambil sumpah dari seorang hakim"
Mendengar apa yang di katakan oleh Duchessnya membuatnya sangat tak percaya, pasalnya jika saja Duchess nya tak mengambil sumpah itu sama sekali bukan hal yang bisa mereka protes.
"Delice jika seperti ini aku akan terlihat seperti seotang hakim yang tak adil"ujar Melody melirik Delice.
Mendengar hal tersebut Delice kini membungkuk kearah Melody dan dengan sopan berkata.
"Maaf Duchess maaf atas kelalaian saya"ujar Delice.
"Baiklah aku maafkan sekarang bacakanlah sumpah kepada ku"perintah Melody.
Menghembuskan nafasnya Delice tak punya pilihan lain selain melakukan apa yang di perintahkan oleh Melody.
"Saya bertanya apa anda bersedia menjadi hakim yang adil dan bijak sana di persidangan ini?, dan akan melakukan persidangan ini dengan sejujur-jujurnya?"tanya Delice.
"Tentu saja"jawab Melody kini sinar biru juga sudah bersinar di bawah kakinya.
"Baiklah karena semua orang sudah bersumpah persidangan bisa di mulai"ujar Delice dan segera mundur dari tenpatnya.
"Bacakan apa kesalahan nya"ujar Melody yang kini menjadi hakim.
Jaksa kini mengangguk dan mulai menyerahkan bebarapa berkas di depan Melody sebenarnya itu adalah hal yang sudah dia baca.
"Baik Yang Mulia saya akan membacakannya"ujar sang Jaksa.
__ADS_1