Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 39


__ADS_3

"Yang Mulia!"teriak Diana kaget lantaran kini Melody berdiri di depan Delice dan Gio.


"Iya aku baik-baik saja"ulang Melody lagi dia sedikit mendongak karena posisi Diana yang kini masih di atas udara.


Melihat bahwa Tuan nya ada di bawah langsung saja Diana turun dan langsung memegang kedua tangan Melody erat.


"Yang Mulia~"panggil Diana dengan mata yang sedikit berkaca.


Melody hanya tersenyum manis, hampir saja dia telat, serangan barusan memang tak akan membunuh keduanya tapi jika keduanya terluka maka pemburuan monster itu akan sulit, kalau boleh jujur saja dia juga ingin meledakan mereka berdua sekarang tapi dia harus menahan nya untuk masa depan yang cerah.


"Diana jangan terlalu kasar, apa lagi Delice suami mu kan?, aku baik-baik saja"ucap Melody lagi.


"Baik Yang Mulia"ucap Diana saat dia sadar bahwa dia salah dia langsung melepas tangan Melody dan menudukan kepala nya.


Melihat Diana dia tersenyum, rasanya senang bahwa mengetahui bahwa Diana begitu menghawatirkan nya, tapi Delice ini sedikit mengecewakan, sadar akan hal itu Melody segera menatap ke arah Delice dengan aura suram serta tatapan tajam yang dapat menebus jiwa.


Delice sendiri kini segera bangun dari duduk nya, namun tidak berani menatap Melody dia tau bahwa saat ink Yang Mulia nya sedang menatap nya dengan sangat menakutkan.


"Maafkan kesalahan saya Yang Mulia, saya bersedia menerima hukuman apa pun"ucap Delice dengan tangan di dadanya dan posisi sedikit menuduk.


"Ya kamu benar, kamu harus di hukum pergilah ke hutan monster dan tunggu aku di sana, bantu beberapa pejabat di sana untuk bekerja"ucap Melody.


"Baik Yang Mulia"ucap Delice dan segera pamit untuk menjalan kan hukuman nya.


Kini mata Melody beralih ke arah Sir Gio yang masih terduduk dengan sekujur tubuh yang gemetar, melihat bahwa reaksi Melody sangat maklum orang gila mana yang tak akan gentar di bawah petir besar itu, tapi sepertinya Delice dia biasa-biasa sajaa tuh, kini Melody berfikir sebenarnya sudah berapa kali Delice di sambar petir yang sama, membayangkan nya saja sudah merinding.


"Dan kamu Gio ada urusan apa?" Dia ingat siapa dia karena ingatan Melody memberi tahunya, dia adalah Kesatria milik Rosalina tapi ada urusan apa dia kemari?!.


Mendengar suara yang cukup dia kenal, Sir Gio kini menatap ke atas dan menemukan wajah yang lumayan dia kenal itu adalah Duchess Salvier.


"Ya_yang_mu_lia"ucap Gio terbata dia masih cukup syok akan kejadian yang menimpanya beberapa waktu yang lalu.


Melihat bahwa Gio masih syok, dia tau bukan saat nya bagi mereka berdua untuk berbicara, atau menanyakan sesuatu.


Memberi aba-aba kepada beberapa Kesatria di sekita yang kini juga sedang syok, namun saat mendapat aba-aba tersebut salah satu dari mereka langsung sadar dan maju ke depan mewakili teman-teman yang yang masih larut dalam kejutan mental.

__ADS_1


"Bawa Sir Gio untuk istirahat"ucap Melody dan segera pergu dari sana.


"Baik Yang Mulia"ucap Kesatria itu sambil membungkuk ke arah Melody pergi.


Seperginya Melody dia segera membangunkan teman-teman nya yang lain untuk membantu.


Sir Gio yang masih saja syok dia sama sekali tak bisa protes apa lagi mengumpat dan hanya bisa pasrah akan keadaan yang ada.


Devian kini baru sampai perbatasan Duchy Utara, dan bebarapa saat yang lalu dia di buat tuli oleh suara keras yang dia tau suara siapa itu.


Dan disini lah sekarang dia berada di bawah pohon sambil terus menepuk telinganya yang masih berdengung, dia sungguh si4l hari ini, bisa-bisa nya dia tak sempat menutup telinga padahal semua orang Duchy Utara memiliki waktu.


Tentu saja jawabannya karena saat suara itu datang Devian sedang hendak di terkam oleh Monster yang dilawan nya, antara memilih telinga atau nyawa tentu saja dia pilih nyawa.


"Bisa Gila aku"ucap Devian lesu.


Kini Devian di bawah pohon sambil menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya seperti anak hilang, dia ingin melanjutkan tapi kalau dia tak mampu mendengar itu akan sulit.


Tapi dia juga ada tugas lain jadi mari tukis laporan saja dulu.


Ya dia memang di tugaskan untuk memperhatikan gerakan dari Melody dan melapirkan nya ke pada ayah nya, tujuan nya bukan untuk mencelakai tapi hanya untuk melindungi.


Menatap merpati yang kini terbang jauh Devian menghela nafas.


Tapi tak lama bayangan hitam berlutut di depan nya itu adalah Black, penjaga bayangan nya.


"Bagimana?"tanya Devian.


"Tuan Muda anda ternyata benar_"ucap Black namun segera terpotong.


"Tolong kertas laporan nya saja, aku masih tuli"ucap Devian santai.


????


Ternyata hal itu cukup membuat Black kebingungan namun dia tak mengatakan apa-apa dan segera menyerahkan berkas yang di minta.

__ADS_1


Membaca semua berkas itu perlahan bibir Devian kini naik ke atas.


"Benar apa yang aku duga ini semua dalang mereka bukan?"ucap Devian dengan senyum misteriusnya.


Melempat berkas itu ke arah Black, Devian segera menaiki kudanya lagi dia harus bergegas.


"Kirim berkas itu ke ayah, biar dia yang selesaikan"ucap Devian.


"Baik Tuan Muda"ucap Black dan segera menghilang dari sana.


Duchy Milian, Kefiaman Duke Milian.


Beberapa waktu lalu dia mendapatkan merpati pos, itu dari anak nya Devian.


Setelah membaca suratnya dia benar-benar terkejut dengan fakta baru yang baru saja dia tau, bahwa Yang Mulia Putri Melody ternyata adalah seorang SwordMaster dan Penyihir, ini sama sekali tak bisa di biarkan atau bocor jika tidak makan akan ada bahaya yang akan menghampiri Melody.


"Jim"


"Ya Tuan"


"Blokir semua informasi tentang Utara jangan biarkan informasi sekecil apa pun keluar dari Utara, dan juga kumpulakan informasi dari Utara dan serahkan kepada ku"


"Baik Yang Mulia"ucap Jim yang segera menjalan kan tugasnya.


Tak lama kini gorden jendela tertiup dan jendela terbuka, sosok Black penjaga bayangan Devian kini berlutut di depan Duke Milian.


"Ada apa?, ada urusan penting?"tanya Duke Milian.


"Tuan Muda menyuruh saya menyerahkan ini kepada anda, Tuan Muda berkata bahwa anda pasti bisa menyelesaikan nya"ucap Black sambil menyerahkan berkss yang di titipkan oleh Devian.


"Baik kamu boleh pergi"ucap Duke Milian.


"Terima kasih Tuan Besar"ucap Black dan segera menghilang dari sana untuk kembali ke posisi nya, yaitu menjadi banyangan.


Duke pun membuka berkas tersebut dan ekpresinya kini mengeras membaca laporan yang ada di dalam nya, masalah ini tak sepele dia harus berdiskusi dengan Kaisar.

__ADS_1


"Jim!, siapkan kereta kuda, aku akan ke Istana segera"


__ADS_2