Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 116 Mulia (15) panah api


__ADS_3

Tapi tentu saja tim ekspedisi wilayah akan di bentuk nanti sesudah Melody melakukan tugasnya di sini


"Tim penembak siapkan anak panah!"teriak Melody.


Dengan begitu semua tim penembak kini sudah bersiap dengan anak panah.


Namun Melody merasa ada yang kurang.


"Entah kenapa aku merasa ada yang kurang saat melihat kalian"ujarnya sambil berfikir.


Hal tersebut rupanya membawa semua tim pemanah nampak kebingungan dengan apa yang di katakan oleh Melody.


"Apinya Yang Mulia, mingkin anda akan suka jika di tambah api?"ujar ketua dari tim pemenah.


Melody yang mendengar saran itu kini tersenyum, dia merasa bahwa kepalanya telah di cerah kan.


"Kamu benar ulangi lagi persiapan, kita akan memanah api ke kota itu"ujar Melody memberi printah.


"Baik Yang Mulia!"semuanya kini nampak patuh dan mulai melakukan apa yang di suruh oleh Melody


Dame Clara perlahan mendekat kearah Melody, wajahnya entah kenpa seperti memperlihatkan ketidak setujuan.


Melody yang sadar akan hal itu akhirnya menatap kearah Dame Clara.


"Apa yang membuatmu begitu keberatan?"tanya Melody.


"Yang Mulia apa anda berniat membakar kota itu?"tanya Dame Clara sambil mengigit bibirnya.


"Tentu saja memangnya kenapa?, ada yang salah dengan rencanaku?"tanya Melody bingung.


"Yang Mulia tapi di sana ada anak-anak, apa anda yakin ingin membunuh mereka juga!?"tanya Dame Clara tak percaya akan keputusan yang di buat Melody.


Sedangkan Melody kini malah menyeringai lebar, dia sudah menunggu pertanyaan ini keluar dari mulut Dame Clara.


"Bukan kah itu tugasmu untuk membuat para anak-anak, ibu hamil bahkan warga sipil untuk mejauh dari daerah tersebut"ujar Melody dengan senyum liciknya.


Dame Clara yang mendengar hal tersebut kini kaget dan tersentak sehingga dia menatap Melody dengan tatapan tak paham dia merasa aneh bagiamana dia bisa menolong semua orang seperti apa yang di katakan oleh Yang Mulia Duchess?.


Melihat bahwa Dame Clara yang kebingungan Melody kini tersenyum, dan mengeluarkan sesuatu dari dalam baju zirahnya.

__ADS_1


Itu adalah 10 batu merah yang bisa langsung Dame Clara kenali.


Dame Clara yang melihat benda tersebut keluar dari baju zirah Melody kini melebarkan matanya tak percaya dan menatap Melody dengan tatapan yang sama tak percayanya.


"Apa yang kau tunggu, cepat ambil batu ini dan sebar di beberapa titik, kenapa kamu bengong saja?, bukan kah kamu ingin menyelamatkan mereka semua?"tanya Melody dengan senyum liciknya.


Dame Clara yang mendengar itu segera saja menerima ke 10 batu tersebut.


"Baik Yang Mulia akan segera saja laksanakan"ujar Dame Clara dan segera pergi dari sana dengan semangat.


Semantara itu komandan pasukan yang pergi bersama Melody kini nampak heran dengan apa yang di lakukan oleh Duchess nya tersebut sehingga dia mulai mendekat.


Dan dengan sedikit keberanian dirinya mulai bertanya kepada Melody.


"Yang Mulia maaf jika saya lancang, hanya saja saya memiliki pertanyaan, kenapa anda memberikan benda berharga itu hanya untuk menyelamatkan warga dari musuh anda?"tanya komandan pasukan.


Mendengar itu Melody tersenyum.


"Kamu benar, tapi musuhku adalah pemimpin mereka dan bukan mereka lagi pula wilayah ini masih masuk wilayah Duchy bukan yang berarti mereka masih lah rakyatku"ujar Melody.


Memang benar walaupun pedagang itu punya wilayah sendiri namun tetap saja, wilayah ini terdaftar sebagai bagian dari Duchy Salvier secara pemerintahan, jadi wilayah ini juga tak bisa luput dari pajak.


"Hmm..., lebih baik sekarang kamu periksa saja semua pasukan kita akan melakukan serangan malam"ujar Melody dan segara pergi dari sana mencari tempat laoang untuk melakukan suatu hal.


"Baik Yang Mulia"komandan pasukan tersebut kemudian mengangguk dan mulai menjalankan tugasnya.


Sedangkan Melody kini mulai menggambar formasi untuk menjalankan rencananya.


Dia yakin kalau misalnya Dame Clara bisa melakukan tugasnya dengan baik, palingan dalam beberapa menit lagi dia akan sampai di sini.


Malam akhirnya tiba.


Melody kini berdiri di atas tebing sambil mengamati kota yang kini sudah gelap dan hanya bebarapa cahaya yang menyala akibat cahaya dari lampu yang ada.


"Yang Mulia semua persiapan sudah siap"lapor Dame Clara.


Dirinya sudah kembali dengan cukup lama dan setalah dirinya kembali dirinya langsung saja bergabung untuk menyiapkan pasukan.


"Bagus suruh semuanya untuk bersiap-siap terutama tim pemanah"ujar Melody.

__ADS_1


"Baik Yang Mulia "ujar Dame Clara dan mulai mempersiapkan pasukan pemanah.


"Semuanya dengarkan!, siapkan anak panah kalian!"teriakan dari Dame Clara memberi komando untuk semua tim pemanah.


Semua tim pemanah segera saja mengangkat panah mereka, itu adalah pamah dengan ujung yang terbakar oleh api.


"Tahan!"ujar Dame Clara sambil memberi isyarat dengan tangan.


Melody sendiri kini sudah berdiri di tengah-tengah formasi dan mulai membaca mantra tak lama formasi tersebut bersinar dengan sinar merah.


Kini di bebarapa tempat 10 batu merah itu kini juga mengalahkan dan secara bertahap menjadi sangat terang.


Dari ke 10 batu tersebut kini semuanya saling memantulkan cahaya merah yang kemudian menglilingin kota tersebut dan cahaya dari ke 10 batu tersebut bertemu dan terhubung.


Tiba-tiba cahya merah menyala dan menembak kearah langit dari ke 10 batu tersebut.


Tak lama sebuah pola sihir yang amat besar terbentuk di langit kota tersebut, kini semua pasukan Melody melihat fenomena tersebut dengan terkesima hal tersebut di karenakan ini pertama kalinya mereka melihat pola sihir yang begitu besar dan terang seperti itu.


Sementara itu kejadian aneh di dalam kota mulai terjadi semua warga sipil kini di selimuti oleh cahaya merah sebelum mereka menghilang tanpa jejak.


Kini yang tersisa di dalam kota hanyalah sang pedagang Zero serta antek-antek setianya saja.


Melody yang tau hal tersebut kini menyeringai puas.


Tak lama pola sihir itu menghilang.


Berbarengan dengan hilangnya pola itu sebuah teriakan komando dari Dame Clara terdengar.


"Tembak!"seru Dame Clara.


Dalam sekejap mata jutaan panah api kini melesat di udara dan muali kenghujani kota tersebut dengan ganas.


Panah-panah kini mulai menancap kerumah-ruman penduduk dan mulai membakar semuanya.


Jujur saja Melody masih merasa bersalah tapi dia memang berniat untuk memindahkan penduduk di sini menuju ibu kota Duchy nya solanya tempat ini sebentar lagi akan menjadi pertambangan milik nya.


Penjaga kota yang sadar akan serangan musuh kini segara saja membunyikan lonceng.


Dan dalam hitungan menit kini pasukan sudab terbentuk di dalam kota tersebut.

__ADS_1


__ADS_2