
Rupanya kalimat yang terpotong itu jauh lebih bikin penasaran dari pada jejak kaki atau pun siapa pembunuh sebenarnya, lihat saja Melody sudah ada di samping Devian sambil menatap nya dangan tatapan penuh harap.
🧠🧠🧠🧠🧠🧠🧠🧠
Namun bukan Devian nama nya jika dia bisa menjawab keingin tauan dari Tuan nya saat dia sedang sangat serius untuk menyelidiki sebuah kasus, hal itu terbukti saat Devian malah pergi mengikuti jejek itu dan meninggalkan Melody yang cemberut di tempatnya.
"Humm!, dasar pelit!"ucap Melody sebelum ikut berlari ke arah Devian pergi.
Semakin jauh mereka berjalan entah kenapa itu semakin gelap mungkin karena hutan yang rimbun sehingga cahaya matahari tidak bisa masuk.
Melody yang pertama kalinya ada di kegelapan tengah hutan cukup merinding, walaupun dia sering mengatakan kalau kegelapan adalah teman nya namun tetap saja gelapnya rumah dan hutan berbeda.
Di rumah nya walaupun itu gelap namun aman, tapi bagaimana dangan hutan ini?, mungkin kalau dia lengah bisa-bisa dia terkena jebakan.
Sehingga dengan tubuh yang mengigil, Melody segera berlari mengejar Devian yang ada di depan nya dan memegang ujung jubah kesatria milik Devian.
Devian sendiri tak merasa terganggu dia hanya sibuk mencari jejek, sedangkan Melody dia terus melihat sekitar.
Hingga sebuah bayangan dalam kegelapan membuat Melody sedikit takut hingga dia mendekat ke arah Devian, setidaknya jika itu hewan buas, Melody siap untuk melempar Devian agar dirinya selamat.
Kejam memang tapi siapa suruh hanya ada mereka berdua.
Sangkin takutnya Melody terus menatap kebelakang hingga dia tak tau bahwa Devian berhenti di tengah jalan hingga dia menabrak punggung Devian.
Duk!
"Uch!, aduh kenapa kamu berhenti!?"tanya Melody kesal sambil mengusap hidungnya yang memerah.
"Ah, maaf Yang Mulia, saya melihat hal menarik, apa anda baik-baik saja, anda bisa kembali dulu, saya akan kesana sebantar"ucap Devian berbalik menatap Melody sambil menujuk arah ke mana dia akan pergi walaupun itu tak berguna karena Melody bahkan tak bisa melihat apa-apa.
"Pulang_?"cicit Melody dia membayangkan jika dia pulang sendiri dan ternyata bayangan tadi beneran binatang buas lalu siapa yang akan dia korbankan?!.
"Ya, Yang Mulia??"tanya Devian dengan polosnya sambil memiringkan kepalanya bingung.
"Bersama, ayo pulang bersama"ucap Melody sedikit gemetar karena jujur saja firasatnya mulai tak enak.
"????, kanapa Yang Mulia???"Devian yang cukup peka merasakan bahwa Melody sedikit gemetar.
"Tak tau, tapi ayo pulang"ucap Melody sedikit lagi.
__ADS_1
"Tunggu sebentar Yang Mulia aku akan mengecek ke depan seben__"
"Aku bilang!, pulang!, ya, pulang!!, kenapa kamu rewel si!!"teriak Melody emosi.
Teriakan itu cukup membuat Devian terkejut hingga dia membatu.
"Yang Mulia ada ap__"
???!!!
Slapp~!
Sebuah anak panah terbang ke arah Melody, Melody yang tak bisa bereaksi hanya bisa diam saat Devian tiba-tiba mengangkatnya dan mendarat di atas dahan pohon dengan sampurna.
Tap!
"Apa barusan?"tanya Melody sambil berpegangan erat ke pundak Devian.
Namun tak ada jawaban yang keluar kini yang Melody lihat hanya lah mata biru laut Devian yang terlihat seperti bersinar, mungkin karena matanya adalah satu-satunya yang terkena sinar matahari.
"Suttttttt~"hanya suara itu yang keluar dari mulut Devian sambil menaruh jari telunjuknya di bibir, setelah mendaratkan kedua kaki Melody di atas dahan, namun tetap saja Melody tak melepaskan pegangannya, begitupun dengan Devian yang masih memegang pinggang Melody erat, tentu saja itu karena dahan itu sangat licin, di tambah bahwa Melody memakai sepatu hak tinggi.
Slap~
Slap~
Suara bayangan yang mondar-mandir dari satu semak ke semak lainnya, Melody yang mendengar itu hanya diam dengan mata yang bergerak dengan gelisah, sedangkan Devian sendiri kini melihat kemana saja bayangan itu pergi.
Tak lama bayangan itu bergerak cepat kearah membuat Devian terkejut dan membelakan matanya terkejut.
Trang!
Dua suara besi beradu memenuhi hutan yang sunyi.
Untung saja saat bayangan itu hendak melancarkan serangan dengan belati Devian langsung menangkisnya dengan belati pula.
Devian yang tadi nya di atas dahan pohon setelah serangan itu segera turun ke bawa bersama dangan Melody yang masih di tangannya.
"Yang Mulia anda tak apa-apa?"tanya Devian cemas.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja"jawab Melody takut sambil meremas pakaian Devian lebih erat, jika saja pertarungan ini tak terjadi di tempat gelap dia pasti bisa membantu.
Namun sayang sekali tempat nya gelap, jangan kan ingin membantu untuk melihat dan mengetahui letak musuh saja dia tak bisa, dia memang bisa pedang tapi bertarung dalam kegelapan dia sama sekali tak bisa, mungkin jika itu Melody yang asli dia mampu namun dirinya sama sekali tak bisa.
"Bertahan lah Yang Mulia, kita akan keluar dari sini secepatnya"ucap Devian sambil menggendong Melody lagi.
Seperti seorang Assasin Devian bergerak cepat untuk keluar.
Namun seperti biasa hal yang di rencanakan tak bisa selalu berjalan mulus, setelah itu dalam perjalan untuk keluar dari hutan banyak bayangan Assasin yang mengejar mereka sambil melemparkan banyak sekali belati ke arah mereka berdua.
Devian yang berusaha kabur sambil mengkis semua serangan itu cukup kewalahan apa lagi satu tangannya kini terus menggendong Melody.
Tang!
Trang!
Set!
Sat!
Tung!
Tang!
Trang!
"Aw!"pekik Melody saat secara tak sengaja tangannya tergores belati yang menuju ke arah mereka, itu adalah belati yang tak sempat Devian blokir.
"Yang Mulia!"seru Devian Khawatir, walaupun gelap Devian bisa melihat dengan jelas hal yang ada di kegelapan begitu pula dangan darah yang kini menetes.
Tubuh kecil dan rapuh itu jelas mengigil kesakitan di dalam pelukan nya, dia marah, sangat marah, beraninya mereka semua menyerang seseorang yang di lindungi oleh nya.
Tangan Devian diam-diam mengepal, dia ingin membunuh mereka semua.
Namun amarahnya segara reda saat tangan Melody tak sengaja mencakar lehernya hingga berdarah.
"Ah!, Yang Mulia bertahan lah sebentar lagi, kita akan sampai"ucap Devian yang tiba-tiba saja bergerak dengan kecepatan yang melebihi seorang Assasin sehingga mereka benar-benar membuat para Assasin tak bisa mengejar mereka lagi.
Dari kejauhan kini Melody bisa melihat cahaya, dia lelah juga rasanya tubuhnya remuk, dan letih karena di gendong terus, sehingga dengan perlahan dia menutup matanya dan bersadar di bahu Devian untuk tidur.
__ADS_1
Devian bisa merasakan hembusan angin hangat yang menyapu lehernya, dia juga tau bahwa seseorang yang ada di pelukkannya itu kini telah tertidur.
Keluar dari hutan itu ternyata Delice sudah menunggu di luar.