Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 155


__ADS_3

"Bangunlah Sir"ujar Melody.


Dengan cepat Devian berdiri.


"Yang Mulia lain kali jangan tinggalkan saya saat saya sedang bertugas saya merasa sangat bersalah jika saya mengabaikan tugas yang sudah di bebankan ke pada saya"jelas Devian jelas sekali kalau dia saat ini sedang ngambek.


"Si tengil ini? Lagi pula aku hanya tak tega membangunkan mu, aku lihat bahwa kamu sangat pulas saat tertidur jadi aku memutuskan untuk tidak membangunkan mu"ujar Melody.


"Tapi bagaimana Yang Mulia bisa seperti itu?, bagaimana pun saya juga adalah Kesatria anda kan jadi tolong lain kali jika saya tertidur Yang Mulia bangunkan saja saya, bahkan kalaupun saya dalam keadaan sekarat dan di ambang kematian pun saya akan segera menghampiri Yang Mulia, bahkan juga jika saya koma saya akan bangun untuk anda"ujar Devian sungguh-sungguh.


Melody yang mendengar itu sedikit tersenyum.


"Pfttt~, benarkan kamu akan langsung bangun bahkan jika itu di ambang kematian?"tanya Melody dengan sedikit godaan.


"Tentu saja saya akan bangun untuk anda"ujar Devian.


"Baiklah Kesatria ku sangat lah bertanggung jawab"ujar Melody dan segera merangkul Devian walaupun berbedaan tinggi mereka cukup jauh.


Tapi Devian yang peka sedikit menekuk lututnya hal tersebut bertujuan agar Melody bisa menjangkau pundaknya dengan muda dan terlihat bahwa mereka sama-sama tingginya.


"Oh ya ngomong-ngomong bajumu sama sekali tidak rapi dan sangat berantakan itu sangat melanggar etika seorang Kesatria"ujar Melody


Devian yang di beri kata tersebut hanya bisa tersenyum canggung sambil menggaruk belakang kepalanya dia sangat malu bagaimana mungkin dia sama sekali dan bersiap dengan rapi kan jadi kena ceramah.


"Anu Yang Mulia, sebenarnya...saya sama sekali..tak bisa memakai atribut"ujar Devian merasa malu dan menudukan kepalany yang sudah sangat merah.


Melody yang mendengar hal itu hanya bisa berusaha menahan tawa yang akan meledak.


"Sir..pfttt..., emhh!...,seharusnya kamu bilang jika tak bisa memasang kembali atribut tersebut kau boleh minta tolong kepada Kesatria lain, Pelayan atau bahkan kepadaku"ujar Melody dan mulai berdiri di depan Devian.

__ADS_1


Dirinya mulai merapikan baju Devian dengan benar bahkan memasang atribut yang ada sesuai tempatnya.


"Aku jadi bertanya-tanya bagaimana kamu bisa sendiri di medan perang dan bagaimana setiap paginya?"tanya Melody.


"Itu selama dia medan perang saya sama sekali tak pernah memakai atribut dan bahkan setelah pulang pun saya selalu di persiapkan oleh Lucas Pelayan saya"jelas Devian.


"Jadi begitu bahkan dasi pun kamu tak bisa memakai dengan benar, ku rasa kamu adalah anak tengil yang sangat nakal"ujar Melody tersenyum dan menyelesaikan dasi Devian dengan amat baik.


"Nah baiklah ayo segera berkeliling lagi"ujar Melody dan mulai berjalan di sekitar kali ini dia benar-benar berpikir untuk pergi ke daerah tanah basah dia ingij tau apa di sana ada hal yang seperti dia pikirkan atau tidaknya.


Tak lama akhirnya mereka sampai di sana dan Melody berjongkok di bawah.


Devian yang tak tau apa yang di lakukan oleh Melody hanya ikut-ikut saja dan juga berjongkok di sampingnya.


Terlihat sekali bahwa Melody sedang mengamati tanah tersebut bahkan sampai membuat keningnya berkerut dengan sangat dalam.


Apa lagi saat Melody mengelurkan tangannya dan menyentuh tanah tersebut.


"Teksturnua cukup lembek, lunak dan basah, selain itu warna nya juga agak gelap"ujar Melody yang sama sekali tak bisa di pahami oleh Devian.


Tak lama beberapa benda yang saka sekali tak bisa di pahami Devian kenama Duchess membawanya kini muncul di depan nya secara gaib itu adalah sebuah pot bunga baru, pisau, skop dan juga kunyit?.


Mengeryitkan keningnya tak paham Devian hanya berniat menoton saja.


Apa lagi saya Melody menyekop tanah dari empat titik lahan tersebut dan memasukan nya ke dalam pot mengaduk nya secara rada dan setelah itu dia membasai tanah tersebut dengan air yang entah muncul juga dari mana.


Lucu nya setiap Melody pergi ke mana pun Devian akan mengikutinya dengan tatapan penasaran dan hanya diam saja.


Memotong kunyit menjadi 2 bagian dan memasukan nya ke dalam tanah yang sudah di basahi selama lebih dari 30 menit.

__ADS_1


Mengambil lunyitnya kembali kini Melody mengamati warna kunyit tersebut dengan seksama.


Kunyit itu jelas sekali berwarna biru yang berarti bahwa kadar PH tanah kurang dari 7 dan itu cukup membuktikan bahwa tanah yang dia pikir adalah tanah gabut adalah benar.


"Pantas saja pertanian di sini selalu gagal"ujar Melody dengan tawanya yang terlihat hambar.


"Ayo kembali Devian"ujar Melody dan segera meninggakan tempat itu tanpa membawa kunyit pisau pot dan skop dari sana.


Devian yang mendengar itu sama sekali tak tau kenapa dia harus pergi, apa itu karena urusan mereka telah selesai?, tapi urusan seperti apa yang malah seperti bermain masak-masakan ini?!.


Kembali ke desa Melody kemudian segera saja menemui kepala desa di sana dan mulai menjelaskan masalah yang sedang di hadapi oleh desa tersebut.


"Jadi maksud Yang Mulia anda menemukan masalahnya dan tau juga bagaimana memperbaiki masalah tersebut?"tanya kepala desa tersebut dengan rasa penasaran yang cukup tinggi.


Melody hanya mengangguk


"Ya aku tau bagaimana agar semua warga di desa ini bisa sejahtera, masalah dari desa ini adalah tanah nya yang sama sekali tak bisa di tanami, dan penen dari desa ini selalu saja gagal, dan akhirnya saya menemukan masalahnya itu karena PH lahan di desa ini yang cukup rendah, dan lebih parahnya lagi ternyata tanah di desa ini adalag tanah gabut"


"Aku tau bagaimana cara memperbaikinya tapi aku harus mengecek satu hal lagi tentang tanah tersebut dan setelah itu aku baru bisa memutuskan bagaimana caranya memperbaiki desa ini jadi aku mohon kerja samanya"jelas Melody.


Kepala desa yang mendengar kabar bahagia ini tentu saja merasa senang, sudah lama sekali desa mereka ini terpuruk di dalam kemiskinan.


"Tentu saja Yang Mulia kami akan menunggu keputusan dari Yang Mulia"ujar sang kepala desa senang dengan senyum nya.


Dia sangat bahagia saat mengetahui bahwa Duchess mempunyai cara agar desa nya tak lagi di landa kemiskinan dia bahkan sungguh tak sabar menunggu jawaban dari Melody.


"Baiklah kalau begitu aku akan pamit keluar sebentar"ujar Melody dan segera saja melakukan tugasnya.


Pengamatan ke dua ini di lakukan untuk mengetahui jenis tanah gabut seperti apa yang ada di sana?.

__ADS_1


__ADS_2