Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 157


__ADS_3

Kepala desa yang mendengar hal tersebut nampak senang beliau bahkan tersenyum dengan sangat lebar tak henti-hentinya beliau beserta keluarganya memberi ucapan terima kasih kepada Melody.


"Terima kasih Yang Mulia anda sangat baik sekali"ujar kepala desa sambil terus membungkukkan badan nya.


Melody yang menerima permintaan maaf yang begitu berlebihan semacam ini sangat terbebani namun tetap saja sebagian dari telingan nya kini memerah, dia masih tak menyangka bahwa suatu saat hidup nya yang hampir 19 tahun akan begitu berguna bagi masyarakat sekitar.


"Tidak itu semua sudah kewajiban ku, kalau begit6 aku pamit semuanya"ujar Melody dengan senyum dan segera pergi dari sana.


Yang tentu saja kepergian nya itu di antar oleh kepala desa serta warga sekitar di gerbang desa.


Melody yang telah selesai melakukan kunjungan di sana akhirnya masuk ke dalam kereta kuda setelah beberapa saat melambaikan tangan kepada semua penduduk desa.


Masuk ke dalam kereta Melody sedikit mengintip di sela-sela jendela, matanya kini menatap seorang pemuda yang sekiranya berumur 23 tahun pemuda itu memiliki rambut coklat dan juga mata coklat, kulit yang eksotis berwarna coklat dan tubuh yang keker berotot.


Melody duga bahwa hal tersebut pasti terjadi karwna bekerja dengan keras dan selalu di bawah sinar mata hari, kalau tidak salah pemuda itu adalah seorang anak angkat dari kepala desa.


Entah apa yang di pikirankan nya namun tak lama sebuah suara dari Devian membawanya kembali ke pada kenyataan.


"Yang Mulia setelah ini kita mau ke mana?, aku saran kan lebih baik kita pulang saja, waktu akan sore sebentar lagi sudah terlambat bagi kita untuk melakukan kunjungan hari ini, lebih baik anda pupang dan kerjakan beberapa berkas di kantor dan juga anda belum makan akan lebih baik anda makan dan beristirahat"ujar Devian panjang lebar.


Jujut saja Devian menurutnya sangat perhatian bahkan sampai rela untuk mengejarkan sampai di desa ini hanya saja Melody tak memiliki perasaan lebih ke padanya selain perasaan suka terhadap teman.


"Kamu benar, ayo pulang saja aku juga sangat lelah lebih aku aku tidur dan mengerjakan beberapa pekerjaan di kantor"putus Melody.

__ADS_1


Tak lama suara jentikan jari terdengar, dan cahaya putih segera saja menyelimuti rombongan tersebut, dalam sekejap mata kini mereka telah sampai di depan gerbang ibu kota Duchy Salvier.


Melody memang sengaja berteloportasi ke sini lantaran dia ingin melihat perkembangan yang sudah terjadi si daerah nya.


Di gerbang masuk di kini tertarik dengan sebuah antrian yang terjadi di gerbang kota itu tak panjang hanya saja lumayan panjang.


"Devian apa yang para orang-orang itu lakukan?"tanya Melody membuka jendela dan menjulurkan kepalanya ke luar di mana Devian berada sambil menunjuk kearah antrian yang dia maksud.


Devian yang melihat tingkah Duchess nya yabg seperti anak kecil dan sangat tak bermartabat menghela nafas, sebelum tangan nya mendorong kepala Melody untuk kembali masuk ke sana.


"Ah!"teriak Melody tak terima dengan wajah kesal melotot kearah Devian yang kini santai menjawab pertanyaan dari Melody.


"Itu, mereka sedang mendaftar menjadi penduduk di Duchy Salvier Duchess, itu sudah terjadi sejak beberapa hari yang lalu"


"Jadi pada saat itu saya memutuskan untuk memperkerjakan mereka dengan gaji yang lumayan tinggi dari pada daerah lain, lagi pula hal yang kini kita punya hanya lah uang dan uang serta uang, sama sekali tak memiliki persedian makanan"ujar Devian.


Tapi entah kenapa Melody merasa tersindir akan beberapa hal, nyatanya hal itu tak salah akhir-akhir ini Duchy hanya kaya akan uang, perhiasan, serta permata dan beberapa bahan baku yang bisa di ekspor dan lagi-lagi menjadi uang, jadi pernyataan bahwa Duchy hanya punya uang tak salah sama sekali.


"Huh!, lihat saja nanti dalam beberapa minggu aku akan punya bahan makanan sendiri aku akan punya pertanian, dan juga Duchy akan kembali hijau tak gersang seperti ini"ujar Melody dengan tekat yang kuat.


"Ya Yang Mulia mungkin dalam beberapa tahun, ah tidak lebih tepatnya beberapa bulan Duchy ini akan jadi yang termakmur di kerajaan"ucap Devian.


"Ah ya Yang Mulia bukan kah besok seminggu lagi anda harus ke Kekaisaran?"tanya Devian.

__ADS_1


"Hm ya amu benar, aku harus hadir seminggu lagi untuk melihat Janda Permaisuri 1 di penggal di alun-alun kota, siapa yang akan menyangka bahwa hukuman mati itu akan di undur karena Kekaisaran yang sibuk untuk menghapus semua kekuatan yang ada di belakang Janda Permaisuri 1"ucap Melody.


"Yang Mulia bagaimana jika kita berangkat 5 hari lagi saja, biar anda bersama dengan saya berangkatnya sekalian aku juga akan pulang ke Duchy Milian, untuk menemui calon tunangan ku"tawar Devian.


"Ide bagus aku juga penasaran gadis seperti apa yang mau bertunangan dengan mu"ujar Melody.


Devian hanya tersenyum.


Kereta mereka akhirnya masuk ke dalam kota dan Melody di buat terperangah dengan hal-hal yang dia lihat pasalnya semua hal di sana sudah berubah menjadi sangat bagus dia saja sampai tak bisa mengenali lingkungan sekitar.


"Apa-apaan ini!, padahal aku ingat kemarin belum seperti ini?!"ucapnya dengan terkejut.


"Tentu saja Yang Mulia, itu semua karena anda menginginkan hal jadi dalam waktu singkat, dengan harta yang melimpah itu akhirnya aku dan Sir Delice berfikir untuk menyewa lebih banyak orang, dan juga kami kekurangan pengawas sebenarnya bahkan para Kesatria tak bisa beristirahat tapi lagi-lagi karena harta anda Sir Gio mengusulkan untuk membayar tertara bayaran, untuk mengawasi sekitar"jelas Devian ringan dan polosnya.


Sudut bibir Melody berkedut saat mendengar hal yang di ulang-ulang itu dia sama sekali tak menyangka Devian begitu terpaku akan hal tersebut.


Namun karena hal tersebut Melody makin yakin kalau misalnya Devian sengaja dan meledeknya.


Dengan perasaan kedal Melody segera saja menjitak kepala Devian keras.


Devian yang di jitak kini meringis sambil melihat Melody melotot kejam, Melody sendiri menatap balik dan Melotot kearah nya juga.


Devian hampir kehilangan kesabaran namun akhirnya dia bisa mengendalikan emosinya dan hanya bisa menghela nafas.

__ADS_1


"Baiklah Yang Mulia mari kita kembali ke Mension dan berhenti lah menjulurkan kepala mu ke luar"tegas Devian mendorong kepala Melody keras ke dalam kereta.


__ADS_2