Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 51


__ADS_3

Menggunakan teknik itu seketika waktu di sekitarnya seperti melambat, suara-suara yang terdengan sanhat lambar itu menyambut indra pendengarannya.


Melihat kearah para monster yang berlari kearahnya Melody segera membentuk sebuah tebasan horizontal, itu adalah tebasan yang penuh akan mana di dalam nya.


Gelombang mana kini tercipta dan seketika menghabisi ribuan monster yang menuju kearah mereka semua.


Sir Galon, dan juga Sir Galib kini membuka mata mereka dengan sangat lebar-lebar, antara terkejut dan juga kagum akan kekuatan yang baru saja di perlihatkan oleh Melody.


"Yang Mulia saya akan menghabisi yang di sana!"teriak Sur Galon sambil berkari kearah para monster dan menebas semua yabg datang kearahnya.


"Saya akan memandu para Prajurit Yang Mulia Duchess"ucap Sir Galib sebelum berlari kebelakang untuk memandu para Prajurit agar melakukan formasi.


Formasi pertahan dan penyerangan kini telah terbentuk, mereka semua maju sambil berlindung dan menyerang dengan koordinasi yang sangat luar biasa baik.


Melody sendiri kini langsung melesat bagai cahaya menuju para mknster dan menebas mereka semua, pedang dan darah seperti menari-nari di dalam medan perang, setiap tebasannya selalu menunggalkan jejak cahaya emas yang amat indah.


Tubuhnya yang berlumur darah sama sekali tak membuatnya terganggu hal itu justru membuatnya semakin gila membantai semua monster yang datang kearah nya.


Monster level 21~ 30 memang memiliki kecerdasan tapi apa gunanya kecerdasan di hadapan serangan yang amat brutal dan tanpa pandang bulu itu, bahkan saat pedangnya menghabisi ribuan monster saja dia sama sekali tak mengedipkan matanya sama sekali.


Bahkan saat wajahnya terkena darah dia sama sekali tak berkedip seakan-akan di bukan darah dan hanya air hujan yang turun membasahi wajahnya.


Tak lama bilah-bilah angin kini kembali tercipta di sekitar melody, menggerakkan semua bilah angin itu dengan tangnnya, semua bilah angin itu mengikuti perintahnya dan segera menebas semua monster yang datang.


Memgdalikan bilah angin dengan satu tangan tangan satunya lagi kini membentuk sebuah angin ****** beliung yang kemudian menggulung banyak sekali monster itu bukan angin biasa itu adalah angin dengan energi petir yang terkadung di dalamnya.


Mata Melody semakin bersinar setelah sebuah awan mendung kini tercipta di atas medan pertempuran, secara perlahan Melody terangkat keatas awan.


Kedua tangannya kini sudah tidak lagi mengendalikan angin atau pun bilah angin, itu hanya terangkat kearas seakan menunggu suatu hal.


Gederrr!!!


Gludulkk!!!


Wosss!!

__ADS_1


Wusss!!


Aingin kini tertiup dengan kencang, debu-debu kinj berterbangan memgitari Melody, suara petir kini bergerumur di atas langin memekikan semua telinga yang mendengarnya.


Jederrr!!


Satu petir kini menyambar tanah, yang kemudian di susul dengan ratusan, bahkan ribuanpetir yang juga menyambar mengelilingi Melody.


Jederr!!


Gludukkkk!!


Jederr!!


Jederrrrr!!!


Gludukkkkkkkk!!!


Wossssss!!!


Petir-petir itu seakan-akan bisa menyambar mereka kapan saja, itu sungguh menakutkan, dan lama jari Melody menujuk kearah para monster dan seperti tau apa maksud dari gerakan itu semua patir seperti berjalan sambil menyambar-yambar kearah para monster dan segera menghabisi sekuanya dengan sambaran petir yang begitu ganas, sekali terkena sambaran petir itu bahkan tubuh para monster langsung kosong atau bahkan menkadi debu dan hilang tertiup angin.


Sir Galon, dan Sir Galib kini berhenti dan merasa ngeri dengan kejadian yang tepat di depan mata mereka itu sungguh menakutkan.


Sedangkan para Prajurit hanya bisa bergidik ngeri sambil dalam hati berkata 'penguasa Duchy Utara yang sekarang lebih mengerikan dari pada yang dulu'.


Sedangkan pasukan barat, dan selatan yang datang hendak membantu saat menerima suar kini buat membafu dan tercengang di tempat malihat seberapa gilanya Melody mengamuk di medan perang.


"Ini_, sangat luar biasa"ucap Rexid dengan mata yang bergetar hebat, adik mereka sudah sangat kuat dan dewasa ternyata.


Dia bahkan sekarang bisa mengguncang dan memporaporandakan medan perang hingga sediakian rupa.


Setelah semua mosnter telah hancur di tangannya kini secara perlahan Melody mendarat di tanah, dia tak memiliki mana yang berkurang hanya saja dia lelah secara pikiran karena hal yang baru saja di lakukan sangat membutuhkan kosentrasi tinggi.


Jurus barusan adalah cara menggunakan energi sekitar dan menggunakannya sehingga energi dalam tubuh sama sekali tak akan terkuras.

__ADS_1


Namun baru bebarapa saat turun kebawah darah kini mengalir dari mulut Melody.


Merasakan sesuatu yang hangat mengalir di mulutnya membuat Melody mengelapnya, dan saat melihat bahwa itu darah Melody hanya dengan santainya mengelap itu dengan sapu tangan milik nya.


"Aku belum mahir ternyata"ucapnya dengan nada datar, dia tak menyangka bahwa dia bisa mutah datar hanya karena hal itu saja.


Tapi dia rasa itu sepadan dengan apa yang dia dapatkan.


Langit kini sudah kembali ke keadaan semua, dan Melody kemudian berbalik hanya untuk menemukan bahwa semua Prajuritnya sedang bersembunyi di balik tameng mereka sambil mengigil.


"Apa yang kalian lakukan?"ucap Melody mengangkat satu alisnya.


"Jawab Yang Mulia!, kami sedang berlindung dari petir!"jawab seorang Prajurit tanpa sadar dia masih memejamkan mata sangkin takutnya.


"Baung itu sudah selesai, dan lagi pula kenapa kalian takut aku tak mungkin melukai pasukan ku sendiri bukan?"ucap Melody merasa geli dengan apa yang di ucapkan oleh Prajurit tersebut.


Mendengar itu semua segera menurunkan tameng mereka, dan menatap Melody malu-malu.


"Maaf Yang Mulia, bukan maksud saya begitu"ucap Prajurit tadi sambil menggaruk kepalanya merasa canggung.


Melody hanya tersenyum maklum.


"Tidak apa-apa, ayo kembali ketenda gelombang ketiga sudah selesai, aku ingin istirahat setidaknya 10 jam kedepan"ucap Melody sambil melihat kearah langit yang jauh di sana itu adalah burung mosnter yang terbang kembali ke medan perang.


Kembali ketenda nya Melody segera berbaring, lelah secara mental dan pikiran ternyata lebih buruk dari para lelah secafa fisik, sehingga dalam hitungan detik dia sudah terlelap dan tertidur.


Rexid yang masuk kedalam tenda Melody seketika terdiam saat melihat adiknya itu sedang tidur.


Menghela nafas, dia mendekat dan mengelus kepala adiknya sayang, dia tak menyangka bahwa diusirnya Melody dari Istana Kekaisaran membuatnya tubuh lebih cepat dari pada apa yang dia prediksi.


"Tidurlah kakak tak akan mengganggu mu"ucap Rexid dan segera keluar dari tenda adiknya.


Sampainya di luar dia langsung berhadapan dengan Sir Delice, Sir Galib, dan Sir Galon, yang menunggu dengan cemas di luar tenda.


"Yang Mulia Pangeran kedua bagaimana keadaan Yang Mulia Duchess?"tanya Delice khawatir, dia takut ada suatu hal yang terjadi karena penggunaan energi yang berlebihan barusan.

__ADS_1


"Dia tak apa-apa hanya butuh istirahat jangan ganggu dia untuk saat ini"ucap Rexid dan berjalan pergi.


__ADS_2