Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 61


__ADS_3

Dan sampailah kini mereka berdua di sini, dimana perburuan monster saat ini sedang berlangsung.


"Huh!, Duchess Salvier tak ada di sini?, rasanya sia-sia aku datang"ucap Sir Gio seenaknya.


Devian sendiri hanya melihat sekitar dengan cermat dengan wajah nya yang datar.


"Pasukan di sini masih hanyak ya padahal ku dengan ini tinggal pemburuan ke 4?"ucap Devian dia kagum karena sepertinya di pihak mereka belum ada korban jiwa jika itu benar seperti apa yang dia dengan dari para Prajurit barusan.


"Yah mereka memang hebat atau lebih tepatnya Duchess lah yang hebat, tak salah aku memilih pergi ke sini dari pada di Istana Kekaisaran yang isinya cuma kayak gitu terus gak ada yang berubah"ujar Sir Gio.


"Eh_?, Istana kan memang gitu-gitu aja buktinya aja warna juga gak pernah ganti kan tetap warna emas terus mata ku bahkan sampai bosan lihatnya"ucap Devian.


"Ho'oh, padahal Kekaisaran kaya tapi gak pernah renivasi Istana supaya ganti warna bertahun-tahun di sana dengan pemandangan yang sama serasa bangsa4t!"ucap Sir Gio dengan sangat jujur.


"Tapi Sir, mulutmu sangat kotor apa Duchess benat-benar menerimamu?"tanya Devian yang tak yakin jika Melody mau menerima orang seperti Sir Gio.


"Hey!, bocah!, mulutku ini bukan kotor tapi jujur kamu paham gak?!"marah Sir Gio dia sama sekali tak rela mulutnya di bilang kotor, atau dalam arti lain kurang ajar.


Setelah mengatakan itu Sir Gio pergi dari sana meninggalkan Devian sendiri rasanya tekanan darahnya bisa-bisa naik kalau debat sama si bocah Devian itu.


Devian yang di tinggal hanya bisa menggaruk lehernya yang tak gatal, perasaan apa yang dia katakan tak salah kok mulut Sir Gio menang kotor bin kurang ajar bin jujur bin nyebelin, serta bin-bin yang lainnya.


"Tapi itu kebenaran, bukan hanya aku yang bilang begitu tuh"ucap Devian kepada dirinya sendiri dan segera pergi untuk menemui Sir Delice dia harus mencari informasi kemana perginya Duchess Salvier,  karena dia mau laporan.


***

__ADS_1


Di dalam hutan yang gelap, dan hanya suara burung hantu yabg terdengar mengiringi malam yang sunyi, sebuah portal kini terbentuk dari portal tersebut kini serpihan-sepihan cahaya kecil-kecil keluar dari sana dan segera membentuk sosok manusia, itu adalah Melody yang saat ini telah sampai di dalam 'Dunia Rahasia'.


Menatap sekeliling, siapa pun pasti akan tau bahwa diri mereka kini ada di dalan hutan yang gelap.


Bahkan bintang dan bulan juga tak nampak, karena tertutup daun-daun yang begitu lebatnya.


Ini sangat gelap, dingin, serta menakutkan, apa lagi suara burung hantu yang terdengar kini membuat suasana makin mencekap, benar-benar mengerikan!.


"Ugh!, 'Dunia Rahasia' ini sangat menakutkan, rasanya aku ingun pulang saat ini juga dan masuk ke dalam selimut yang hangat di kamarku karena dingin yang menusuk tulang ini, rasanya aku akan membeku jika begini terus"komentar Melody sambil menggigil kedinginan, dia bahkan sampai lupa bahwa dia bisa sihir.


Suasana di sini sangat tenang seperti sama sekali tak akan ada bahaya yang mengintai, namun sesuatu yang tenang tak bisa menjamin bahwa termlat itu aman.


Contoh nya saja saat ini.


Sehhhhhhhsssss~


Suara desisan ular kini terdengar, hal itu membuat Melody menatap ke arah sumber suara beta terkejutnya Melody saat melihat ular yang sangat besar kini melintas tepat di depan nya.l


Buku kuduknya kini secara tak sadar berdiri dengan sendirinya, kalau di ingat-ingat dia sama sekali belum pernah ketemu hewan seperti ular, kerbau atau kambing di Dunia fantasi sana, lalu kenapa 'Dunia Rahasia' ini ada?.


Ah!, masa sih, dia lebih takut sama binatang yang model kayak gini dari pada monster yang ada di sana itu!, rasanya gak mungkin kan?, dan juga lagi pula hewan di depan nya ini jelas sekali tak memiliki mana, lalu apa yang membuatnya takut?.


Setelah di ingat-ingat seperti Melody sadar apa yang membuatnya tak takut akan monster, itu semua karena Melody sebenarnya masih menganggap bahwa Dunia yang sekarang jadi tempatnya di mana dia tinggal sebagai Putri Kekaisaran itu hanya sebuah novel atau hanya sekedar imajinasi sehingga dia merasa bahwa apa saja yang dia lakukan di sana sama sekali tak ada berarti apa-apa dalam arti lain dia akan selalu aman lah.


Semuanya dia selalu berfikir begitu mulai dari kasih sayang keluarga, atau bahkan saat membunuh walaupun dia merasakan sakit, jijik, bau darah, sentuhan dia tetap menganggap bahwa itu hanya i amajinasi atau mimpi, dan karena pemikirannya itu lah dia tak merasa trauma saat membunuh.

__ADS_1


Kalau secara normal manusia pasti akan trauma tapi dia tidak karena hal itu, akal sehatnya selalu berkata bahwa semua nya nyata tapi pikiran nya sama sekali berbeda itu seperti menegaskan bahwa semuanya hanya imajinasi atau mimpi yang di buat-buat saja.


Menyadari hal itu tanpa sadar dua tetes air mata jatuh dari matany, kini Melody melihat tangnnya di mana di sana banyak nyawa yang melayang.


"Aku, sama sekali tak menyadarinya, atau lebih tepatnya tak mau menyadarinya?, aku seperti sedang lari dari semua tanggung jawab yang ada"lirih Melody tapi itu sebentar saja sebelum dia mengelap kedua matanya dan kembali menatap ke depan.


"Huh!?, terserah mau kek gimana dah lagian jika aku menangis di sini memangnya semua bisa kembali?, waktu bisa di putar ulang?, tidak!, tentu saja tidak!, semua ini hanya takdir, atau lebih tepatnya akibat dari sebab yang aku perbuath!, terima saja lah jika aku merasa bersalah dan berat?, bukan kah aku hanya perlu tetap berusaha tersenyum dan menyimpan nya sebagai rahasia?"ujarnya menghibur dirinya.


Setelah tenabg akhirnya Melody melanjutkan perjalan nya, dari semua perjalanan dia sama sekali tak bertemu hal yang menyetangnnya, hanya sesekali ular, kelinci, kijang, atau hewan-hewan lain nya yang lewat, dia juga tak bertemu dengan binatang buas.


Dia cukup beruntung rupanya.


Kini dengan santai Melody duduk di sebuab dahan pohon mangga saat ini di lengannya banyak sekali buah apel, dia sedang menikmati buah apel tersebut.


"Hemm...!, ini enak buahnya lima kali lebih enak dari pada di dunia moderen, dan juga rasanya apel ini jaub lebih enak juga dari apel di Kekaisaran"komentarnya.


Saat dia sebenarnya bingung mau cari kemana manyra sihirnya, kalau di sekitar sini juga tak ada petunjuk, tempat ini sangat damai tidak seperti dalam bayangannya.


"Hah~, kalau begini caranya aku sama sekali tak bisa menemukan apa pun, setidaknya beri aku petunjuk!"terikanya keras.


Shuttt~


Sebuah panah kini melesat ke arahnya nembuat Melody mau tak mau langsung melompat dari atas sana.


Brukk!

__ADS_1


__ADS_2