
Namun itu sekarang tak penting dia harus pergi menemui ke tiga nya dan bertanya bagaimana hasilnya, jika Duchess ada di pihak mereka maka mereka akan aman, namun jika Duchess ada di pihak Baron, membayangkan nya saja sudah membuatnya merasa ngeri.
"Yang Mulia bukan kah para Kesatria itu sangat gagah?"tanya Baron.
"Iya mereka sangat baik bahkan lebih baik dari pada para Kesatria di kediamam Duchess"jawab Melody.
Di lihat berapa kali pun dia tau bahwa Kesatria di sini memiliki level yang jauh berbeda dengan Kesatria yang ada di Mension nya, namun Baron ini!, padahal dia memiliki banyak Kesatria yang kompeten kenapa dia sama sekali tak mengirim mereka untuk membunuh para monster?.
"Hohohoho!!!, saya tau Yang Mulia pasti akan merasa kagum dengan mareka semua"ucap Baron yang lagi-lagi dengan nada bangga.
"Iya aku kagum dengan mereka, begitu pun dengan pemilik mereka, tak tau seberapa hebat pemilikknya hingga bisa mendidik mereka menjadi begitu hebat seperti ini"ucap Melody.
"Yang Mulia, saya sangat terharu terima kasih atas pujian nya Yang Mulia"ucap Baron nampak senang, Melody hanya bisa tersenyum.
Dari kejauhan dia bisa melihat Devian yang masih melatih gerakan pedangnya, dia hanya memakai celana hitam dan kemeja putih, jika di lihat-lihat otot nya lumayan bagus tercetak di kemeja putihnya yang basah akan keringat.
"Ah, Baron terima kasih sudah mengantar ku tapi sepertinya saya sudah menemukan Kesatria ku"ucap Melody.
"Saya sangat senang bisa membantu Yang Mulia, jika ada masalah tolong segera beri tau saya, maka saya pasti akan membantu yang mulia sebisa mungkin"ucap Baron yang juga nampak sangat senang sebelum undur diri.
Tanpa melihat Baron, Melody segera saja berjalan ke arah Devian, dan memegang pundaknya, hal itu membuat Devian terkejut hingga tanpa sengaja dia hampur saja memoyong leher Melody jika saja Melody tidak segata melompat ke belanag untuk menghindarinya.
"Wah!, barusan apa itu, Devian?, apa itu semacam pemberontakan?"tanya Melody dengan wajah yang terkejut, dia terkejut akan pedang Devian tapi juga terkejut dengan reflek nya sendiri.
"Yang Mulia?, maaf kan saya"ucap Devian dengan gugup dia cepat-cepat berlutut, dia bahkan kaget dengan hal yang baru saja dia lakukan.
"Yah, apa boleh buat, aku juga salah karena membuatmu terkejut, oh ya bisa kau ikut aku sebentar?"ucap Melody.
"Baik Yang Mulia"ucap Devian segera mengikuti Melody yang berjalan di depan nya.
__ADS_1
Sesampainya mereka di kamar Melody, segera saja Melody melepas sihirnya dan membuka pintu tanpa memperdulikan wajah terkejut yang akan sihir yang di gunakan oleh Melody karena setaunya sihir itu cukup sukit, dan lagi seorang SwordMaster bisa sihir ini sejarah baru, karena setahu Devian Melody adalah SwordMaster.
"Ada apa ayo masuk ada beberapa orang yang menunggu"ucap Melody.
Mendengar ucapan Melody Devian seketika sadar dan segera masuk seperti apa yang di suruh oleh Melody, dia juga tak lupa untuk menutup pintu, siapa yang akan menyangka bahwa kejadian tadi di lihat oleh gadis yang bertemu dengan Melody sedang bersama dengan Baron.
Gadis itu bersembunyi di dinding sebelah sambil menutup mulutnya, dia tak percaya akan apa yang baru saja dia lohat, dia seperri baru saja melihat sebuah rahasia besar, bahwa Duchess yang sekarang adalah seorang penyihir dan SwordMaster itu sejarah langka, dia hanya tau bahwa Duchess seorang SwordMaster dari informasi yang di dapatkan nya, walaupun beberapa indormasi juga menyebutkan bahwa Duchess merupakan seorang Penyihir dan bukan SwordMaster tapi mereka menganggap bahwa itu tak mungkin karena berdasarkan performa Duchess pada saat itu bisa di pastikan bahwa publik salah, dan Duchess adalah SwordMaster.
"Siapa mereka Yang Mulia?"tanya Devian sambil menatap ke tiga pemuda di depan nya.
"Mereka yang tadi malam"ucap Melodt acuh sambil duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya santai.
Sedangkan ketiga pemuda itu kini sudah berlutut di lantai tepatnya di depan Melody.
"Apa!, jadi mereka yang mengganggu anda Yang Mulia!"ucap Devian penuh akan amarah, jelas sekali kalau wajahnya sedang marah besar, tanganya bahkan kini sudah mencengkram ganggang pedangnya dengan erat, seperti siap untuk menarik pedang kapan saja.
Melody yang melihat itu hanya acuh, bahkan mungkin dia akan senang mendapat tontonan yang cukup menarik.
"Akan saya jalankan perintah anda Yang Mulia"ucap Devian dan segera menarik ke tiga orang itu keluar dari kamar melody.
Yah, Melody rasa tak perlu baginya untuk ikut campur setelah ini dia hanya tinggal menunggu laporan saja bukan, lagi pula dia yakin Devian bisa menyelesaikan semuanya dengan aman tanpa di sadari oleh penghuni Kediaman ini, entah bagaimana caranya.
"Aku akan pulang saja"ucap Melody pada akhinya setelah beberapa saat Devian dan mereka pergi serta ruangan menjadi begitu sepi.
__________
"Yang Mulia saya berharap bisa melayani anda lagi dengan baik"ucap Baron sebelum melepas Melody pergi kembali ke Mension.
Mereka berdua terlihat berjabat tangan dengan senyum di bibir masing-masing namun jika orang itu memilih wajah yang tajam mereka bisa melihat bahwa ada sedikit makna tersembunyi di balik tatapan yang di berikan Baron ke pada Melody.
__ADS_1
"Senang juga bisa di layanimu"ucap Melody.
Sebelum mereka saling melepas tangan dan Melody naik ke dalam kereta kuda di bantu oleh Devian yang sudah kembali dari tugas nya.
Saat di dalam kereta wajah berseri milik melody segera menjadi datar, dia bersandar dengan malas pada jendela kereta dengan tangannya, dan melirik Devian.
"Apa hasilnya?"ucap Melody.
"Anda bisa membacanya Yang Mulia"ucap Devian sambil menyerahlan beberapa berkas.
Melody mengambil berkas itu dan membacajya namun semakin lama doa membacanya semakin keras ekpresinya, hingga akhirnya dia membantung berkas itu ke dinding kerwta kuda.
Pak!
"Cih, sungguh bajingan Baron itu aku sungguh ingin cepat-cepat menghukumnya"ucap Melody penuh akan marah.
"Mohon tenangkan diri anda Yang Mulia"ucap Devian menengkan Melody yang terbakar api amarah.
"Apa ada laporan dari Mension?"tanya Melody.
"Kemarin Delice melaporkan bahwa bebarapa bantuan uang serta tenaga kerja dari Duchy Milian telah datang, dan mereka sudah mengurus bebarapa hal yang di perintahkan Yang Mulia sebelum pergi ke rumah Baron"ucap Devian.
"Oh, kau yang meminta bantuan?"tanya Melody, yang tentu saja dia sudah tau apa jawabannya, pasalnya dia yakin bukan Delice yang mengirim surat, dan tak mungkin Duke Carvalo akan memberi bantuan tanpa ada nya permintaan bantuan, karena dia selalu seperti itu.
"Iya"jawab Devian.
"Ada laporan lain?"tanya Melody lagi.
"Semua bukti telah terkumpul namun seperti nya Baron bukan dalam utama dari semua nya, dan juga ada bebarapa masalah yang tak bisa di tangani oleh para pejabat yang di kirim Duke Carvalo sehingga butuh keputusan anda Yang Mulia"ucap Devian menjelaskan.
__ADS_1
"Baik, kita bicarakan lagi nanti saat di rumah"ucap Melody sebelum dirinya menutup mata.