
"Apa yang kau lakukan, ayo cepat"ucap Delice yang melihat Davian masih saja membeku di tempat.
________________
Akhirnya Delice pergi untuk mengintruksi kan kepada semua Pangawal bahwa mereka akan memulai perjalan.
Sedangkan Devian hanya bisa cemberut pasalnya itu pedang kesayangan nya, tapi apa boleh buat baiklah pakai saja pedang yang satu nya lagi.
Setelah itu dia juga ikut keluar dari penginapan mengejar Melody yang kini sudah berdiri di samping kereta kuda.
Di sana ada sekitar 5 kereta kuda 4 kereta kuda dengan bagian dalam yang besar untuk menaruh barang-barang Melody, dan satu kereta nya lagi untuk Diana yang memang memiliki fisik yang lemah karena dia adalah seorang Penyihir.
Kalau di lihat-lihat semua kereta ini hanya penuh dengan barang-barang nya yang di bawa oleh Diana dengan tambahan 50 Pengawal, sedangkan semua Pangawal, Delice, Devian, bahkan Diana mereka hanya membawa satu tas kecil dan itu pun milik mereka, mereka ikat dengan kuda.
"Kenapa dia membawa banyak, seharusnya tak usah bawa gaun cukup uang saja"ucap Melody lelah, yah karena dia yakin saat sampai di utara yang akan berguna hanya uang.
Wilayah Utara adalah wilayah dengan sejuta masalah, mulai dari gelombang moster yang datang secara tiba-tiba dan merusak rumah penduduk serta fasilitas masyarakat.
Ada juga yang nama nya penggelapan uang oleh pemerintah setempat, selain itu kemiskian juga meraja lela di sana, tanah yang tak subur tak bisa di tanami apa pun serta moster daerah itu cukup sulit di tangani.
"Sepertinya aku harus segera sampai Utara sebelum di sana bertambah parah"ucap Melody pasrah.
"Bahkan jika Yang Mulia datang cepat pun hal di sana akan sama saja, tidak akan berubah"ucap seseorang yang ternyata adalah Devian nada manja serta wajah ceria kekanak-kanakan nya kini sudah hilang di gantikan wajah yang seharusnya memang di miliki seorang kesatria.
"Tapi setidaknya jika aku datang lebih cepat kita bisa memperbaikinya lebih cepat pula"ucap Melody sambil menggembungkan pipi nya itu sangat imut.
"Baiklah karena anda adalah atasannya maka saya menyerah"ucap Devian dengan wajah datar, sebetulnya dia sedang malas berdebat entah kenapa mungkin karena dari tadi dia full baterei?
Melody sendiri yang mendengar jawaban itu menoleh ke arah Devian dan melotot ke arah nya, Devian yang di pelototi tak berani melirik ke arah Melody lantaran dia merasa hawa yang tak mengenakan.
Memegang tengkuknya Devian diam-diam berjalan mundur secara perlahan sambil dengan canggung serta takut dia berbicara.
"Ha ha ha ha, di sini ternyata banyak angin ya"ucap Devian dan segera berlari menjauhi Melody, Devian sendiri kini bersembunyi di belakang tubuh Delice.
"Apa yang kau lakukan?"tanya Delice dengan dingin, pada Devian yang kini malah berjalan di belakang nya.
"Eh_?, tak apa-apa aku hanya suka di sini"ucap Devian sambil berpura-pura bersiul menyoraki burung merpati yang terbang di atas langit sana.
__ADS_1
Delice yang melihat itu menatap tajam ke arah Devian, yang kini sedang berusaha untuk menjauh dari nya juga.
Ternyata tuan dan Kesatria keduanya sama saja!.
Diana yang melihat kejadian tersebut dari awal sampai akhir hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala nya maklum.
Berbeda dengan Putri Melody yang di besarkan dengan banyak kemewahan serta kasih sayang dari ayah, Janda Permaisuri ke-2 serta kakak-kakak nya itu.
Devian sejak berumur 6 tahun bahkan sudah berpisah dengan orang tua nya dan medan perang menjadi tempat bermain nya, jadi tak heran jika di umur nya yang ke 17 tahun ini dia seperti anak-anak.
Memikirkan hal itu dia cukup kasian kepada Devian yang bahkan kehilangan masa bermain nya dan hanya pergi ke medan perang selama 11 tahun lebih.
Kalau tak salah baru bulan lalu Devian kembali ke Kekaisaran, sungguh miris kehidupan anak satu ini, dan lagi dia lagi-lagi akan pergi berperang dengan para monster.
□□□□□□
Di sebuah ruangan yang mewah dengan dekorasi emas serta berlihat yang indah dan elegan.
Seorang wanita kini berdiri di tengah-tengah rungan itu dengan daerah sekitar nya yang berantakan lantaran banyak barang mahal seperti vas dan lain nya yang dia buang dan pecah di lantai.
Prang!
Prang!
Teriakan itu membuat para Pelayan yang berbaris di pinggir kini menudukkan kepala dan bergetar hebat mereka sangat takut dengan tuan mereka saat ini.
"Arghhh!!!, cewek si4lan!, mati saja!"ucap suara itu lagi sambil melempar kembali barang-barang di atas meja riasnya.
Prang!
Prang!
Prang!
"Yang Mulia tenanglah!"seru seorang Pelayan yang seperti nya adalah seorang Kepala Pelayan.
"Diam!, kamu bilang diam!, Melody jal4ng itu diam berani nya menentangku, dan membuat putri ku mengantikan nya!!"teriak Janda Permaisuri ke-1 sambil berteriak ke arah Kepala Pelayan di sana.
__ADS_1
"Aku sangat membencinya!, dia dan ibu nya sama saja sama-sama jal4ng!"
"Akan ku bunuh dia!, akan ku bunuh!!"
Prang!
Crengg!!
Kini kamar tersebut berantakan dengan banyak nya kaca yang pecah di lantai nya.
"Huft, huft, huh!"
Janda Permaisuri ke-1 yang kelelahan setelah mengeluarkan amarah kini duduk di kursi sambil menghela nafas lelah, dia memegang kepalanya yang berdenyut sakit.
Melihat Janda Permaisuri ke-1 kelelahan Kepala Pelayan segera menghampiri nya.
"Yang Mulia minum dulu anda pasti lelah"ucap Kepala Pelayan sambil menyerahkan air putih kepada Janda Permaisuri ke-1.
Janda Permaisuri ke-1 yang kelelahan hanya meliriknya dan dengan acuh meminum air tersebut hingga tandas.
"Flo"panggil Janda Permaisuri ke-1 sambil melirik Kepala Pelayan.
Kepala Pelayan yang di panggil nama nya menatap ke arah Janda Permaisuri ke-1.
"Ya Yang Mulia"ucap Flo atau Kepala Pelayan dengan sopan.
"Apa ada kabar?"tanya Janda Permaisuri ke-1.
Kepala Pelayan Flo yang mendengar itu dengan pelan mengelengkan kapala nya.
"Belum, belum Yang Mulia, mereka sama sekali belum menghubungi kita, mungkin sebentar lagi akan ada kabar"ucap Kepala Pelayan Flo.
Benar saja tak lama suara pintu di buka terdengar.
Krieeettt
"Yang Mulia Janda Permaisuri ke-1, ada surat dari organisasi Black Rose"ucap sir Alex.
__ADS_1
"Oh, itu sangat cepat dari yang aku bayang kan, bawa ke sini"ucap Janda Permaisuri ke-1.
Sir Alex yang mendengar itu segera maju dan berlutut di depan Janda Permaisuri ke-1 dangan kedua tangan yang menyerahkan surat itu ke pada Janda Permaisuri ke-1.