Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 8 Kepergian yang tanpa pamit


__ADS_3

Sehingga tubuhnya terasa remuk, dia bahkan yakin bahwa saat bangun tubuhnya akan sakit sekali.


__________________


Sementara itu di tempat lain.


Di Istana Kekaisaran tepatnya ruang kerja Kaisar.


Kini Kaisar duduk sambil membaca laporan di depan nya.


"Maksud mu dia pergi?, bahkan sebelum di adakan perpisahan serta pengangkatan jabatan nya?"tanya Kaisar kepada Asisten nya yang kini menuduk hormat di depan nya.


"Iya yang Mulia, sekitar beberapa waktu yang lalu yang Mulia Melody sudah pergi"ucap Asisten Kaisar.


"Hah~, kenapa dia pergi dengan cepat,  bahkan aku sebagai kakak nya belum memeluk nya untuk terakhir kali nya begitu pun yang lain"ucap Kaisar sambil menyisir rambutnya ke belakang dengan tangannya, dia nampak frustasi.


"Yang Mulia tenang saja Devian putra Duke Milian pergi bersama Putri Melody saya yakin Yang Mulia Putri pasti akan baik-baik saja"ucap Asisten Kaisar.


Dia tau bahwa sebenarnya Kaisar sangat menyayangi adik bungsu nya itu namun jika dia menujukkan bahwa dia menyayangi adik nya itu, Kaisar takut jika adik nya akan menjadi sasaran Janda Permaisuri ke-1.


Kaisar sendiri kini merasa kecewa akan diri nya sendiri, dia ingin sekali menunjukkan kasih sayangnya di depan publik namun kekuatan nya bahkan belum bisa mengalahkan Janda Permaisuri ke-1.


Diam-diam Kaisar mengepalkan tangan nya sekaligus menggertakan giginya dengan erat.


"Wiliam, kirim Prajurit bayangan Kaisar untuk melindungi Melody di Utara"ucap Kaisar yang cukup membuat Asisiten nya terkejut.


"Baik Yang Mulia"ucap Asisiten Kaisar tanpa menurunkan posisi hormat nya.


"Lalu bagaimana dengan keadaan wilayan selatan apa Duke Aster bisa memperbaikinya?"tanya Kaisar.


"Duke Aster berkata bahwa dia bisa menangani nya Yang Mulia tapi beliau meminta bantuan makanan serta beberapa senjata untuk menangani moster"ucap Asisten nya.

__ADS_1


"Kirim kan itu, pastikan kalau bantuan sampai secepat nya kirim Kesatria terbaik untuk mengirim nya"ucap Kaisar.


"Baik yang Mulia"ucap Asisten Kaisar yang memberi hormat sebelum pergi ke luar ruangan Kaisar meninggalkan Kaisar yang menghela nafas lelah.


Dia lelah harus bertahan di atas kuris tatah yang bahkan kekuasaan nya bukan di tangannya, dia lelah untuk terus bersembunyi dalam bayang-bayang.


Kaisar kini mengepal kan tangannya dia bertekad untuk mengalahkan Janda Permaisuri ke-1 dan merebut kekuasaan secara sepenuh nya.


Sayup-sayup suara burung terdengar berkicauan, udara segar kini masuk ke dalam hidungnya, sedikit demi sedikit cahaya sinar mata hari memasuki mata nya.


Tak lama mata itu kini terbuka sepenuhnya, yang di lihatnya adalah sebuah atap sebuah rumah, duduk di sana dia tau bahwa sekarang dia sudah ada di atas tempat tidur, pakaian nya juga sudah di ganti dengan gaun baru berwarna biru muda.


Gaun itu sangat mewah, sehingga dia langsung sadar bahwa gaun itu adalah gaun yang tadi pagi dia lihat di dalam lemari, tapi bagaimana bisa itu di sini?.


Padahal dia ingat bahwa dia tak membawa apa-apa saat pergi, jangan kan baju uang pun dia tak bawa!.


Menatap sekitar Melody merasa bingung ada di mana dia?, dekorasi sederhana tempat itu memberitahukannya bahwa itu bukan di Istana Kekaisaran dan itu cukup membuatnya lega.


Di bawah sana sangat ramai, dia yakin bahwa itu pasar, karena banyak transaksi yang terjadi di sana.


Dari lantai 2 Melody bisa melihat sebuab menara dengan jam yang besar yang anggka nya di tulis dengan tulisan romawi.


"Jam 7 pagi"gumam nya lirih.


"Apa Yang Mulia sudah bangun?"sebuah suara kini sayup-sayup di dengar oleh Melody dari luar kamar nya dia tau suara siapa itu, itu adalah Delice.


"Barusan Dokter datang dan mengeceknya kata beliau Yang Mulia belum membuka mata nya, Dokter bilang Yang Mulia Duchess Utara akan membuka mata sebantar lagi"suara lain yang mingkin saja berjaga di sana, menyampai kan apa yang di katakan oleh Dokter.


"Baiklah, kalau begitu biarkan Pelayan pribadi Yang Mulia masuk ke dalam"perintah Delice yang dapat Melody dengar lagi.


Ah!, pantas saja dia punya baju Kekaisaran di tubuhnya rupa nya Diana menyusulnya, tak heran dia bisa selamat sampai ke sini sambil membawa banyak barang bagaimana pun juga, Diana seorang penyihir dengan kemampuan yang sangat hebat.

__ADS_1


Pintu kini terbuka memperlihatkan Melody yang sudah bangun melihat ke arah luar, sinar mata hari membuat rambut emas nya bersinar indah, mata nya yang berwarna biru, emas, dan perak juga kini bersinar lebih terang.


"Kalian sudah datang?"ucap Melody yang kini berbalik melihat ke arah Delice dan Diana, dengan senyum cerah yang indah seperti ribuan bunga bermekaran itu.


Delice, Diana, serta para Pengawal nampak terkejut dengan bangun nya Melody, namun mereka sangat senang sehingga rasa keterkejutan mereka segera berganti dengan sebuah senyuman yang tulus, kecuali Delice yang masih memasang wajah poker nya.


"Yang Mulia anda sudah bangun?"ucap Diana menatap Melody tak percaya.


"Ya"hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Melody yang kini tersenyum lebar, ke arah mereka berdua.


"Yang Mulia, hiks!"tangis Diana pecah dan langsung berlari ke arah Melody dan memeluk nya, setelah memberikan nampan berisi makanan kepada Delice.


Delice yang belum siap hanya bisa terkejut dan pasrah akan apa yang menimpanya.


Melody sendiri kini terkejut dangan tindakan itu, namun dengan canggung dia membalas pelukan Diana.


"Tidak apa-apa aku baik-baik saja"ucap Melody sambil mengusap punggung Diana.


Sementara itu Delice segera mundur dan keluar dari ruangan itu meninggalkan ruangan itu dalam diam tak lupa dia juga menutup pintu.


Di luar kedua Pengawal kini menatap Delice dengan aneh, Delice yang melihat itu memasang wajah poker seperti biasanya sambil melirik mereka berdua.


"Ada apa?"tanya nya dengan datar dan pergi dari sana sambil membawa nampan berisi makanan.


Seperti nya Delice kedua Pengawal itu berdehem pelan, dan saling melirik dengan wajah yang seakan mengatakan bahwa barusan ada hal yang menarik.


Jarang sekali melihat seorang Kesatria ber cosplay menjadi pelayan, apa lagi itu adalah Kesatria Delice, Kesatria yang di kenal paling dingin.


Kini senyum misterius segera terbentuk di kedua nya sebelum dengan random mereka segera membalikkan wajah menatap lurus ke depan dangan wajah tanpa senyum.


"Yang Mulia bagaimana saya bisa tenang jika Yang Mulia sampai pingsan seperti itu, saya khawatir"ucap Diana sambil mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2