
Kaisar saat ini sedang duduk di taman dengan teh sebagai hidangan nya, dia baru saja mendapat kabar dari Duke Milian bahwa Pangeran ke-3 akan segera tiba di Istananya.
Sehingga dia dengan buru-buru membuat pesta minum teh kecil-kecilan untuk mengobrol bersama dengan adiknya itu.
Cuaca hari ini memang lumayan bagus di mana hari ini tak panas dan tak hujan juga, tak berangin atau pun bagimana, hari ini memang cocok untuk minum teh bersama-sama.
"Salam Yang Mulia Kaisar"ujar Pangeran ke-3 yang sudah datang sambil membungkuk hormat.
Kaisar yang melihat itu segara memberi k9de lewat mata untuk menyuruh semuanya pergi kecuali satu orang Pelayan kepercayaan nya.
Semua Pelayan serta Kesatria yang paham akan hal itu segara saja mundur, dan segera berbaris dengan jarak yang cukup jauh, jarak itu cukup bagi mereka untuk tak mendengarkan apa pun pembicaraan keduanya
"Silakan duduk"ujar Kaisar mempersilakan Pangeran ke-3 duduk bersamanya.
Pangeran ke-3 akhirnya pun ikut duduk dengan kakaknya itu.
Sang Pelayan kemudian mulai menuangkan secangkir teh untuk Pangeran ke-3.
Mereka berdua hanya diam tanpa berbicara hingga Pelayan itu selesai menungkan teh dan membungkuk sebelum pergi dari sana menuju tempat di mana teman-teman nya yang lain juga berdiri di sana.
Masih tidak ada yang berbicara juga hingga akhirnya Pangeran ke-3 yang tak sanggup lagi dengan suasana canggung kini mulai meminum teh nya dan berbicara terlebih dahulu.
"Jadi apa yang kakak butuhkan?"tanya Pangeran ke-3
Kaisar yang mendengar itu kini tersenyum.
"Apa maksudmu dik aku hanya ingin bertemu dengan mu, kenapa kamu begitu curiga terhadapku?"tanya Kaisar sambil meminum secangkir teh nya lagi.
"Kakak kira aku bod0h?, kakak selalu saja seperti ini, kakak tak akan pernah berniat bertemu dengan ku jika tak ada maksud tersembunyi apa pun"ujar Pangeran ke-3 tersenyum mengingat hal-hal yang terjadi dulu.
Kaisar hanya tersenyum dia tak menyangka bahwa adiknya itu akan tau apa maksud dari dirinya dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Karena adikku tersayang sudah tau bahwa aku menginginkan sesatu bisa kah kamu berjanji untuk mengabulkannya?"tanya Kaisar dengan senyum bisnisnya.
"Akan aku usahakan jika itu bisa aku mengabulkan nya"ujar Pangeran ke-3.
"Bisa kah kamu menjadi Kaisar?"tanya Kaisar dengan nada serius.
Hal tersebut ternyata langsung mendapat pelototan dari adiknya tersebut, jelas sekali kalau adiknya tak senang dengan permintaan dari kakaknya.
"Tak mau!"ujarnya sarkas dan segara meminum tehnya kasar.
Tak!
Cangkir teh bahkan di taruhannya dengan keras di atas meja
Kaisar yang mendengar itu sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi, bahkan kini senyumnya juga kaku, padahal dia ingin menggunakan momen ini untuk bertukar posisi, jika bisa dia ingin menyerahkan secapat mungkin posisi ini kepada orang lain dan dirinya bisa pengsiun dengan bertani di sebuah desa yang tenang dan terpencil di mana tidak ada yang akan mengenalinya sebagai Kaisar negeri ini.
"Sudah ku duga akan seperti ini"gumam Kaisar yang masih bisa di dengar Pangeran ke-3 dengan jelas.
"Arsen, bukan itu inti pembicaraan hari ini tapi itu hal lain jadi duduk lah dulu"ujar Kaisar menghela nafas, dia tak habis pikir kenapa semua saudaranya tak ada yang bisa di ajak bercanda sama sekali, jika begini kehidupannya begitu malang dan membosankan jadinya.
Pangeran ke-3 atau Pangeran Arsen Van BlueMoon akhirnya kembali duduk di tempat namun dengan wajah angkuhnya tak seperti pertama dia datang dengan cara sopan.
Kaisar yang melihat cara duduk serta tatapan dari adikya itu hanya biaa tersenyum, dia harus menahan hasrat untuk memukul wajah tampan adiknya itu.
"Jadi apa?, kakak tau bukan bahwa setalah ini aku harus pergi ke tempat ibu, dia sakit"ujar Arsen.
"Aku tau tapi hal yang akan aku bicarakan juga menyangkut ibu kita"ujar Kaisar.
"Hal apa itu?"tanya Arsen penasaran.
Kaisar kemudian memberikan dia sebuah dokumen.
__ADS_1
"Bacalah maka kamu akan paham akan apa yang aku maksud"ujar Kaisar kepada adiknya itu dengan senyum.
Arsen kemudian membaca dokumen itu dan terkejut dengan isinya.
"Ini_, tak mungkin kan kak?!"tanya nya dengan penuh keterkejutan yang luar biasa.
"Menurutmu?"bukan nya menjawab Kaisar malah bertanya kepada Arsen.
"Ini tak mungkin kan kak?!, jawab aku!"teriak Arsen sungguh beraninya dia berteriak di depan seorang Kaisar.
Namun tentu saja Kaisar masih saja santai dan sama sekali tak mempermasalahkan sikap Arsen yang sama sekali tak sopan.
"Aku juga berharap itu bohong tapi semua bukti sudah terkumpul Arsen"ujar Kaisar dia juga sama sekali tak percaya saat membacanya padahal jujur saja dia masih berharap bahwa 'dia' tak melakukan hal tersebut namun apa boleh buat bukti sudah di depan mata dan sudah terkumpul mau mengelak dan tak percaya pun susah.
Melihat kakaknya yang seperti itu akhirnya Arsen paham kakaknya sebenarnya juga berharap hal yang sama seperti nya.
"Jadi apa rencana kakak?"tanya Arsen.
"Aku hendak membuatnya dengan paksa turun dari tahtanya sebagai Janda Permaisuri 1 dan mencabut semua otoritasnya serta mengirimnya ke tempat terpencil"ujar Kaisar.
"Hukuman seperti itu apa memuaskan?"tanya Arsen dengan meminum tehnya sedikit.
"Entahlah, aku sangat tak tega untuk memberikan hukuman yang lebih berat atau pun yang lebih jauh lagi, aku hanya berharap semoga adik bungsu kita akan memahaminya"ujar Kaisar sambil menerawang jauh.
"Ku rasa hukuman mu masih terlalu lembek kak, ingat kamu adalah Kaisar jangan pernah campukan perasaan seorang Kakak, anak atau pun keluarga di dalam tahtamu, kamu harus jadi Kaisar yang kuat dan bijaksana agar semua rakyat tak kecewa terhadapmu"nasehat Arsen.
Kaisar hanya tersenyum memang pilihan yang baik untuk bertemu dengan adinya ini, dia adalah penasehat yang baik di Kekaisaran.
"Tapi jika aku menjadi seorang 'Kaisar' maka kamu tau bukan hukuman apa yang pantas untuk ibu kita itu?"tanya Kaisar melirik adinya.
Dia bisa melihat adiknyq mehela nafas dan bahkan berhenti sejenak dari kegiatannya.
__ADS_1
Mereka berdua sama-sama tau bahwa hukuman yang tepat untuk ibu mereka adalah hukuman mati, tapi sebagai seorang anak jujur saja mereka sama sekali tak tega karena bagimana pun juga ibu mereka itu lah yang telah mengandung, melahirkan bahkan membesarkan mereka semua.