Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 38


__ADS_3

Tapi siapa sangka bahwa Melody terlalu banyak menggunakan mana pada suara nya, sehingga membuat suara nya sangat kencang.


Suara nya yang sangat keras bahkan hingga perbatasan Duchy Utara bisa mendengarnya.


Hal tersebut ternyata membuat semua orang yang ada di Duchy Utara menutup telinga mereka dengan erat.


Apa lagi yang ada di ibu kota mereka menutup telinga mereka takut akan kerusakan gendang telinga, bahkan ada yang berjongkok kesakitan.


Yah, tapi ternyata cera tersebut sangat ampuh buktinya saja kini pertarungan antara kedua nya kini berhenti.


Saat detik-detik terakhir saat mereka berdua akan melepaskan serangan yang amat fatal.


Kini Sir Gio mengumpulkan semua mana nya ke arah pedang nya dia benar-benar akan melakukan serangan terakhir, itu adalah penentu antara kalah dan menang, Sir Delice yang melihat gerakan itu kini juga segera mengumpulkan mana dia juga akan melakukan serangan pamungkas.


"Hiyyyyaaaa!!"


"Hahhkkkkkkk!!!"


Seru keduanya saat mereka berlari berlawanan untuk saling menyerang, namun saat tinggal beberapa meter lagi mereka akan bertambarakan sebuah suara mengagetkan mereka berdua.


"Hentikan!!!!!"


Mata mereka melotot dan secara reflek menjatuhkan pedang mereka dan mana yang seharusnya di alirkan ke pedang kini di tarik kembali dan mereka gunakan untuk menutupi telinga mereka.


"Ughhhh!!, si4l, suara siapa ini?!!"ucap Sir Gio yang kini menahan sakit.


"Ughh!, Yang Mulia?"ucap Sir Delice.


Ya dia tau siapa itu, karena dia mengenali suara itu, itu adalah suara tuan nya atau bisa di sebut Melody.


Tak lama suara itu langsung mereda membuat Sir Gio dan Sir Delice merasa lega dan segera menghapus mana mereka.


Tidak hanya mereka tapi mungkin saja semua orang yang ada di Duchy Utara sangat senang akan hal itu.


"Itu barusan siapa?, apa kamu menenalnya?"tanya Sir Gio penasaran.


"Aku tau, tapi aku tak akan memberitahumu"ucap Sir Delice yang membuat Gio sangat kesal.

__ADS_1


Kini bahkan perempatan sudah ada di keningnya dan tangan nya sudah bersiap untuk memukul Delice di tempat jika saja dia tak mendengar kalimat selanjutnya dari Delice mungkin saat itu sudah ada ronde 2 dari pertarungan mereka berdua.


"Diam lah, kita dalam masalah"ucap Delice serius yang membuat Gio yang akan memukulnya pun berhenti.


"Masalah apa maksudmu?"tanya Gio penasaran amarnya belum mereda dia bahkan masih ingin memukulnya namun 'masalah' yang di katakan oleh Delice membuatnya penasaran.


Jarang sekali melihat Delice begitu waspada dan juga takut seperti ini, dia juga mungkin harus berhati-hati?, tapi siapa dia, dia adalah Sir Gio, Keatria paling berbakat di Kekaisaran urutan ke dua, sedangkan Delice dia ketiga, dan yang pertama itu Devian.


Tapi sebenarnya peringkatnya dengan Delice itu selalu bergantian terkadang dia peringkat 3 dan Delice peringkat 2 atau pula sebalik nya.


Peringkat satu jangan di tanya itu tak bisa di geser walaupun dia sudah berusaha sekuat tenaga.


Jadi mari biarkan Devian di atas dan pertahan kan posisi nomer 2 Kekaisaran, batin Sir Gio yang kini mulai menerima kekalahan.


Benar saja tak lama angin tertiup dengan kencang, menyapu semua dedaunan di halaman Mension Duchy Utara, selain itu aingin itu juga menyapu banyak debu, semua nya kini mengarah ke araj Sir Gio dan Delice.


Sir Gio kini menutup mata nya menggunakan lengan nya sedangkan Delice dia hanya menutup matanya harap-harap cemas, dia tau bahwa ini seperti akhir hidup nya.


Bugh!!


Bugh!!


Bug!!


Bug!!


"Ugh!"seru ke duanya saat mereka secara bersamaan memutahkan seteguk darah segar dari mulut mereka.


Sir Gio benar-benar tak pernah berharap bahwa akan ada serangan dari sihir yang mengenainya saat dia sedang berusaha melindungi mata nya dari debu.


Angin kembali berdesir.


Di atas sosok wanita dengan baju Pelayan kini terbang di atas angin menatap kedua nya marah, dia adalah Diana.


Sir Gio yang melihat Diana menatap nya seperti akan mencabiknya hingga berdarah-darah tanpa sadar kini mundur, dia sama sekali tak pernah berharap bahwa akan bertemu Monster!!.


"Benarinya kalian berdua membuat keributan di sini!!, apa kalian sudah siap mati?!"tanya Diana begitu menyeramkan.

__ADS_1


Delice dan Gio kini menelan saliva mereka dengan susah payah.


"Tunggu!, Diana sungguh aku tak sengaja!!"teriak Gio memberi penjelasan.


Sedangkan Delice kimi dia hanya diam menerika nasib yang akan segera tiba kearah nya.


"Menurutmu aku perduli?"ucap Diana lagi.


Mendengar hal itu Gio lagi-lagi menelan Savila nya susah, entah kenapa saat ini dia merasa bahwa tenggorokan dan mulutnya begitu kerung dia butuh minum!.


"Kamu Gio datang ke sini membuat keributan yang tak perlu sehingga hal itu mengganggu Yang Mulia Duchess yang sedang bekerja, dan mau Delice kenapa kamu begitu kekanakan?"ucap Diana mencari kesalahan keduanya nya.


Gio benar-benar tak habis pikir bahwa hal sepele seperti ini juga dia akan di hukum, sedangkan Delice hanya menundukkan kepala nya dia menyesal seharusnya dia tau bahwa saat ini Yang Mulia nya sedang sangat sibuk dan pusing memikirkan wilayah nya.


"Kalian berua harus di hukum"ucap Diana dan menggangkat satu jari nya ke atas langit.


Awan yang tadinya cerah kini menjadi mendung dengan banyak petir di dalan nya, tak lama awan itu membentuk pusaran yang berfokus kepada Gio dan Delice, kini semua petir menyatu menjadi satu membuat energi petir yang amat besar dan menakutkan satu gerakan saja maka petir itu akan segera jatuh menimpa Gio dan Delice.


Gio yang melihat itu hendak lagi, dia berfikir jika dia terkena itu, dia memang tak mati tapi luka nya juga tak seberapa tapi malu nya akan terkenang sepanjang masa.


Namun sebelum Gio pergi, Delice kini menatik belakang baju nya erat seakan menyuruhnya untuk tetap diam.


Gio yang di tarik kini memberontak minta di lepas, dia bukan orang bod0h yang akan diam saja saar akan di serang.


"Lepaskan aku bajing4n!, biarkan aku pergi!"teriak Gio yang kini berusaja lepas dan memberontak.


"Cih!, rasakan ini!"teriak Diana dan segera menjatuhkan jari nya ke arah keduanya.


Gio yang mendengar itu rerkejut dan semakin memberontak, sedangkan Delice hanya menutup mata nya.


Duarrrr!


Sringgg!!~


Detik-detik terakhir sebelum petir itu mengenai kedua nya sebuah penghalang transparan menghadang petir tersebut menyelamat kan kedua nya.


Gio yang tadi sudah menutup mata pasrah kini membuka mata nya begitu pula Delice.

__ADS_1


"Diana aku baik-baik saja"


Suara seseorang membuat mereka sadar dan menatap ke arah nya.


__ADS_2