
"Saya tau Yang Mulia, tapi untuk hari ini saja tolong jaga sikap anda, bagaimana pun juga anda adalah penguasa wilayah ini apa pun yang terjadi"ucap Devian sopan
_____________________
"Tentu saja aku tau, makannya sebagai penguasa wilayah ini aku akan mendisiplikan mereka semua, ayo masuk, aku sudah tak sabar ingin melihat drama apa yang akan terjadi"ucap Melody menyeringai lebar dia cukup bahagia saat ini dia yakin di dalam sana akan ada hal yang sangat menarik untuk di lihat.
Mata rubah nya kini melirik para bangsawan yang masih berada di halaman, dengan langkah tegas serta percaya diri Melody melangkah menuju pintu aula di ikuti oleh Devian di belakangnya.
Kini mereka berjalan lurus menuju aula dengan wajah datar para bangasawan yang melihat mereka segara mengenali nya sebagai penguasa Duchy Utara segara saja membungkuk memberi salam.
Melody hanya melewati mereka tanpa menghiraukan semua salam mereka berbeda dengan Melody yang dulu yang mungkin saja akan berhenti untuk setidaknya menerima salam mereka.
Di pintu aula penjaga yang bertugas segara menegakan punggungnya dan membuka pintu untuk Melody, sedangkan petugas yang ada di dalam langsung berteriak mengumumkan kedatangannya sesudah tau siapa yang datang.
"Yang Mulia Grand Duchess Utara Melody Calsion De Janeiro Relamond Salvier Memasuki Aula!!!!"teriak petugas itu meneriakkan nama baru Melody.
Melody yang mendengar itu cukup puas, nama itu dia kirim ke Istana Kekaisaran baru-baru ini, walaupun belum ada konfirmasi dari Kekaisaran tapi Melody tetap menggunakan nama itu karena tak baik jika seorang putri yang sudah lepas dari istana dan memiliki wilayah sendiri masih saja memakai nama keluarga Kekaisaran setidaknya nama buatannya lumayan baik, mungkin?.
Namun berbeda dengan Melody yang merasa bangga dengan nama isekai nya di sampaingnya Devian berusaha menahan tawa baru kali ini dia mendengar nama yang lebih dari tiga kata, tapi melihat hidung Melody yang makin panjang karena bangga Devian masih memiliki sedikit rasa kasian jadi dia berusaha menahan tawanya.
Menurut Devian itu hal yang maklum apa lagi Devian susah menyasikkan sendiri bagaimana putri Melody di besarkan dia dan dia itu seperti langit dan bumi begitu berbeda, jika Devian di besarkan dengan banyak aturan yang mengikatnya maka Melody di besarkan dengan sebuah kebebasan melakukan apa saja.
__ADS_1
Dengan bangga kini Melody melangkah ke dalam aula, semua pasang mata menatap ke arah nya ini seperti saat dia di Istana Kekaisaran namun kali ini berbeda dia di sini bukan sebagai seorang Putri yang akan menikah dan tak memiliki banyak otoritas dia saat ini adalah seorang penguasa yang bisa melakukan apa saja yang dia impikan.
Wajah datar kini terpasang kembali di wajah Melody dan Devian mereka tak boleh lengah atau itu akan menjadi cela bagi mereka untuk di serang.
Masuk ke dalam Aula kini Melody langsung di sambut oleg baron yang langsung berlari ke arah nya dengan tergopoh-gopoh, senyum sumringah kini terlihat jelas dari Baron yang berlari ke arah nya.
Dan dengan tak sepan nya baron langsung saja menjaba tangan Melody tanpa memandang statusnya sendiri.
"Yang Mulia senang bisa bertemu dengan anda, selamat datang di rumah saya"ucap Baron buru-buru dengan nada senang.
Devian yang melihat sikap tak sopan Baron mengerutkan keningnya dia bahkan siap untuk mengambil pedang jika Melody menyuruhnya untuk memotong kepala baron sekarang juga.
Melody sendiri dia terkejut bukan main dalam hati dia berkata bahwa baron pasti sudah gila beraninya dia tak sopan sama sekali ke pada penguasa Duchy yang sekarang apa karena dia sungguh tak memiliki sebuah wibawa?.
Namum berbeda dengan apa yang di bayangkan oleh Devian Melody justru kini tersenyum sambil menyapa Baron dengan bahagia hal itu membuatanya tercengang, jelas sekali bahwa Melody tadi ingin menebas kepala baron!, tapi kenapa sekarang berubah pikiran?!!!.
"Tuan Baron senang bertemu dengan mu"ucap Melody dengan nada senang.
"Yang Mulia saya lebih senang akan ke datangan Yang Mulia"ucap Baron kembali.
"Tidak saya lebih senang melihat betapa LOYALITAS nya anda ke pada saya, kediaman ini juga sangat BAGUS ya, pestanya juga MERIAH dan MEWAH"ucap Melody sambil berusaha tersenyum tak lupa juga mengucapkan beberapa kata secara sengaja.
__ADS_1
Hal itu membuat Devian tercengang ternyata Yang Mulia nya ini bisa juga menyindir orang, namun Baron sepertinya tak menyadari sindiran tersebut itu terbukti dengan dirinya yang malah tertawa bangga.
"Hahahahaha Yang Mulia terima kadih atas pujian nya saya sangat senang, jika anda membutuhkan hal lain anda bisa bilang ke pada baron tua ini"ucap Baron bangga.
"Begitu ya, akan saya ingat Tuan Baron"ucap Melody tapi Devian bosa dengan jelas melihat bahwa dirinya saat ini sangat kesal dengan makhluk di depan nya itu.
"Yang Mulia ayo ikut saya, saya akan menujukan hal yang menarik ke pada anda, di sana juga sudah banyak yang menunggu anda"ujar sang Baron sambil memberikan jalan ke pada Melody agar jalan di depan nya.
"Benarkan sudah bangak yang menunggu?"tanya Melody dia berfikir bahwa ini adalah hal baik dengan ini dia bisa tau siapa saja faksi dari Baron sehingga memudahkan nya nanti untuk mencari tokoh utamanya
Baron akhirnya memandu Melody ke sebuah ruangan di dalam nya ternyata sudah ada tiga orang yang menunggu kedatangan mereka, Devian sendiri karena statusnya yang merupakan seorang Kesatria pendamping saat ini hanya berjaga di luar pintu menunggu urusan Melody selesai di sana.
Cukup lama Melody ada di dalam hingga pintu kembali di buka, dengan cepat Devian mengikuti Melody di belakangnya.
"Yang Mulia apa yang anda bicarakan di dalam sana?"tanya Devian.
"Bukan apa-apa hanya saja tadi kita hanya berbincang-bincang sebantar dan minum-minum, mereka semua mabuk jadi aku pergi ke luar sendiri saja"ucap Melody jelas sekali bahwa dia sangat kesal.
Saat di dalam tadi Melody sungguh tak merasa nyaman apa lagi dirinya sama sekali tak menyukai alkohol dia ingin sekali kabur dari tadi namun tentu saja itu tak bisa dia lakukan.
Hingga akhirnya dia tadi terpaksa meminum satu gelas alkohol, tadi saat semua nya mabuk di berusaha mencari infromasi dari mereka namun siapa sangka bahwa semua nya memiliki kebiasaan mabuk yang sangat aneh.
__ADS_1
Membayangkan nya saja membuat Melody ingin muntah dia harus pergi ke psikolog saat pulang.