
Melody yang baru saja sampai di Duchy kini terkejut dengan kondisi Duchy yang parah kota dimana semua pembangunan rumah penduduk serta benteng pertahanan sudah rusak dengan sangat parah.
Hal ini tentu saja membuat Melody frustasi, penghalang itu hanya ada di perbatasan Duchy Salvier tanpa melindungi Duchy Salvier itu berarti jika Duchy Salvier tak bisa menghadapi gelombang maka Duchy lah yang akan rugi besar.
Kini mayat ada di mana-mana, Melody melihat semuanya yang kacau dengan mata tak percaya serta kecewa, yang dia amat kecewakan adalah kenapa Kekaisaran tak mengirim bantuan?!.
Memikirkan hal tersebut membuat Melody mengepalkan tangannya kuat dia benci situasi ini dimana dia kehilangan rakyatnya padahal dia ingin jadi penguasa yang sangat baik.
"Kakak Pertama apa dia mengkhianatiku?"gumam Melody pada dirinya sendiri, dia sama sekali tak percaya hal tersebut
Dari kejauhan kini Melody bisa melihat paman Turbo dengan teman-temannya sedang membunuh para monster dengan cepat Melody melesat dan menebas semua monster yang ada.
Kecepatan itu membuat paman Turbo dan yang lainnya membeku tak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.
Membunuh semua monster di sekitar sana Melody segera menghampiri paman Turbo dan yang lainnya.
"Salam Yang Mulia Duchess"ucap kelimanya membungkuk kepada Melody yang mendekat.
"Paman Turbo apa yang sebenarnya terjadi?, kenapa jadi seperti ini?, dan di mana para Kesatria?"tanya Melody bingung dia bahkan mengabaikan salam yang di ucapkan oleh mereka.
"Itu Sir Delice entah kenapa tiba-tiba saja tumbang di tengah perang dan saat ini dia sedang tertidur dengan lelap, semua warga sudah di evakuasi jadi Yang Mulia tenang saja"ucap paman Turbo menjelaskan.
"Apa!!, Delice tertidur?, dia tak bangun lagi?"tanya Melody bingung.
"Benar Yang Mulia itu juga masih menjadi misteri dan menjadi pertanyaan banyak orang"jawab seseorang yang Melody belum kenal.
"Lalu yang lainnya?"tanya Melody.
"Sir Devian entah kenapa tiba-tiba di tarik ke ibu kota bersama dengan Sir Alex mereka menyuruh mereka berdua untuk berperang di tempat lain sedangkan yang lainnya mereka sedang berjuang tapi monster gelombang terakhir terlalu ganas kami tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mempertahankan setengah dari Duchy"jelas salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Apa kalian tak meminta bantuan kepada Kekaisaran"tanya Melody serius.
"Kami sudah meminta nya Yang Mulia tapi mereka sama sekali tak mengirim apa-apa, mereka bahkan tak membalas surat yang di kirim Yang Mulia Pangeran Rexid"ujar paman Turbo dengan emosi yang bercampur aduk dirinya bahkan mengepalkan tinjunya serta menggertakan giginya dengan kuat.
Melody bisa tau bahwa dia pasti memiliki banyak keluhan serta dendam saat ini sama seperti dirinya.
"Begitu ya, si4l! Padahal aku sudah berkorban dan pergi untuk menyelamatkan Kekaisaran tapi apa yang mereka lakukan!, bangs4t!"ujar Melody kesal sekali.
Namun kemarahannya tak lama karena dirinya segera pergi dari sana namun sebelum itu dia sempat mengucapkan beberapa kata kepada paman Turbo dan yang lainnya.
"Kalian kembalilah dan juga tolong selamatkan orang-orang yang kalian bisa, masalah monster biarkan aku yang urus kalian sebisa mungkin lindungi saja daerah aman"ujar Melody sebelum menghilang dari sana.
Kini Melody terus berjalan ke arah hutan monster dimana saat ini monster masih saja terus keluar dari dalamnya.
Dengan tetesan darah yang menetes dari tangannya yang terluka kini dalam sekejap berubah menjadi pola sihir dengan sinar merah darah yang terang dia saat ini sedang membuat formasi darah yang di buat dengan darahnya sendiri dimana formasi ini lebih kuat dari pada formasi penghalang yang sebelumnya.
Dan kemudian semua aura itu segera lenyap begitu juga semua yang terjadi di sana bahkan monster yang datang dari dalam saja pun sudah berhenti keluar kini hutan monster sudah di segel oleh Melody, namun efek dari segel tersebut adalah semua wilayah hutan monster menjadi berwarna merah.
"Pfttt..."namun siapa sangka bahwa membuat formasi yang kuat serta kuno itu membutuhkan banyak energi mental di mana Melody yang sekarang masih lemah dalam kekuatan Mental.
Mengelap darah di bibirnya Melody kemudian berbalik ke kota semuanya hancur dari kejauhan Melody bisa melihat hal tersebut dengan jelas.
Rasa sedih kini merayap dalam hatinya, mungkin setelah ini dia harus berusaha lebih keras lagi.
"Huftt~~~, aku tak tau apa yang harus aku lakukan, aku bahkan tak tau apa benar kakak pertama mengkhianatiku atau ini perbuatan orang lain yang ingin menjatuhkan ku"gumam Melody lelah akan semua hal yang terjadi padanya rasanya dia ingin menyerah namun dia tak bisa seperti itu lagi.
Membuang kehidupannya kali ini tak menjamin bahwa akan ada kehidupan selanjutnya yang lebih baik.
"Yah jalani saja lah"
__ADS_1
Menatap kearah dimana kota berada kini Melody menatap kota tersebut dengan menyeringai.
"Kali ini semuanya ada di bawah kendaliku"ujar Melody dan segera melesat dengan cepat kearah kota.
Dalam perjalanan dalam kecepatan yang cepat serta tangannya kini membawa pedang ganda dan terus saja menebas monster yang di laluinya dengan ganas.
Di sisi lain paman Turbo dan yang lainnya melakukan apa yang di printahkan oleh Melody yaitu menyelamatkan semua orang yang masih bisa selamat dan membawanya kedaerah aman.
Kini mereka sudah sampai di daerah aman dan masuk ke dalamnha dengan mudah jelas sekali bahwa di daerah aman pun semua tetap waspada di mana pasukan di buat di garis depan untuk siap beryemour dan pasukan pemanah benar-benar di persiapkan dengan amat baik.
"Teman-teman aku akan pergi menemui Yang Mulia Pangeran dulu kedatangan Yang Mulia Duchess perlu di ketahui oleh semua orang"ujar paman Turbo.
"Baiklah hati-hati di jalan"ujar seseorang teman sambil menepuk bahu paman Turbo.
Paman Turbo hanya mengangguk dan segera pergi dengan berlari kecil menuju tempat dimana Pangeran Rexid berada.
Rexid saat ini sedang berdikusi dengan Sir Galon, Sir Galib, serta Sir Gio di kagetkan dengan pintu yang du buka secara paksa.
Brakkk!!!
Di pintu kini muncul paman Turbo dengan nafas yang ngos-ngosa.
"Yang Mulia!"teriak paman Turbo.
Hal tersebut mengundang marah dari Sir Gio yang langsung menarik pedangnya.
"Lancang!"teriak Sir Gio sambil mengarahkan pedangnya kearah paman Turbo.
"Maaf Yang Mulia tapi ini ada hal penting yang harus saja beritahukan kepada anda sesegera mungkin"ucap paman Turbo sambil langsung bersujud meminta pengampunan.
__ADS_1