
"Si4l, aku harus membalasnya berkali-kali lipat, beraninya dia memasukkan obat dengan kasar"ucap Melody dengan wajah sedih.
_______________
Melody yang merasa jengkel, kemudian menyembunyikan wajah di balik bantal nya.
Terhitung sudah 10 hari sejak Melody sakit, dan hari ini lah pertama kalinya Melody keluar dari kamar nya.
Hal pertama yang di lakukan Melody saat sembuh adalah pergi ke ruang belajar Duchess dan membaca setiap laporan di atas meja.
Semakin Melody membaca laporan itu semakin kerutan di kening Melody semakin dalam.
Duchy yang kekurangan uang, serta tak cukup nya uang dari Kekaisaran, di tambah bahwa penghasilan Duchy yang mengalami penurunan itu sangat tak stabil.
Di tambah saat Melody berusaha mencocokkan akun pendapatan serta pengeluaran Melody memiliki wajah yang jelek, dia tau bahwa semua hal itu di manipulasi.
"Baron sialan itu!"ucap Melody sambil mengeratkan tangannya, sepertinya pekerjaan nya akan sangat banyak baiklah mari kita buat semua akun buku besar ini menjadi akun yang betul.
Walaupun dia tak ahli namun itu cukup untuk membuat akun pendapatan serta buku besar walau pun mungkin itu akan membutuhkan waktu satu hari penuh, dalam hal ini dia cukup bersyukur bahwa dulu dia mengambil jurusan IPS sehingga dia mempelajari tentang akun-akun.
Benar saja saat tengah malam Melody baru saja selesai mengerjakan semua akun di mejanya.
"Hah~"hela Melody sambil terkapar di meja kerjanya, dia sangat lelah.
"Yang Mulia?"sebuah suara lembut membuat Melody menatap ke arah sumbernya di sana Diana datang dengan senyum manisnya.
"Yang Mulia, pasti anda sangat lelah bukan, ayo sekarang istirahatlah hari sudah sangat larut"ujar Diana sambil mendekat ke arah Melody, menyelimuti Melody dengan selimut tebal.
"Iya ayo pergi"ucap Melody bangun dari duduknya sambil mengeratkan selimut yang menyelimuti tubuhnya itu.
__ADS_1
Mension yang kini sudah gelap hanya di terangi oleh lilin kecil di atas piring yang di bawa oleh Diana.
"Diana jam berapa sekarang?"tanya Melody.
"Ini jam 12 malam Yang Mulia, jika saya tau anda akan bekerja hingga larut malam seharusnya saya ada di samping Yang Mulia"ujar Diana.
Sampainya di tempat tidur Melody akhirnya berbaring, seperti biasanya Diana akan membantu memakaikan selimut sebelum mengelus kepala Melody dan pergi dari sana.
'~~'
'~~~~'
'~~~~'
Samar-samar Melody bisa mendnegar dua percakapan di depan kamarnya namun karena terlalu lelah Melody hanya bisa menutup matanya dan menuju alam mimpi.
Sementara itu di depan pintu kamar Melody, Diana yang baru saja keluar dari kamar Melody di sambut oleh Delice.
"Dia baik-baik saja, hanya saja sepertinya dia kelelahan"ucap Diana.
"Syukurlah jika Yang Mulia baik-baik saja"ucap Delice sambil bernafas lega.
"Delice, aku hiks, aku tak tega melihat Yang Mulia harus menanggung beban seperti ini hiks, huhuhu~"perlahan air mata jatuh dari kedua mata Diana, Diana yang memiliki sifat lembut serta penyayang layaknya seorang ibu yang tulus merasa hatinya sakit saat seorang anak yang dia besarkan dari kecil kini harus memanggung beban yang sangat besar.
"Diana~"Delice yang tak tau harus apa hanya bisa memeluk Diana menenangkannya.
"Bersabarlah, aku dan Devian sedang berusaha membantu Yang Mulia, satu minggu dari sekarang kami yakin bisa melakukannya"ucap Delice.
"Aku harap begitu, semoga saja kamu dan Devian bisa memperbaiki militer, para Kesatria, Pengawal, serta Prajurit yang tadinya kehilangan arah, seperti apa perkembangannya?"tanya Diana dalam pelukan Delice.
__ADS_1
"Itu cukup baik para Kesatria, Pangawal, serta Prajurit sadar akan hal yang mereka lakukan sampai sekarang adalah hal yang sangat buruk, mereka juga mulai menata militer, serta keamanan mereka lagi di bawah komado Devian, hanya saja mungkin karena sudah lama tak memakai alat-alat militer itu semua sudah berkarat"jawab Delice yang membuat Diana terkejut hingga dia melepaskan pelukan Delice.
"Apa?, lalu bagaimana tanpa peralatan militer, bagaimana para Kesatria, Pengawal serta Prajurit bisa beroperasi?"tanya Diana khawatir.
"Itu dia yang aku khawatirkan, Duchy Utara yang seperti berada di ambang kehancuran ini pasti tak memiliki banyak harta yang tersisa takutnya jika itu di ambil untuk keperluan militer mungkin untuk kedepannya tak ada yang bisa di makan"jelas Delice dia juga tak menyangka bahwa hal seperti ini akan terjadi.
"Lalu?, lalu bagiamana?"ucap Diana dengan air mata di pelupuk matanya sambil mencengkram tangan Delice dengan kencang.
"Kamu tenang saja, Devian putra Duke Milian itu bukan hanya sekedar pajangan, dia akan mengirim surat ke ayah nya untuk membantu di sini"ucap Delice.
"Syukurlah, aku harap semua akan baik-baik saja"ucap Diana.
Di tempat lain kediaman Baron kini para petinggi Duchy Utara berkumpul di sana, mengadakan rapat darurat tentang kedatangan Yang Mulia Duchess baru yang akan memimpin Utara.
Brak!
"Si4lan!, bagaimana mungkin saat seperti ini Duchess baru sudah datang?!!"ucap Baron Willton dengan marah.
Rupanya kedatangan Melody seperti duri di matanya begitu pun dengan para petinggi lain yang melihat Melody, Duchess baru Duchy Utara sebagai duri yang harus di singkirkan.
"Tenanglah Baron, jika kamu seperti ini juga tak ada gunanya"ucap seorang wanita yang menggunakan kipas dengan tenang, penampilannya yang mewah dan cantik membuktikan bahwa dia adalah salah satu bangsawan di sini.
"Bagaimana aku bisa tenang!??, apa lagi Kesatria yang di bawa oleh Duchess baru itu sangat menyebalkan!!, beraninya dia meremehkan aku yang seorang Baron!!!?, padahal hanya Kesatria saja!!!!"ucap Baron lagi dengan emosi yang Meluap-luap.
"Huh?, benar padahal sejak Duke yang dulu mati, serta para petinggi lainnya seperti Marquess yang pergi ke perbatasan dan tidak kembali, Count yang belum menikah di usia 32 tahun itu jatuh sakit, dan Viscount yang saat ini terpenjara di bawah tanah karena tuduhan palsu kita, rencana kita berjalan lancar, tapi karena kedatangan penguasa baru itu, semua rencana kita berantakan"ucap seseorang pria muda yang terlihat penuh ambisi.
"Kamu benar Johan, ini sangat merepotkan tapi mau bagaimana lagi, kita tak mungkun membunuh keluarga Kekaisaran karena mereka memiliki pelindung, yang harus kita lakukan adalah membuatnya di pihak kita, lagi pula Duchess yang sekarang hanya seorang anak kecil yang tak paham akan dunia, aku dengar dia adalah seorang Putri yang di besarkan di dalam sangkar emas itu sepenjang waktu, jadi bagaimana dia bisa paham kehidupan luar?"ucap seorang wanita yang kini tersenyum licik.
"Kamu benar, Miranda, jadi apa kita buat dia menjadi Duchess yang tak kompeten?"tanya Boroness.
__ADS_1
"Tawari dia keindahan Dunia, harta yang melimpah, serta pria tampan, siapa yang kan menolak?"ucap Miranda dengan senyumnya itu.