
Melody yang mendengar itu segera berdiri dan berjalan ke arah tempat cuci tangan, setalah mencuci tangannya ia kembali duduk di kursi nya.
______________
Dengan gembira serta senyum Melody makan, tentu saja dia masih tetap memakai etika, walaupun dia tak pernah belajar tapi entah kenapa tubuhnya itu sudah menyesuaikan diri, mungkin itu efek karena tubuhnya sudah terbiasa bersikap sangat anggun dan sopan?.
Sesudah makan tak lupa Melody mengelap mulutnya dengan sapu tangan yang selalu di bawanya ke mana pun dia pergi.
"Kenapa kamu jam segini masih memasak?"tanya Melody penasaran, dia cukup kepo akan hal itu.
"Hmm, sebenarnya saat malam aku selalu merasa lapar jadi biasanya aku akan keluar untuk memasak dan makan sendiri, lagi pula tadi aku sudah bilang ke pada pemilik penginapan soal itu, aku hanya membayar uang lebih serta membersihkan barang-barang yang kotor ulahku, hanya itu saja"ucap Devian sambil berdiri membereskan piring kosong dan mencucinya sendiri begitu pula piring Melody dia juga mencuci nya.
"Begitu ya"ucap Melody dia lumayan canggung harus berbicara dengan Devian setelah kejadian tadi siang.
Tak sengaja matanya mengakap sebuah luka yang ada di pipi Devian.
"Ah~, lukanya"secara reflek Melody bangun dari duduk nya dan berlari ke adah Devian, serta menyentuh luka di pipi Devian, membuat Devian yang sedang mencuci piring terkejut sehingga dia berbalik ke arah Melody, membuat posisi nya kini terjepit antara tempat cuci dengan Melody yang wajah nya semakin dekat dengan nya.
Hal itu membuat Devian reflek memundurkan wajah nya, lantaran sangat terkejut dengan reaksi Melody.
"Yang Mulia itu tidak apa-apa"ucap Devian masih dengan wajah terkejut.
Melody sendiri juga terkejut dengan reaksi tubuhnya, barusan itu dia yakin bukan atas kehendaknya dia melakukan gerakan tadi apa itu dari tubuh Melody yang asli?.
"Apa kau yakin?, ini terlihat lumayan sakit"ucap Melody lumayan khawatir karena bagaiamana pun juga sepertinya luka itu karena nya.
"Iya ini tak apa, lagi pula luka sepertu ini masih terbilang kecil"ucap Devian
"Benarkah?, jangan bilang kalau ada luka lainnya?"ucap Melody penuh kecurigaan sambil memgangkat satu alisnya sekaan mengatakan 'kau benar kan tidak berbohong'.
"Tak ada Yang Mulia!, aku baik-baik saja"ucap Devian sambil menyentuh lukanya.
__ADS_1
"Oh, benar kah?"ucap Melody, namun tentu saja dia belum begitu yakin, menurutnya perkataan Devian penuh akan kebohongan.
"Yang Mulia aku akan kembali dulu"ucap Devian sambil membereskan kembali cucian nya dan dengan cepat berlari ke keluar dapur, dia lupa belum mandi!!.
Melody hanya bisa melihatnya bahkan sebelum sempat untuk merespon apa-apa.
???!!!!
"Apa?, yang salah???"tanya Melody pada dirinya sendiri sambil memiringkan kepalanya dengan masih menatap ke mana Devian pergi barusan.
Kini matahari sudah bersinar dengan terang, Melody juga kini sudah bersiap di atas kuda, namun pikirannya kini entah kenapa memikirkan sikap Devian yang aneh dari tadi malam.
Devian seperti menghindarinya secara terus menerus dan itu membuat Melody bertanya-tanya dalan hati dan pikiran apa salah nya??.
"Hey, paman aku memiliki salah?"tanya Melody secara rondom ke pada Pengawal yang berdiri di sampingnya.
Pertanyaan tiba-tiba Melody membuat Pangawal itu tersendak.
"Itu entah kenapa aku merasa sudah berbuat dosa pada Devian"curhat Melody yang sekali lagi membuat Pengawal itu terkejut.
"Apa aku berbuat salah?"tanya Melody lagi.
"Ah!, mungkin itu karena kemarin, ku rasa Sir Devian tak marah kepada Yang Mulia mungkin dia hanya malu?"ucap Pangawal tersebut yang entah kenapa memiliki senyum cerah di sana, bahkan kini Melody bisa melihat filter bunga-bunga dan bintang bertebaran di sekitar nya.
"Kemarin?, memang ada apa kemarin?"tanya Melody dengan wajah bingung.
"Ya Tuan!, pantas saja Tuan Devian terlihat marah, ternyata Yang Mulia lupa akan hal yang telah di lakukan oleh Yang Mulia"ucap Pangawal itu terkejut akan sebuah fakta yang baru saja dia ketahui.
"Memang aku kenapa?"tanya Melody lagi.
"Kematin saat Yang Mulia pingsan, Tuan Devian satu kuda dengan Yang Mulia, namun dengan polosnya Yang Mulia terus bergerak di kuda milik Tuan Devian dan tanpa sadar Yang Mulia berbalik menghadap Tuan Devian dan melingkarkan kaki serta tangan di pinggang Tuan Devian layaknya bantal guling"ucap Pengawal itu yang membuat Melody melongo di buat nya.
__ADS_1
"Hah?"hanya kata itu lah yang kini keluar.
"Dan saat itu pun Yang Mulia tetap tak mau tenang dan bahkan terus bergetak di atas pangkuan Tuan Devian, sehingga membuat Tuan Devian nampak resah, Yang Mulia hamba takutnya jika itu bukan Tuan Devian anda sekarang itu sudah menjadi seorang wanita dan bukan lagi seorang gadis"ucap Pengawal itu lagi tanpa filter yang membuat Pangawal yang baru saja berdiri di sampingnya langsung menutup mulut teman nya itu sambil takut-takut menatap Melody.
Melody sendiri kini memeiliki tubuh yang kaku seperti batu dengan retakan di seluruh tubuhnya, dia tak menyangka membuat Devian dalam cobaan paling berat dalam hidup nya.
Setelah di pikir-pikir kemarin bukan kah mereka melewati banyak pedesaan untuk sampai ke mari?, bukan kah itu artinya banyak warga yang menonton?!!
Hancur sudah imejnya~
Rasanya kini Melody memiliki jiwa yang melayang dengan bebas di udara.
'Kenapa aku tak mati saja' batin Melody yang sungguh malu luar biasa.
"Apa waktu bisa di ulang?"tanya Melody tanpa jiwa.
"Apa?, Yang Mulia??"sebuah suara penuh tanda tanya kini terdengar dari samping ternyata itu adalah Delice.
"Tak apa, sekarang ada apa Delice?"tanya Melody yang sudah sadar namun tetap saja dia merasa bahwa jiwa nya belum kembali sepenuh nya.
"Itu Yang Mulia sepertinya kita akan tiba di Duchy Utara sebentar lagi, hanya tinggal berjalan ke sana selama satu jam dan kita akan sampai di gerbang Duchy Utara"lapor Delice.
"Baiklah ayo cepat pergi"ucap Melody yang tiba-tiba memancu kuda nya dengan cepat.
Dia sungguh tak memiliki muka untuk di sana lebih lama lagi, tanpa sadar kini wajah serta telingannya memerah.
Sedangkan semua rombongan yang melihat Melody sudah pergi dahulu segera memancu kuda nya dengan cepat pula untuk mengejar ketertinggalan mereka.
Kini akhirnya mereka sudah sampai di Duchy Utara, gerbang Duchy Utara cukup lusuh dan berkarat hal itu membuat Melody mengerutkan keningnya.
Apa lagi saat dia melihat bahwa gerbang Duchy Utara dibiarkan terbuka di tambah Penjaga yang tak ada, hal itu membuat sebuah pikiran serta dugaan buruk menyelinap masuk ke dalan pikiran nya.
__ADS_1
"Delice dimana Baron?"tanya Melody.