
Saat ini. Mereka sudah kembali berkumpul di meja makan. Syifa yang masih malas-malasan terpaksa ikut bergabung karna perutnya yang sudah keroncongan meski ia masih sangat mengantuk dan juga badannya masih terasa sakit
"Suntuk banget muka loh, Fa?" tegur, Risa yang melihat wajah, Syifa tampak malas
"Gue masih ngantuk. Badan gue juga pegal" ujar, Syifa yang masih saja melanjutkan makanannya
"Kenapa? Perasaan dari 4 jam yang lalu deh loh tidur?" tanya, Viona setelah meneguk minumannya
"Ngga nyampe sejam yah gue tidur", Syifa melirik, Luthfi dengan kesal, "Di kamar ada yang gangguin gue tidur. Jahil banget" sinisnya pada, Luthfi
"Jahil? Jahil gimana? Loh digangguin tidur maksudnya apa?" tanya, Vigo yang menatap serius, Syifa
Fahri dan Viona seketika tertawa padahal mereka sedang makan. Syifa sadar akan ucapannya. Ia pun mengunci rapat mulutnya untuk tidak lagi berbicara. Ia sudah mengerti arah pembicaraan, Vigo
"Nanti tidur lagi" seru, Luthfi dengan santai yang semakin membuat, Syifa kesal padanya
"Gue jadi mikir, gimana yah nanti kalau, Syifa hamil? Padahal kan masih kuliah" ucapan, Viona membuat, Syifa terbatuk
"Pelan-pelan, Fa. Viona cuma nanya" cetus, Fahri yang menahan tawanya
Luthfi membantu mengambilkan air untuk, Syifa. Ia bahkan tidak berpikir sampai kesitu. Luthfi melihat, Syifa yang juga menatap kearahnya
"Jangan ngomongin itu dulu, Vi. Kan mereka juga belum melakukannya. Kasian tau" tegur, Risa yang melihat kekhawatiran di mata, Luthfi dan Syifa
"Kan gue cuma nanya" sahut, Viona yang melihat, Luthfi dan Syifa secara bergantian, "Siapa tau kan, Syifa mau minum pil penunda kehamilan?"
"Ngga perlu. Mereka kan udah sah" sahut, Fahri
"100% gue yakin, Mommy ngga akan ngijinin, Syifa minum pil KB. Mommy ngga mau anak-anaknya minum pil KB pass baru udah nikah. Mommy takut dapat cucunya lama. Karna bisa sampai bertahun-tahun ngga hamil" jelas, Risa dengan heboh
"Bunda juga ngga akan ngijinin" cetus, Luthfi yang menoleh ke arah, Syifa
"Nah kan. Ya ngga apa-apa juga sih" tukas, Risa
"Udah-udah. Ayo makan" sergah, Vigo
Mereka makan dengan seperti biasanya. Mengobrol sambil makan dan diselipi candaan sudah menjadi rutinitas bagi mereka
"Main yuk?" ajak, Risa setelah mereka berkumpul di kamarnya dan Viona karna cuaca yang semakin dingin menjelang malam hingga mereka memutuskan untuk berkumpul di kamar, Risa dan Viona
"Main apa?" tanya, Viona yang bersemangat
"Giliran main jadi semangat", Vigo mengacak rambut, Viona lalu tersenyum padanya. Viona pun hanya membalasnya dengan tersenyum manis
"Please deh, ngga usah sok romantis disini" seru, Risa yang muak dengan keromantisan kedua pasangan itu
"Dasar jomblo" seru, Syifa dan Viona bersamaan hingga lalu tertawa bersama dan pula yang diikuti tawa ketiga pria tersebut
"Ngapain loh ngetawain gue? Loh juga jomblo yah. Ngga usah sok ngetawain gue" kesal, Risa kepada, Fahri yang ikut menertawakan dirinya
"Gue sih emang jomblo. Tapi seenggaknya gue ngga pernah bilang tidur berdua sama cewek padahal tempat tidurnya beda" sindir, Fahri lalu tertawa
"Fahri?!!!!!!" teriak, Risa. "Ngga usah loh nyindir gue. Dia aja yang ngga peka, malah mikirnya langsung macam-macam. Kesal gue" celoteh, Risa
"Tunggu. Maksudnya apa sih?" tanya, Syifa yang keheranan mewakili teman-temannya yang lain
Meskipun, Risa melarang keras, Fahri berbicara, namun desakan dari teman-temannya terpaksa membuat, Fahri menceritakan kejadian tadi hingga semuanya menjadi tertawa begitu keras dan semakin membuat, Risa mendongkol dibuatnya
"Ampun. Perut gue" seru, Viona yang memegang perutnya yang sakit karna tertawa
__ADS_1
"Astaga perut gue sakit banget" ucap, Syifa disela-sela tawanya yang bersandar pada pundak, Luthfi
"Gue ngga bisa bayangin gimana ekspresi, Dini pass dengar itu" tawa, Vigo tidak berhenti memikirkan kelucuan tersebut
"Gue sendiri ngga habis pikir" timpal, Luthfi yang tertawa dan menahan lengannya untuk menjangga, Syifa yang bersandar di pundaknya sambil tertawa
"Ngga usah loh bilang. Kuping gue rasanya mau meledak dengar dia teriak" kesal, Risa setelah mengingat kejadian tadi
"Loh sih. Ngapain coba ngomongnya gitu? Ya ialah dia pasti mikir yang engga-engga" cetus, Syifa yang berusaha untuk berhenti tertawa
"Lagian juga dia nelponnya tiba-tiba banget pass, Fahri lagi tidur" celoteh, Risa
"Gue sih udah bisa pastiin, Dini bakal ngehubungi, Fahri. Cuma gue ngga nyangka kalau jadinya bakal selucu ini" seru, Viona
"Kenapa?" tanya, Fahri pada akhirnya yang heran dengan ucapan, Viona
"Emang kalian belum cek IG yah?" tanya, Viona yang melihat teman-temannya satu persatu
"Cek IG dulu biar jelas" sahut, Vigo ketika melihat keempat temannya merasa bingung
Karna hanya ada ponsel, Risa dan Viona disana. Risa meraih ponselnya di atas nakas lalu mulai mengotak-atik ponselnya. Syifa, Luthfi dan Fahri yang juga tidak tau apa-apa berusaha mencari tau lewat ponsel milik, Risa
Mata, Syifa dan Risa hampir keluar ketika melihat foto mereka berada di sosmed, Viona. Apalagi foto berdua mereka yang terpampang nyata disana
Berbeda dengan, Luthfi dan Fahri yang juga terkejut namun kembali bersikap normal seperti biasanya. Tidak seperti kedua gadis itu yang masih tidak percaya
"Gila yah loh, Vi. Gimana kalau teman-teman gue lihat ini?" cetus, Risa yang masih sulit mengontrol otaknya untuk berpikir jernih
"Teman atau mantan loh?" ledek, Fahri. Namun, Risa hanya menatapnya sinis
"Apa karna itu yah, Reza nelpon gue?" ucap, Syifa yang seperti tidak sadar
"Reza nelpon loh?" tanya, Viona yang begitu heboh
"Reza cepat banget...." ucapan, Vigo terpotong setelah melihat, Luthfi sedang menatap dirinya dengan datar
"Viona ini pintar banget siasatnya" timpal, Fahri yang tidak habis pikir dengan temannya yang satu itu
"Apa karna itu juga, Marcelia nelpon gue terus?" cetus, Luthfi yang mengingat, Marcelia juga sedari tadi menghubungi dirinya
"Apa?" teriaknya yang lainnya termasuk, Syifa
"Bagus yah? Loh tadi marah-marahin gue cuma karna, Reza nelpon terus? Padahal, Celia juga ngehubungi loh" seru, Syifa yang menjadi kesal
"Siapa yang marah? Gue ngga marah" bantah, Luthfi
"Apaan ngga marah? Loh natap gue aja udah kek loh mau ngebunuh gue. Mana ngga ngebolehin gue tidur juga", Syifa semakin kesal saja dibuatnya
"Ia maaf-maaf. Tapi kan tidur juga akhirnya" ujar, Luthfi dengan lembut karna, Syifa sedang berada di situasi yang kesal dan marah
"Itu juga setelah loh berhenti gangguin gue" gerutu, Syifa yang menatap sinis, Luthfi
"Viona? Tanggung jawab loh karena sekarang buat, Luthfi sama, Syifa berantem" cetus, Risa yang sebenarnya ingin menengahi perdebatan kedua pasangan baru tersebut
"Viona sukses" timpal, Fahri yang tertawa. "Benar banget", Vigo pun ikut menimpalinya
"Untung mantan, Risa ngga ngehubungi dia", Viona tertawa karna berhasil membuat orang-orang yang masih berharap pada teman-temannya melihat isi postingannya
***
__ADS_1
"Ngga jadi main deh", Risa mencibikkan bibirnya karna pelayan sudah memanggil mereka untuk makan malam bersama
"Ayo" ajak, Luthfi dan semuanya pun mengikut untuk menuju meja makan
Suasana makan malam terasa sangat dingin. Ditambah guyuran hujan semakin membuat tubuh mereka menggigil satu-persatu
"Gue mau langsung tidur aja. Benaran deh, ini dinginnya ngga main-main" ujar, Risa yang menggosok-gosokkan kedua tangannya
"Sama. Tapi gue pengen dipeluk, Vigo aja" timpal, Viona yang sebenarnya hanya ingin menggoda, Risa
"Nikah aja loh sana" seru, Risa yang kesal
Viona tertawa karna berhasil membuat, Risa kesal. Vigo hanya menggeleng dan tersenyum . Sedang, Fahri, Luthfi dan Syifa terkekeh
"Udah ayo masuk kamar. Gue dingin banget disini" ajak, Vioan kepada, Risa
Risa dan Viona memasuki kamarnya. Vigo dan Fahri pun menyusul masuk ke kamar mereka. Begitpula dengan, Luthfi dan Syifa yang sudah masuk ke dalam kamar mereka
Ketika, Luthfi membuka pintu kamar, Syifa berlari naik ke atas tempat tidur dan meraih selimut yang super tebal untuk membalutkan ke seluruh tubuhnya yang sudah sangat menggigil
"Ngga mau ganti baju?" tanya, Luthfi yang menghampiri, Syifa yang sedang meringkuk dalam selimut karna kedinginan
Syifa menggeleng lemah dengan berusaha bernapas baik, karna hidungnya sedikit tersumbat
"Ya sudah. Ayo tidur", Luthfi ikut berbaring di samping, Syifa dan menarik selimut yang dipake, Syifa
"Gue mau tidur", Syifa memberikan penekanan pada setiap kata-katanya ketika, Luthfi sudah berbaring di sampingnya dan berbagi selimut bersama
Luthfi terkekeh, "Kan ini udah tidur sekarang" ujarnya yang mengulum bibirnya untuk tidak tertawa
"Maksud gue jangan ganggu tidur. Gue pengen tidur nyenyak" ketus, Syifa yang mencibir
"Bukannya tidur loh nyenyak kalau gue peluk?" goda, Luthfi yang menaikkan alisnya
"Ia kalau cuma peluk. Kalau minta lebih gimana?" gerutu, Syifa yang sudah mengerti arah pembicaraan, Luthfi kemana
"Sini", Luthfi meraih kepala, Syifa. "Peluk aja yah? Jangan yang lain?", Syifa tetap saja menerima tarikan, Luthfi untuk masuk ke dalam pelukannya
Luthfi tidak menjawab. Ia hanya menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka sampai ke leher.
"Luthfi?" rengek, Syifa karna tidak, mendapat jawaban dari, Luthfi.
"Kenapa?" tanya, Luthfi yang membuat, Syifa terdiam karna tidak mampu menjawab
"Luthfi?" panggil, Syifa pelan setelah hening beberapa saat lalu
"Hmm", Luthfi hanya berdehem karna memejamkan matanya
"Hmmm....", Syifa sedikit ragu, "Kalau gue hamil? Apa gue masih boleh kuliah?" tanya, Syifa dengan pelan lalu mendongak menatap, Luthfi
Luthfi menunduk dan mencium kening, Syifa. "Memangnya mau berhenti?" jawabnya dengan lembut
Syifa menggeleng dengan cepat, "Ngga mau. Masa baru masuk udah nyerah" rengek, Syifa
"Kalau gitu ngga usah berhenti" ucap, Luthfi
"Tapi kalau, perut gue besar gimana?" tanya, Syifa lagi untuk meastikan sebelum kejadian itu terjadi
"Ambil cuti kan bisa?" ujar, Luthfi yang memberi usulan kepada, Syifa yang masih ragu
__ADS_1
"Astaga!" teriak, Syifa menutup mulutnya, "Kok gue ngga mikir kesana yah?" girangnya. "Aaaaaa.... Makasih", Syifa memeluk tubuh, Luthfi dengan sangat erat saking senangnya
"Jadi sekarang boleh kan?"