Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Kamu mau kita pisah?


__ADS_3

Syifa tidak tau ada apa dengan perasaannya saat ini. Air matanya tidak berhenti mengalir dan ia sendiri tidak tau mengapa. Jantungnya seakan ingin remuk saat itu juga. Sekujur tubuhnya seperti ingin melumpuh. Ia baru pertama kali merasakan sesak pada dadanya yang seakan menguncang tubuhnya untuk hancur berkeping-keping.


Ia mengatur napasnya dan udara yang sangat sulit masuk dan keluar dari indra penciumannya. Perlahan ia merangkak naik ke tempat tidur dengan memaksakan kakinya untuk berjalan. Seperti sedang menyeret paksa tubuhnya yang begitu kaku


"Kenapa dengan jantung ku?" gumannya dengan isak tangis masih belum menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti. Sembari memegang dadanya yang terasa sakit, ia merebahkan tubuhnya dan tidur menyamping. Udara yang keluar masuk dari hidungnya terasa sangat berat.


"Ya tuhan. gue ngga kuat" gumannya yang memejamkan matanya secara paksa tatkala mendengar suara langkah kaki masuk ke dalam kamarnya.


Syifa sedikit terguncang dan merasakan seseorang berada di belakangnya saat ini. Namun ia tidak berniat membuka matanya dan menoleh ke belakang


"Syifa?", Luthfi yang baru saja menghampiri, Syifa memegang lengannya dengan lembut, "Udah tidur? Tadi katanya mau nunggu aku" ucapnya yang seakan tidak terjadi apapun


Syifa sekuat tenaga menahan isaknya karna tiba-tiba, Luthfi menghampirinya, dan kembali ia kembali mengingat kejadian tadi, ia melihat, Dinar yang memeluk dari belakang


"Syifa?" dengan lembut, Luthfi menyibak anak rambut, Syifa yang menutupi seluruh wajahnya. Bola mata, Luthfi nyaris keluar dari persembunyian ketika melihat wajah, Syifa sudah dipenuhi dengan air mata


"Syifa? Kamu kenapa?" wajah, Luthfi tampak panik dan memaksa, Syifa menghadap padanya.


Syifa sudah tidak lagi bisa menahan tangisnya yang sedari tadi ia tahan. Berulang kali ia menyeka air matanya sendiri namun tidak juga ada habisnya


"Syifa, kamu kenapa?" tanya, Luthfi yang benar-benar panik dengan perasaan khawatir


"Aku ngga apa-apa" jawab, Syifa disela-sela tangisnya. "Aku ngantuk. Mau tidur", ia hanya memeluk, Luthfi dan berharap lelaki itu tidak melihat wajahnya yang sedang dipenuhi air mata


"Syifa", Luthfi masih berusaha ingin melihat wajah, Syifa dan ingin bertanya lebih dalam


"Aku ngantuk", Syifa semakin menundukkan pandangannya


"Kamu kenapa nangis?", Luthfi benar-benar tidak kuasa menahan perasaannya yang kacau melihat, Syifa menangis


"Aku ngga apa-apa. Dan jangan lihat aku" ujar, Syifa sudah tidak tahan lagi untuk menumpahkan air matanya di pelukan, Luthfi. Suara tangisnya perlahan mulai terdengar. Untung saja, kamar mereka kedap suara, sehingga tetangga mereka tidak akan mendengar suaranya


"Aku mohon jangan nangis" suara, Luthfi bergetar mendengar isakan tangis, Syifa yang begitu pilu di telinganya, "Kamu kenapa?" ia membelai punggung dan kepala, Syifa dengan lembut


Syifa tidak lagi bisa menjawab. Air matanya mengalir deras dan tumpah begitu saja. Diiringi isak tangisnya yang semakin jelas terdengar pilu di telinga, Luthfi


Luthfi sekuat tenaga menahan perasaannya yang kacau. Dirinya tidak lagi bertanya dan kini sibuk menenangkan, Syifa meski dirinya pun tidak tenang


"Kamu lihat yah?", Luthfi tiba-tiba bersuara setelah beberapa detik lalu bungkam


Syifa tidak menjawab. Ia sibuk menyusun kata-kata, "Lihat apa?" tanyanya dengan suara parau


Luthfi berdehem, "Hmm. Ngga. Ngga apa-apa" sejujurnya ketakutannya saat ini adalah, Syifa melihat, Dinar memeluk dirinya. "Kamu ngga mau cerita sama aku?" tanyanya


Syifa menggeleng, "Ngga ada yang mau aku cerita sama kamu" ucapnya dengan tegas


"Kamu nangis dan kamu ngga mau cerita sama aku?" tanya, Luthfi yang nampak kecewa


"Ngga mau dan ngga ada" jawab, Syifa


"Kita pernah janji bukan? Setiap ada masalah harus cerita? Harus dengar penjelasan dan ngga langsung marah" tutur, Luthfi


"Tapi aku ngga lagi marah" ketus, Syifa

__ADS_1


"Kamu nangis. Artinya kamu ada masalah. Kamu ngga ingat? Mommy bilang harus saling cerita biar ngga ada salah paham?", Luthfi terus saja mengingatkan, Syifa tentang pesan Mommy mereka


"Selalu aja bawa-bawa nama Mommy" gerutu, Syifa dan Luthfi tersenyum. bahkan disituasi seperti ini, Syifa masih tidak melupakan pesan Mommynya


"Karna itu memang pesan Mommy" sahut, Luthfi


"Udah ah. Aku mau tidur", Syifa mendorong tubuh, Luthfi dan membelakanginya


"Beneran kamu ngga mau cerita?" bujuk, Luthfi


"Ngga mau" tolak, Syifa dengan tegas


"Kamu tau? Kenapa orang yang baru menikah banyak yang langsung pisah? Karna mereka ngga terbuka satu sama lain. Mereka memendam masalah mereka sendiri" ujar, Luthfi dan sukses membuat, Syifa menghadap padanya meski ragu. "Kamu mau hal itu terjadi sama rumah tangga kita?" lanjutnya dengan serius


Jantung, Syifa seakan terhenti mendengar kalimat terakhir, Luthfi. Apa maksudnya ia berbicara seperti itu? pikir, Syifa


"Maksud kamu apa ngomong gitu? Kamu mau kita pisah?" ucap, Syifa dengan hati-hati dengan jantung yang semakin mencekik dadanya ketika mengeluarkan perkataannya sendiri


Deg


Jantung, Luthfi seperti sedang menahan sesuatu yang begitu berat menghantam dadanya secara tiba-tiba ketika ucapan yang baru saja lolos dari mulut, Syifa terucap nyaris tidak terdengar


Hening


Hening


Tidak ada yang bersuara setelah beberapa menit bungkam. Mereka sibuk mengatur napas untuk mengatur sesuatu yang menancap pada dada mereka


"Aku juga ngga mau" guman, Syifa yang menunduk dan menahan butiran kristal di pelupuk matanya


"Tapi kenapa kamu nanya itu?" tanya, Luthfi yang sedikit bernapas lega mendengar jawaban, Syifa


"Karna aku pikir, kamu mau pisah sama aku" jawabnya yang masih belum berani mengangkat wajahnya


"Kenapa kamu mikir itu?", Luthfi mengangkat wajah, Syifa dengan kedua tangannya, "Dan kenapa kamu nangis lagi?" tanyanya


"Karna aku emang cengeng" sahut, Syifa dibarengi air matanya yang kembali tumpah. Namun, Luthfi merasa jawaban, Syifa lucu dan tersenyum tipis


"Kenapa kamu senyum-senyum" ketus, Syifa yang menyeka air matanya sendiri


Luthfi menggeleng dan tersenyum, "Ngga apa-apa. Hmmm" ia sejenak ragu untuk melanjutkan ucapannya, "Kamu lihat, Dinar meluk aku?" tanyanya dengan hati-hati


Syifa tidak langsung menjawab. Ia berusaha memalingkan wajahnya. Luthfi menghela napas panjang karna kini ia sudah menemukan jawabannya meski, Syifa tidak mengatakan apapun.


"Kamu ngga lihat selanjutnya kan?" tanya, Luthfi


"Apa? Aku kan belum jawab" ketus, Syifa


"Tapi aku tau jawabannya" sahut, Luthfi


"Dih", Syifa mendengus dan memutar malas bola matanya


"Harusnya kamu lihat sampai akhir"

__ADS_1


"Ngapain?"


"Biar kamu ngga salah paham"


"Aku ngga salah paham"


"Kamu salah paham. Kamu cuma lihat, Dinar meluk aku. Dan kamu ngga lihat lagi selanjutnya apa"


"Ngapain aku harus lihat selanjutnya? Jelas-jelas aku udah lihat Kak Dinar meluk kamu"


"Tapi aku ngga meluk dia"


"Tapi kamu relain tubuh kamu dipeluk dia"


"Hufth", Luthfi benar-benar mengacak rambutnya karna harus menyerah berdebat dengan, Syifa.


"Apa? Kenapa?" tanya, Syifa yang mengeraskan suaranya


"Aku ngga suka suara tinggi kamu" telur, Luthfi menatap lurus mata, Syifa


Syifa menjadi takut dengan tatapan, Luthfi yang seperti itu. Namun ia tidak memungkiri, bahwa ia sudah salah karna mengeraskan suaranya pada, Luthfi yang kini telah menjadi suaminya


"Ia. Maaf", ia menundukkan pandangannya


"Kamu tau kan maksud Mommy apa? Kenapa Mommy nyuruh kita untuk saling terbuka dan harus siap menjelaskan ketika ada masalah?" tanya, Luthfi yang sudah melunak dan membelai pipi, Syifa


Syifa menatap mata, Luthfi. Kemudian memalingkan wajahnya untuk berpikir. Sebenarnya ia tidak terlalu mengerti dengan ucapan Mommynya saat itu


"Kamu ngga ngerti kan?" tanya, Luthfi dan lagi Syifa mengangguk perlahan dan hati-hati.


"Ini yang Mommy maksud. Kalau ada masalah, kamu harus selalu cerita sama aku. kalau aku salah, kamu minta penjelasan sama aku. Kalau kamu liat aku seperti tadi, kamu harus lihat sampai akhir, supaya kamu ngga salah paham. Dan aku ngga mau lihat kamu nangis lagi seperti tadi. Kamu paham?" jelas, Luthfi dengan lembut


Syifa yang sudah berkaca-kaca mendengar penjelasan, Luthfi pun mengangguk pelan. Hatinya menghangat setelah mendengar penjelasan, Luthfi. Ia menyesali perbuatannya yang sempat meragukan, Luthfi ketika melihat, Dinar memeluk, Luthfi


*


*


*


*


*


*


*


*


Hai semuanya? Aku pengen cerita dikit. Jadi di eps ini, aku senjaga buat lebih ke konflik. Tapi gak tau kenapa, aku yang bikin alurnya, aku yang bikin ceritanya, tapi malah aku juga yang jadi nangis sendiri pass baca ulang. Aneh kan yah 😅 Serasa Aku ikut mengalami rasa sesak mereka 🤭


And, jangan lupa like dan beri tip yah 😊 Terima kasih yang sudah mendukung 🤗

__ADS_1


__ADS_2