
"Udah tenang kan? Ayo. Sekarang cerita versi loh" desak, Viona pada, Syifa setelah temannya itu baru saja selesai meneguk air dalam gelas
"Sabar sayang" cetus, Vigo
"Tau nih, Viona. Kayak lagi ada yang ngejar loh aja" seru, Risa
"Dih. Loh kan pasti udah tau ceritanya. Makanya bisa ngomong santai gitu" balas, Viona
"Malah berantem" tegur, Fahri
"Ngga berantem, ngga seru" ujar, Luthfi yang membuat, Syifa mencubit perutnya
"Kalau ngomong suka ngawur" ketus, Syifa
"Cerita deh, Fa. Sebelum, Viona ngambek" ledek, Vigo yang melirik, Viona
"Vigo" geram, Viona menatap tajam, Vigo
"Bercanda sayang" tukas, Vigo
"Suami takut istri nih nanti" ledek, Risa
"Bukan takut istri, Sa. Tapi menghargai istri" jawab, Vigo dengan lugas
"Hallah. Alasan loh doang itu mah" seru, Risa
"Berantem nih. Berantem" tegur, Fahri
"Udah. Gue juga mau dengar cerita, Syifa" sergah, Luthfi
"Tuh. Suaminya sendiri pengen dengar cerita dari istrinya. Udah diem dulu. Ngga usah berantem" cetus, Fahri
"Kenapa loh, Ri? Dari tadi marah-marah mulu perasaan" ucap, Syifa yang tertawa
"Biasa, Fa. Penuaan" tukas, Risa
"Sembarangan loh" seru, Fahri
"Nah kan. Sekarang giliran siapa yang berantem coba" ujar, Viona
"Ganti-gantian aja berantemnya. Biar sekalian, Syifa ngga jadi cerita" seru, Vigo
"Setuju gue, Go" sahut, Syifa dengan semangat
"Tapi aku ngga. Ok sekarang giliran kamu yang cerita. Aku bahkan belum pernah dengar juga sama sekali" tukas, Luthfi
"Mulai dari mana?" ketus, Syifa
"Pertama kali kenal, Luthfi" ujar, Viona
__ADS_1
"Pertama kenal?", Syifa mencoba mengingat, "Oh, ini sih. Awalnya, gue cuma tau namanya. Tapi ngga tau orangnya yang mana" jelasnya
"Lah? Gimana ceritanya", Vigo mengerutkan keningnya karna tidak mengerti
"Ia. Gue tuh awalnya ngga kenal sama sekali sama, Luthfi. Gue lebih duluan tau namanya, baru orangnya" tutur, Syifa
"Kebalik sama, Luthfi berarti yah" cetus, Fahri
"Apanya?" tanya, Luthfi
"Kalau loh kan, awalnya tau, Syifa secara langsung. Tapi ngga tau namanya" sayur, Fahri
"Oh ia" ucap, Luthfi
"Terus-terus? Kenapa loh bisa tau nama, Luthfi. Padahal loh ngga tau orangnya yang mana" seru, Viona
"Ngintrogasi nih, Viona" ledek, Risa
"Namanya juga penasaran" jawab, Viona
"Jadi kan gini. Setelah orientasi itu. Kan udah mulai aktif sekolah tuh. Gue duduknya bareng, Riana di depan waktu itu. Terus di belakang gue ada, Risa sama teman gue satu lagi. Namanya, Dewi. Nah, kan waktu itu sempat libur beberapa hari. Gue di chat teruskan sama nomor baru. Katanya kan, namanya, Luthfi. Karna gue ngga kenal kan, ya udah. Gue cuma balas-balas biasa aja. Kadang-kadang cuma ngeread doang" papar, Syifa
"Tapi itu bukan aku loh" cetus, Luthfi
"Aku belum selesai ngomong" seru, Syifa yang kesal ceritanya di potong
"Ayo loh, Fi" ujar, Risa yang tertawa
"Kan cuma meperjelas" sahut, Luthfi
"Ia udah tau. Diem dulu deh" perintah, Syifa
"Lanjut" cetus, Vigo dan Fahri
"Terus kan, gue penasaran tuh. Luthfi ini orangnya yang mana yah? Kok dia bisa dapat nomor gue gitu. Ya udah. Gue nanya sama, Risa. Cuma nomornya dia yang gue punya waktu itu. Tapi, Risa juga ngga tau orangnya yang mana kan. Terus pass hari masuk sekolah. Gue nanya sama, Riana. Kenal, Luthfi ngga dari kelas XX. Terus si, Riana ketawa-ketawa aja. Gue kan bingung jadinya" jelas, Syifa
"Paling di kerjain nih" cetus, Vigo
"Diem dulu, Vigo" tegur, Syifa
"Ok. Lanjut" sergah, Fahri
"Habis itu. Gue diluar kan berdiri gitu. Mengamati orang-orang yang jalan dari kelas gue dilantai dua. Terus, Riana nunjuk laki-laki yang berdiri gitu kan sambil ngeliatin teman-temannya lagi main bola. Riana bilang, itu tuh yang namanya, Luthfi. Akhirnya gue perhatiin terus kan. Terus gue cuma jawab oh doang waktu itu. tapi sebentarnya, gue lupa lagi orangnya yang mana. Terus, Riana nunjuk, Luthfi yang pake tas corak tengkorak gitu. Benar ngga?" tanya, Syifa pada, Luthfi untuk memastikan
"Ia", Luthfi mengangguk untuk membenarkan
"Jadi. Gue kan selalu lupa, Luthfi tuh yang mana. Karna banyak banget waktu itu yang postur badannya sama kayak, Luthfi. Gue bisa ngenalin, Luthfi kalau dia pake tas. Kalau ngga, gue selalu lupa. Soalnya kan gue ngga pernah lihat mukanya dari dekat. Selalu dari belakang gue lihatnya. Itu sampai seminggu gue perhatiin dia terus. Tapi tetap aja selalu gue lupa" tutur, Syifa
"Gimana mau ingat. Tiap kali lewat depan aku selalu nunduk" cetus, Luthfi
__ADS_1
"Kan aku malu. Ngga sama kamu aja. Sama semua laki-laki juga gitu kok" sahut, Syifa
"Terus, loh bisa ngenalin, Luthfi dari kapan?" tanya, Viona
"Kayaknya. Waktu, Luthfi tiba-tiba berdiri di samping gue pass hujan. Gue kan berteduh di pos satpam. Terus dia datang tiba-tiba. Gue bisa ngenalin dia karna pake tas" ujar, Syifa lalu tertawa
"Terus?" tanya, Fahri
"Gue waktu itu bingung dong. Kok dia ini ngga nyapa gue? Secara kan dia sering ngechat gue tuh. Ini malah dia diam-diam aja pass ketemu gue. Dia malu apa gimana gitu kan. Itu pertama kalinya banget gue bisa ngeliat dia secara dekat. Gue juga diem-diem aja. Ngga mau nyapa. Kan gengsi gue" tutur, Syifa
"Jadi loh ngga ada ngobrol apapun gitu?" tanya, Viona
"Ngga ada dan beruntung gue ngga ngomong apapun sama, Luthfi. Kalau gue nanya, malu banget gue pasti. Soalnya kan, besoknya gitu. Gue cerita ini ke, Risa sama Riana. Terus, Riana ketawa dan ngaku. Kalau selama ini, dia yang ngechat gue tapi pake nama, Luthfi. Gila ngga sih. Mana gue udah ge'er pula" ujar, Syifa
Suara tawa terdengar mendengar penuturan, Syifa yang sudah berbesar kepala
"Padahal udah perhatiin, Luthfi selama seminggu. Eh ternyata salah yah" seru, Viona
"Ia. Mana selama seminggu itu gue kek orang linglung mulu nyariin dia dari kejauhan" sahut, Syifa yang lagi-lagi membuat yang lainnya tertawa
"Pantas selalu celingak-celinguk" cetus, Luthfi yang mengusap rambut, Syifa
"Itu kan mulai tau dan kenal sama, Luthfi. Mulai sukanya kapan?" tanya, Vigo
"Tanya juga, Go. Sebelum suka sama, Luthfi. Suka sama siapa dulu" ledek, Risa
"Risa" geram, Syifa
"Risa nih. Senang bikin, Luthfi sama Syifa berantem" tegur, Fahri
"Jawab dulu aja pertanyaan, Vigo, Fa" cetus, Viona
"Gue ngga tau. Lupa. Mungkin karna udah terbiasa nyari dia terus dari jauh. Jadinya kecanduan" jawab, Syifa
"Terus jawaban dari pertanyaan, Risa?" tanya, Luthfi
"Ngga usah dengerin deh. Itu sih cowok yang disuka, Risa" sahut, Syifa
"Enak aja. Loh juga" seru, Risa
"Jelasin" ucap, Luthfi dengan tegas
"Sebenarnya gini. Dulu tuh. Pass awal ketemu, Riswal. Risa sama Riana jadi histeris" jelas, Syifa
"Dih. Loh juga yah" seru, Risa yang tidak ingin terus disalahkan
"Diam dulu. Gue belum selesai ngomong. Riswal kan selalu pakai jaket, dan itu keren banget. Ya udah, Risa tuh waktu itu yang paling pertama naksir, Riswal. Terus dia selalu ngomongin tentang, Riswal depan gue sama, Riana. Siapa yang ngga penasaran coba kan. Ya udah. Gue nanya kan orangnya yang mana? Risa langsung nunjuk, Riswal yang lagi main bola. Ya udah, gue ngakuin kalau emang style, Riswal itu keren. Udah gitu doang. Ngga sampe suka yang gimana-gimana" tutur, Syifa
"Beneran?", Luthfi menyipitkan matanya
__ADS_1
"Beneran. Ngga bohong aku", Syifa berusaha meyakinkan, Luthfi
"Takut nih, takut" ledek, Risa yang tertawa