
"Yes" seru, Fahri dan Celia yang kompak setelah kemenangan mereka pada penelitian pertama yang baru saja diumumkan. Kelompok, Reza berada diurutan kedua.
"Ini semua berkat, Syifa" puji, Fahri setelah mendapatkan penghargaan dari pembina mereka.
"Kok loh cuma nyebut nama, Syifa aja? Gue kan juga berada di kelompok ini" saut, Celia yang tidak terima jika, Fahri hanya menyebut nama, Syifa
"Emang loh ngebantuin, Syifa mikir? Ngga! Yang ada loh malah nyelakain dia" bantah, Fahri yang membuat kelompok, Reza menahan tawanya.
"Ngetawain siapa kalian?" seru, Celia kepada keempat orang tersebut yang sedang menahan tawanya
"Apa loh? Kita ketawa juga itu bukan urusan loh" bnetak, Risa yang tidak takut sama sekali kepada, Celia.
"Tau loh. Selama belum ada peraturan dilarang tertawa di bumi ini, kita masih berhak ketawa-ketawa" timpal, Viona dengan sewot.
"Udah-udah. Malah ngeladenin dia" sergah, Vigo yang melerai, Viona dan Risa.
"Lebih baik kita kembali ke tenda buat ngecek keadaan, Syifa" cetus, Reza dan semuanya setuju termasuk, Celia. Karna mau tidak mau, dia harus ikut.
Mereka bersama-sama berjalan kembali menuju tenda dimana, Luthfi dan Syifa berada, yang dibumbui tawa dan sedikit perdebatan yang tidak pernah absen dari mereka jika sudah berkumpul.
Luthfi dan Syifa yang masih berada di dalam tenda mendengar suara bising dari jauh. Mereka memasang pendengaran mereka dan akhirnya dengan jelas menangkap siapa yang sedang berjalan menuju tenda mereka.
Mereka berdua menghentikan pembicaraan ketika dengan jelas suara teman-temannya sudah berada di luar tenda. Dan tanpa aba-aba, teman-teman mereka langsung masuk ke dalam tenda.
"Permisi dulu kek, apa kek gitu. Ngga langsung nyelonong aja" sindir, Syifa saat kedua temannya, Risa dan Viona mendahului untuk masuk ke dalam tenda.
"Udah kek sama orang lain aja loh" protes, Risa yang duduk disebelah, Syifa.
"Kalau gue ngira maling gimana? Pengen loh gue timpuk sendal" celetuk, Syifa.
"Loh sakit, masih aja ngeselin yah? Heran gue" timpal, Viona yang menggeleng.
"Loh ngedoin gue ngga bisa ngomong? Jahat banget luh jadi teman" rengek, Syifa yang cemberut.
"Ngga usah ngedrama luh" seru, Risa yang sangat tau, Sifat sahabatnya ini.
"Apaan sih" ketus, Syifa.
"Jangan mulai, Syifa" titah, Luthfi. "Apa? Gue kan ngga ngomong sama loh" cemberut, Syifa yang melirik, Luthfi. Luthfi hanya mendesah dan memalingkan wajahnya.
"Loh pasti ngerepotin, Luthfi kan?" tanya, Celia dengan penuh selidik.
__ADS_1
"Loh yah. Datang-datang malah langsung nuduh" seru, Viona yang menunjuk, Celia yang duduk di dekat pintu tenda.
"Gue ngga nuduh tuh" saut, Celia yang merasa benar.
"Loh mau nyari gara-gara lagi?" tukas, Fahri yang berada di dekatnya.
"Gue ngga ngomong sama loh" seru, Celia yang menunjuk, Fahri dengan ekor matanya.
"Marcelia. Jangan berantem disini. Kasian, Syifa lagi sakit" tegur, Reza yang sedari tadi pusing mendengar pertengkaran keduanya, apalagi ditambah, Risa dan Viona.
"Loh diam dulu aja bisa ngga sih" timpal, Vigo.
"Kenapa kalian semua jadi nyalahin gue" protes, Celia yang tidak terima dirinya disalahkan.
"Udah!!!" seru, Luthfi hingga semuanya memilih membungkam.
sunyi
sunyi
"Oh ia, Fi. Penelitian kedua, besok akan dilanjutkan jam delapan pagi. Loh mau ikut ngga?" tanya, Fahri memecah keheningan.
"Harus lah, Luthfi kan anggota kelompok kita juga" cetus, Celia.
"Terus, Syifa gimana? Ngga mungkin kan gue ninggalin dia sendirian disini" ucap, Luthfi yang langsung melihat kearah, Syifa.
"Gue ngga apa-apa kok kalau sendiri" jawab, Syifa yang menggeleng yang menandakan dirinya baik-baik saja.
"Gue bisa kok nemenin loh" cetus, Reza. Semua mata tertuju padanya. "
Ngga bisa dong, Za. Loh kan ketua kelompok kita. Dan cuma loh yang waras di kelompok kita" seru, Risa yang membuat, Viona dan Vigo menatap tajam dirinya
"Barusan loh bilang apa? Cuma, Reza yang waras? Berarti loh nganggap gue sama, Vigo ngga waras gitu? Enak aja loh ngomong" protes, Viona dengan murka kepada, Risa. Padahal maksud, Risa tidak seperti itu. Namun, Viona menanggapinya dengan serius dan malah marah-marah kepadanya
"Yah kan emang benar" saut, Risa dengan penuh penekanan agar, Viona mengerti maksudnya. Namun, Viona sepertinya tak kunjung mengerti.
"Ngga yah. Loh aja yang ngga waras" titah, Viona yang jengkel. Fahri yang mengerti hanya berusaha menahan tawanya.
"Kenapa loh?", Vigo menyenggol lengan, Fahri dengan pelan.
"Cewek loh lambat banget ngerti kode, Risa" bisik, Fahri di telinga, Vigo saat kedua gadis tersebut masih berdebat.
__ADS_1
"Kode? Kode apa?" ujar, Vigo dengan pelan yang juga tidak mengerti.
"Loh sama lambatnya sama cewek loh. Itu kode supaya cuma, Luthfi yang ngejagain, Syifa. Bukan, Reza" bisik, Fahri dan langsung membulatkan mulutnya tanpa bersuara.
"Emang nih kita ngga waras" seru, Vigo yang membuat semua mata tertuju kepadanya. Risa dengan cepat menyadari kode, Fahri dan Vigo.
Ia menepuk paha, Viona dan menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya. Viona yang tadinya bingung namun, Risa dengan cepat menunjuk, Luthfi dengan ekor matanya hingga, Viona langsung mengerti.
"Telmi banget sih nih anak" guman, Risa yang menggeleng setelah, Viona akhirnya bisa mengerti maksudnya.
"Cinta emang bikin orang ngga waras" celetuk, Syifa kini semua mata malah tertuju kepadanya.
"Ngomong apa loh barusan? Gue ngga salah dengar? Bukannya loh juga pernah ngga waras" tawa, Risa langsung meledak bersamaan dengan raut merah pada pipi, Syifa. Luthfi menyipitkan matanya mencari arti perkataan, Risa namun ia tidak mendapatkan
"Makanya jangan ngatain orang. Kena batunya kan loh" timpal, Viona yang juga ikut tertawa. "Kayak loh tau aja" tegur, Risa di sela-sela tawanya.
"Biarin. Yang penting gue senang" saut, Viona yang masih tertawa.
"Biar, Luthfi yang ngejaga, Syifa besok" cetus, Vigo yang menghentikan tawa kedua gadis tersebut
"Setuju" jawab, Risa, Viona dan Fahri.
"Berarti besok kita cuma berdua doang dong. Ngga seru" celetuk, Celia yang kesal.
"Yah berempat lah sama bayangan loh berdua" saut, Viona lalu tertawa dan diikuti, Risa.
"Udah diem. Kalian berdua nih ribut banget dari tadi. Sana balik ke tenda kalian" seru, Syifa.
"Loh ngusir kita berdua?" tanya, Risa dengan tampan yang sok menyedihkan.
"Ngga usah ngedrama deh loh" bantah, Syifa yang langsung membuat, Risa tertawa.
"Ketahuan deh" timpal, Viona yang terkekeh.
"Mau balik ke tenda apa masih mau disini kalian berdua" seru, Vigo yang melerai kedua gadis tersebut.
"Ngga ngerti banget orang mau istirahat" ketus, Celia yang melipat kedua tangannya di atas perut.
"Hmmm. Ayo. Kita udah diusir" seru, Reza. Semuanya langsung terdiam.
"Gue tadi cuma bercanda loh, Za. Jangan diambil hati yah" ujar, Syifa kepada, Reza.
__ADS_1
"Ngga kok" jawab, Reza dengan tersenyum manis kepada, Syifa. Syifa pun membalas senyum, Reza dengan ikhlas.
"Jangan mulai" ketus, Luthfi dengan pelan hingga hanya, Syifa yang mendengar, Syifa langung mengulum bibirnya yang tadinya tersenyum menjadi menutupnya dengan rapat-rapat setelah, Luthfi bersuara.