Gadis Gengsi Dan Pria Cuek

Gadis Gengsi Dan Pria Cuek
Semua cewek itu baperan


__ADS_3

"Ngambekan" guman, Luthfi yang membalikkan badannya menghadap ke depan namun masih bisa di dengar oleh mereka


"Apa loh bilang barusan?", Viona menaikkan intonasi suaranya


"Astaga", Luthfi menggaruk keningnya menggunakan telunjuk jarinya


Tawa dari keempat temannya yang lain pecah saat melihat kepanikan di wajah, Luthfi yang barusan dimarahi oleh, Viona


"Salah loh ngomongnya disini", Vigo berusaha menahan tawanya sambil menepuk-nepuk pundak, Luthfi


"Nyebelin" gerutu, Viona


"Baper amat luh, Vi. Luthfi kan cuma bercanda" tukas, Syifa untuk mereda kejengkelan, Viona


"Ia lah loh belain. Orang dia pacar loh juga" guman, Viona dengan sangat pelan namun, Syifa, Vigo, Risa, Luthfi dan Fahri masih bisa mendengarnya


"Ngaco loh" seru, Syifa dengan kesal


"Akuin aja kenapa sih loh. Luthfi aja udah ngakuin" cetus, Viona


Keempat lainnya hanya terkekeh berusaha menahan tawa keras mereka yang hendak pecah. Jika saja ini bukan di dalam kelas, tentu mereka akan terbahak-bahak tanpa henti. Lain dengan, Syifa yang cemberut dengan ocehan temannya, sedang, Luthfi hanya terus memasang wajah datar cuek dingin miliknya meski sesekali dirinya ikut tersenyum tipis


"Ketawa aja kalian sampai puas" ketus, Syifa yang masih cemberut


"Baperan juga loh ternyata" ledek, Viona menahan senyumnya


"Syifa mah orangnya emang baperan" timpal, Risa yang juga menahan tawanya


"Asal ngga baper-baper amat ngga apa-apa" seru, Fahri dengan santai


"Semua cewek itu baperan" cetus, Vigo


"True", Luthfi membenarkan ucapan, Vigo


Tiga pasang mata menatap tajam kedua laki-laki yang menyebut semua cewek baperan. Hingga yang ditatap menjadi diam menunduk tak bersuara seperti kucing yang kena pukul


"Salah sih loh ngomong disini" tawa pelan dengan ledekan, Fahri tunjukkan kepada, Luthfi dan Vigo


"Eh, dosen datang" imbuhnya


Mereka akhirnya menatap ke depan saat dosen sudah masuk ke kelas. Proses belajar pun berlangsung. Karna ini adalah mata kuliah 'Penelitian Penulisan Sastra Indonesia', dosen membagi kelompok untuk penelitian tersebut


"Satu kelompok hanya ada dua orang. Karna ini hanya penelitian penulisan kata yang tidak tepat dalam buku, jadi tidak perlu terlalu banyak orang yang berpartisipasi. Kalian hanya mencatat dimana letak kesalahannya, terdapat pada halaman berapa, judul bukunya apa, serta penulisnya siapa" tutur, dosen tersebut


"Kelompoknya ditentuin sendiri atau bapak yang tentuin?" cetus salah satu dari mereka


"Bapak yang akan menentukan. Karna jika kalian yang menentukan sendiri, bapak yakin, orang yang pintar akan berkumpul dengan sesamanya hingga yang tingkat kepintarannya standar, mereka akan mengeluh" papar dosen tersebut


"Baik, jadi bapak akan mengacak. Dalam kelompok ini, selang seling. Jadi tidak bisa sesama jenis. Biasanya jika sekelompok dengan sesama jenis, kebanyakan hanya main-main" imbuhnya


"Bapak tau aja" celoteh yang lainnya


Pembagian kelompok pun diacak oleh dosen mereka. Syifa satu kelompok dengan, Reza. Viona dengan, Fahri, Vigo dengan, Celia. Serta, Luthfi dengan, Risa. Luthfi menghela nafas saat tau, Syifa sekelompok dengan, Reza. Sementara, Syifa hanya biasa-biasa saja meski sebenarnya ia ingin sekali sekelompok dengan, Luthfi, namun ia merasa lega karna, Risa lah yang menjadi kelompok, Luthfi. Reza terlihat sangat senang ketika dirinya dinyatakan sekelompok dengan, Syifa.


"Ingat. Dua hari lagi, semuanya sudah harus lengkap catatannya. Usahakan diatas 10 catatan kesalahan. Mengerti?" ujar dosen


"Mengerti pak" semua berseru


Dosen pun sudah keluar menyudahi jam kuliah mereka. Saat dosen sudah tidak terlihat lagi, Reza menghampiri, Syifa yang masih sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas


"Syifa?" panggil, Reza


"Ia?", Syifa menghentikan aktivitasnya untuk menengok kearah, Reza


"Ke perpustakaan yuk" ajak, Reza


"Perpustakaan? Ngapain?" tanya, Syifa polos


Satu sentilan mendarat di pelipis, Syifa. "Pikun atau amnesia sih loh? Reza mau ngerjain tugas kelompok kalian. Kalian kan satu kelompok" dengus, Risa malas


"Oh. Ia maaf" ucap, Syifa salah tingkah


Reza hanya tersenyum manis kepada, Syifa. "Mau sekarang atau nanti aja kerjanya?" tanya, Reza


"Hmm? Hmmmm", Syifa menoleh kearah, Risa lalu menghadap kebelakang kearah, Viona. "Ngga apa-apa kan kalau hari ini gue ngga gabung sama kalian?" tanya, Syifa


"Ngga apa-apa" jawab mereka


"Jagain teman gue yah, Za" seru, Risa


"Pasti", Reza menjawab dengan mantap


"Mulai deh" gerutu, Syifa kepada, Risa

__ADS_1


"Pulangnya jangan malam-malam yah" tukas, Viona


Syifa mendengus kesal. Reza hanya tersenyum menanggapi ocehan kedua sahabat, Syifa. Luthfi terlihat mengalihkan pandangannya. Syifa sekilas melirik, Luthfi sebelum hendak pergi


"Gue duluan yah. Kabarin gue kalau loh pulang duluan yah" ucap, Syifa kepada, Risa


"Ia. Hati-hati" jawab, Risa


Syifa dan Reza berjalan keluar kelas meninggalkan kelima temannya yang masih tidak bergeming dari tempat duduk mereka masing-masing


"Langsung ke perpus kan kita?" tanya, Reza saat mereka berjaan


"Memangnya mau kemana lagi kita", Syifa terkekeh


"Siapa tau loh mau makan atau minum dulu" ucap, Reza melirik, Syifa


"Ngga kok. Tadi gue udah sarapan" jawab, Syifa yang tersenyum kearah, Reza


**


"Luthfi? Mau ke perpus sekarang ngga?" tanya, Risa


"Gue ada beberapa koleksi buku penulis lama" jawab, Luthfi


"Oh ya? Ya udah ayo kita kerja sekarang aja biar ngga lama" semangat, Risa mulai membara


"Bukunya dirumah gue" ucap, Luthfi menoleh kearah, Risa


"Terus kita harus kerumah loh gitu? Jauh amat" gerutu, Risa


"Rumah yang gue tinggalin sekarang", Luthfi memperjelas


"Oh. Kirain. Hehe", Risa merasa malu


"Makanya nanya dulu dong loh" seru, Viona


"Selow dong. Ngga usah nyolot" kesal, Risa


"Udah. Ayo" ajak, Luthfi menyudahi keributan dua gadis tersebut


"Kerumah loh?" kening, Risa berkerut


"Terus loh maunya dimana?" ujar, Luthfi yang sudah berdiri


"Di rumah gue aja deh" cetus, Risa


"Beneran?" mata, Risa berbinar-binar, Luthfi mengangguk


"Ya udah kalau gitu. Viona? Loh mau ngerjain tugas loh dimana?" tanya, Risa kepada, Viona


"Ngga tau gue. Fahri, mau ngerjain ini dimana?", Viona bertanya ulang kepada, Fahri


"Gue punya kenalan yang punya salah satu toko buku. Kita mungkin bisa kesana" ujar, Fahri


"Ok", Viona menaikkan jarinya membentuk huruf OK


"Jagain cewek gue, Ri" cetus, Vigo


"Fahri mah ngga bakalan ngapa-ngapain gue. Loh tuh yang harus jagain mata loh, teman kelompok loh cantik" seru, Viona


"Tenang aja", Vigo hanya tersenyum kepada, Viona


"Vigo? Ayo ke toko buku" ajak, Celia yang tiba-tiba sudah berdiri disamping, Vigo


"Ngga sabaran banget loh" ketus, Viona


Celia tidak menjawab, ia hanya memutar malas bola matanya. Enggang melayani, Viona yang punya tingkat emosi tinggi


Vigo hanya tersenyum mengusap kepala, Viona dengan lembut. "Ngga apa-apa. Aku pergi yah", Vigo mencium puncak kepala, Viona sebelum pergi


"Astaga", Risa berteriak sambil menutup matanya dengan kedua tangannya. "Mata gue ternodai"


"Ngapain loh teriak-teriak sih. Bikin malu aja" gerutu, Viona


"Kalian tuh. Jaga sikap kalian depan gue bisa ngga sih? Kesal gue" ketus, Risa dengan mencibir


"Alay loh. Kayak loh ngga pernah aja" tukas, Viona


"Risa kan jomblo" ucap, Luthfi tiba-tiba


Suara tawa dari mereka pun kembali tercipta. Viona begitu senang dan terpingkal-pingkal dengan ucapan, Luthfi yang membuat, Risa terus mencibir dengan kesal


"Tenang, Sa. Fahri juga jomblo" goda, Vigo disela-sela tawanya

__ADS_1


"Kenapa jadi bawa-bawa gue" sahut, Fahri yang namanya disebut-sebut


"Kalian cocok" timpal, Viona dengan tawanya


Saking kesalnya, Risa meraih tasnya lalu berlalu meninggalkan mereka dalam keadaan kesal. Viona memanggi-manggilnya namun, Risa tidak menghiraukan mereka


**


"Ini kurang koma disini deh kayaknya", Syifa menunjuk salah satu barisan pada buku dihadapannya


"Mana? Coba sini lihat", Reza mendekatkan wajahnya ke wajah, Syifa


"Ini", Syifa menggeser sedikit buku tersebut agar, Reza tidak terlalu dekat dengannya


"Oh ia benar. Catat, Fa" perintah, Reza


"Ok", Syifa mencatat kesalahan pada buku tersebut, halaman buku tersebut, judul bukunya serta penulis buku tersebut


"Catat semua aja dulu yang loh dapat, Fa. Nanti kita sesuaikan" ujar, Reza, Syifa hanya mengangguk


**


Tok tok


Risa berjalan kearah pintu lalu membuka knop pintu tersebut. Ternyata yang datang adalah, Luthfi


"Masuk", Risa mempersilakan, Luthfi masuk


"Syifa belum kembali?" tanya, Luthfi saat melihat hanya, Risa disana


"Belum" jawab, Risa. "Tunggu disini yah? Gue mau ke kamar dulu ngambil beberapa buku gue juga", Luthfi hanya mengangguk sebelum, Risa berlalu


**


"Viona?" panggil, Fahri saat mereka sudah berada di toko buku


"Apa?" jawab, Viona yang menoleh kearahnya


"Loh cari disebelah sana yah?", Fahri menunjuk rak buku yang berada di ujung. "Disitu banyak buku-buku penulis lama. Soalnya gue mau nyari penulis yang baru-baru ini"


"Siip", Viona menaikkan jempolnya


"Nanti kalau loh udah dapat, loh duduk disitu yah", Fahri menunjuk bangku kosong paling ujung. "Nanti gue nyusul kesana"


"Siap boss", Viona menaikkan kelima jarinya tanda hormat


Fahri hanya tersenyum, karna memang ia sudah lama mengenal, Viona. Jadi, Fahri sudah sangat tau sifat kekanak-kanakan, Viona, apalagi jika sudah bersama, Vigo


**


"Gue udah nyelesain lima. Mana yang loh kerja?" tanya, Vigo kepada, Celia


"Bentar. Gue baru selesai tiga" jawab, Celia tanpa melihat, Vigo


"Lama banget loh" seru, Vigo


"Bisa ngga sih loh diam dulu" tukas, Celia kesal. Vigo hanya menaikkan kedua bahunya


**


"Luthfi? Ini udah benar ngga sih?", Risa menyerahkan hasil kerjanya kepada, Luthfi


Luthfi menerima buku tersebut. "Ia. Ini sudah benar. Loh istirahat aja, sisanya biar gue yang kerja" sahut, Luthfi


"Benar?", Risa tampak semangat, Luthfi hanya mengangguk tanpa menoleh


"Ok. Thanks", Risa melebarkan senyumnya lalu memainkan ponsel miliknya


**


" Selesai" ucap, Syifa yang merenggangkan otot-ototnya yang kaku


Reza hanya tersenyum sambil membereskan buku-buku tersebut diatas meja. Penjaga perpustakaan tidak membiarkan mereka mengembalikan buku tersebut jika sudah dipakai, karna biasanya buku akan disimpan disembarang rak hingga bercampur dengan buku lain


"Mau langsung pulang?" tanya, Reza menoleh kearah, Syifa


Syifa hanya mengangguk. "Ia nih. Gue pengen istirahat"


"Makan dulu yuk. Gue yang traktir" ajak, Reza


"Hmmm. Boleh. Ayo", Syifa meraih tasnya lalu berdiri


Reza tersenyum puas saat, Syifa menerima ajakannya untuk makan bersama

__ADS_1


"Tapi gue yang milih tempatnya ngga apa-apa kan?", Syifa tersenyum jahil kepada, Reza


"Ia", Reza membalas senyum, Syifa.


__ADS_2